INBERITA.COM, YOGYAKARTA – Aktivitas vulkanik Gunung Merapi kembali menunjukkan peningkatan. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mengimbau masyarakat di sekitar lereng gunung untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya guguran lava dan awan panas.
Berdasarkan laporan aktivitas terkini pada Kamis (30/10/2025) pukul 00.00–06.00 WIB, status Merapi masih berada di Level III atau Siaga.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, menyampaikan bahwa potensi bahaya saat ini mencakup sektor selatan hingga barat daya Gunung Merapi.
Sejumlah aliran sungai di kawasan tersebut dinilai berpotensi menjadi jalur luncuran material vulkanik, baik berupa lava pijar maupun awan panas guguran.
“Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan-barat daya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal lima kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal tujuh kilometer,” jelas Agus dalam keterangan resminya, Kamis (30/10/2025).
Selain di sisi barat daya, sektor tenggara Merapi juga masuk dalam area berisiko tinggi. Menurut Agus, potensi ancaman mencakup aliran Sungai Woro sejauh maksimal tiga kilometer dan Sungai Gendol hingga lima kilometer dari puncak kawah.
Ia menegaskan, lontaran material vulkanik akibat letusan eksplosif dapat menjangkau radius hingga tiga kilometer dari kawah utama.
Dalam laporan pengamatan periode tersebut, BPPTKG mencatat 29 kali gempa guguran dan 14 kali gempa hybrid atau fase banyak.
Selain itu, teramati tujuh kali guguran lava pijar yang mengarah ke barat daya atau ke arah Kali Sat/Putih dengan jarak luncur mencapai 1.800 meter.
Cuaca di sekitar puncak dilaporkan cerah, disertai asap kawah putih bertekanan lemah setinggi 100–200 meter di atas puncak.
Agus mengungkapkan, hasil pemantauan terbaru menunjukkan suplai magma ke permukaan masih berlangsung. Kondisi tersebut berpotensi memicu awan panas guguran yang bisa terjadi sewaktu-waktu di area rawan bahaya.
“Masyarakat diimbau agar tidak melakukan aktivitas apa pun di daerah potensi bahaya dan tetap mewaspadai lahar maupun awan panas guguran terutama saat hujan di sekitar Gunung Merapi,” tegasnya.
Selain potensi awan panas dan lava pijar, BPPTKG juga meminta warga untuk mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik yang dapat terjadi sewaktu-waktu jika aktivitas Merapi meningkat.
Abu vulkanik dapat mengganggu jarak pandang, mencemari sumber air, dan berdampak pada kesehatan pernapasan masyarakat di sekitar lereng.
BPPTKG menegaskan akan terus memantau aktivitas vulkanik Merapi secara intensif. Jika terjadi peningkatan yang signifikan, status aktivitas gunung api tersebut akan segera ditinjau kembali.
Gunung Merapi, yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, dikenal sebagai salah satu gunung api paling aktif di Indonesia.
Aktivitas vulkaniknya yang tinggi membuat kawasan sekitarnya kerap mengalami perubahan kondisi secara cepat.
Karena itu, masyarakat di wilayah Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten diimbau untuk terus memantau informasi resmi dari BPPTKG maupun instansi kebencanaan setempat.
Dalam beberapa tahun terakhir, Merapi memang menunjukkan pola erupsi efusif dengan dominasi guguran lava dan awan panas guguran.
Meski tidak selalu disertai letusan besar, aktivitas seperti ini tetap berpotensi menimbulkan bahaya serius jika terjadi peningkatan volume material atau cuaca ekstrem yang memicu lahar hujan.
Agus menekankan bahwa seluruh aktivitas pendakian maupun kegiatan masyarakat di zona bahaya sementara masih dilarang.
Jalur wisata alam yang berada di radius berisiko juga disarankan untuk ditutup sementara guna menghindari risiko bencana mendadak.
“Keselamatan warga adalah prioritas utama. Kami mengingatkan agar masyarakat tidak lengah dan selalu memperhatikan imbauan dari BPPTKG serta instansi terkait,” kata Agus.
Pihaknya juga mengingatkan masyarakat untuk menjaga kesiapsiagaan, terutama pada musim hujan yang berpotensi memperbesar risiko aliran lahar di sepanjang enam sungai utama yang berhulu di puncak Merapi, yakni Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, Woro, dan Gendol.
Dengan kondisi suplai magma yang masih aktif dan data seismik yang menunjukkan pergerakan material terus berlangsung, Gunung Merapi diperkirakan akan tetap berada pada fase aktivitas tinggi dalam waktu dekat.
Masyarakat diharapkan tetap tenang namun waspada, serta tidak terpancing informasi yang belum diverifikasi secara resmi.
Gunung Merapi, dengan segala aktivitasnya, menjadi pengingat kuat tentang pentingnya mitigasi dan kesadaran bencana di kawasan rawan erupsi.
Upaya koordinasi antara BPPTKG, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pemerintah daerah, dan relawan kebencanaan akan menjadi faktor kunci untuk meminimalkan dampak jika aktivitas Merapi kembali meningkat. (mms)







