INBERITA.COM, Gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,0 mengguncang wilayah Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Selasa (21/4/2026) siang.
Guncangan tersebut dirasakan di sejumlah daerah dan sempat menimbulkan kekhawatiran warga, meski dipastikan tidak berpotensi tsunami.
Berdasarkan laporan resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, pusat gempa berada di laut dengan jarak sekitar 67 kilometer arah barat laut Timor Tengah Utara.
Gempa terjadi pada kedalaman 31 kilometer, yang tergolong sebagai gempa dangkal dan berpotensi dirasakan cukup luas.
“Gempa ini tidak berpotensi tsunami,” tulis BMKG dalam keterangannya.
Gempa terjadi pada pukul 10.17 WIB dan langsung dirasakan oleh masyarakat di berbagai wilayah di NTT. Intensitas guncangan bervariasi, dengan wilayah Atambua menjadi daerah yang merasakan getaran paling kuat.
Di Atambua, gempa tercatat mencapai skala III-IV MMI (Modified Mercalli Intensity), yang berarti getaran dirasakan oleh banyak orang di dalam rumah, bahkan sebagian orang di luar ruangan.
Pada tingkat ini, benda-benda seperti gerabah dapat pecah dan pintu atau jendela dapat berderit akibat getaran.
Selain itu, wilayah Maumere juga merasakan guncangan dengan skala III MMI. Pada level ini, getaran terasa nyata di dalam rumah, seperti adanya kendaraan berat yang melintas di sekitar bangunan.
Sementara itu, sejumlah wilayah lain seperti Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Kefamenanu, Malaka, Soe, Lembata, Larantuka, Alor, hingga Ende mengalami guncangan dengan skala II-III MMI.
Pada skala II, getaran hanya dirasakan oleh beberapa orang dan benda ringan yang digantung terlihat bergoyang. Sedangkan pada skala III, getaran sudah terasa cukup jelas di dalam ruangan.
Meskipun gempa terasa cukup luas, hingga saat ini belum ada laporan resmi mengenai kerusakan bangunan maupun korban jiwa akibat peristiwa tersebut.
Aparat dan instansi terkait masih terus melakukan pemantauan dan pendataan di lapangan untuk memastikan kondisi terkini.
BMKG juga mencatat adanya gempa susulan yang terjadi tidak lama setelah gempa utama. Pada pukul 10.48 WIB, gempa susulan dengan kekuatan magnitudo 2,4 kembali terjadi di wilayah yang sama.
Kendati kekuatannya relatif kecil, gempa susulan tetap menjadi perhatian karena dapat memicu kepanikan di masyarakat, terutama bagi warga yang berada di daerah dengan intensitas guncangan cukup tinggi.
BMKG pun mengimbau masyarakat agar tetap tenang namun waspada terhadap kemungkinan gempa susulan yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
“Hati-hati terhadap gempa bumi susulan yang mungkin terjadi,” tulis BMKG.
Wilayah Nusa Tenggara Timur sendiri merupakan salah satu daerah yang rawan gempa karena berada di jalur pertemuan lempeng tektonik aktif.
Aktivitas seismik di kawasan ini cukup tinggi, sehingga kejadian gempa seperti ini bukan hal yang sepenuhnya asing bagi masyarakat setempat.
Meski demikian, kesiapsiagaan tetap menjadi kunci dalam meminimalkan risiko. Warga diimbau untuk selalu mengikuti informasi resmi dari BMKG dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi.
Selain itu, masyarakat juga diingatkan untuk memahami langkah-langkah keselamatan saat terjadi gempa, seperti menjauhi bangunan yang berpotensi roboh, tidak panik, serta segera menuju tempat terbuka jika memungkinkan.
Dengan kondisi yang masih dinamis, pihak berwenang terus memantau perkembangan aktivitas seismik di wilayah tersebut. Informasi terbaru akan terus diperbarui guna memastikan masyarakat mendapatkan data yang akurat dan dapat diandalkan.