INBERITA.COM, PT Garuda Indonesia Tbk (Persero), maskapai pelat merah yang masih berjibaku keluar dari tekanan finansial pascapandemi, kembali mencatatkan kerugian signifikan.
Sepanjang semester pertama 2025, Garuda membukukan rugi bersih sebesar US$ 142,8 juta atau setara Rp 2,3 triliun (dengan asumsi kurs Rp 16.646 per dolar AS).
Angka ini meningkat tajam dibandingkan rugi bersih Rp 1,6 triliun yang diderita pada periode yang sama tahun lalu.
Informasi tersebut terungkap dalam laporan keuangan semester I-2025 yang dirilis oleh perusahaan berkode saham GIAA di Bursa Efek Indonesia pada Selasa, 23 September 2025.
Dalam laporan tersebut, terlihat bahwa penurunan kinerja keuangan Garuda turut dipengaruhi oleh merosotnya pendapatan perusahaan dari Rp 26,6 triliun menjadi Rp 24,9 triliun.
Penurunan ini menjadi cermin tantangan struktural yang belum sepenuhnya berhasil diatasi oleh manajemen Garuda Indonesia.
Secara rinci, pendapatan Garuda pada paruh pertama tahun ini ditopang oleh kontribusi dari penerbangan berjadwal sebesar Rp 19,9 triliun, penerbangan tidak berjadwal Rp 3,4 triliun, dan sumber lain-lain sebesar Rp 2,6 triliun.
Sementara itu, sisi kewajiban korporasi masih menunjukkan beban berat. Total liabilitas Garuda Indonesia tercatat sebesar Rp 133,2 triliun, berbanding jauh dengan ekuitas perusahaan yang hanya sebesar Rp 23,3 miliar.
Jumlah total aset Garuda pun turun menjadi Rp 108,2 triliun, lebih rendah dibandingkan Rp 109,9 triliun pada semester I-2024.
Di tengah tekanan tersebut, Garuda Indonesia tetap melanjutkan langkah ekspansi dan pemulihan. Salah satu upaya tersebut adalah penambahan armada pesawat baru.
Direktur Niaga Garuda Indonesia, Reza, menyatakan bahwa pihaknya menargetkan penambahan tujuh armada sepanjang 2025.
“Ini merupakan penambahan pesawat terbanyak Garuda Indonesia pascapandemi,” ujarnya dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi VI DPR pada Senin, 22 September 2025.
Hingga saat ini, lima unit pesawat baru telah resmi masuk ke jajaran armada Garuda Indonesia, sehingga total armada yang dimiliki perusahaan mencapai 78 unit.
Penambahan ini menjadi bagian dari strategi pemulihan yang tengah dijalankan perseroan untuk memperkuat operasional sekaligus meningkatkan daya saing di pasar penerbangan yang mulai kembali kompetitif.
Reza menambahkan, dampak pandemi Covid-19 sepanjang 2020 hingga 2021 benar-benar memukul industri penerbangan nasional.
Ia mengungkapkan bahwa pada 2021, tingkat keterisian kursi atau seat load factor Garuda Indonesia anjlok drastis hingga hanya mencapai 31 persen.
“Angka tersebut turun drastis dibandingkan 2019 dengan tingkat seat load factor mencapai 74 persen,” kata Reza.
Tak hanya dari sisi keuangan, pandemi juga memengaruhi aspek operasional maskapai. Reza menjelaskan, terbatasnya rantai pasok suku cadang menyebabkan banyak pesawat Garuda harus berhenti beroperasi sementara atau grounded.
Kondisi ini memperparah situasi keuangan perusahaan dan menambah beban biaya pemeliharaan serta operasional.
Menghadapi tekanan dan tuntutan perubahan, Garuda Indonesia kini mengusung strategi pemulihan menyeluruh yang berbasis pada tiga pilar utama.
Pilar pertama adalah evaluasi menyeluruh dari sisi finansial dan komersial, dengan fokus pada efisiensi biaya dan penerapan prinsip cost leadership demi mewujudkan ekuitas yang kembali positif.
Pilar kedua menitikberatkan pada akselerasi kinerja pasca-PKPU (Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang), melalui transformasi operasional dan restrukturisasi internal.
Sementara itu, pilar ketiga diarahkan pada ekspansi jaringan dan penguatan armada. Termasuk di dalamnya, pengembangan kerja sama dengan maskapai internasional serta penguatan ekosistem aviasi melalui sinergi dengan Citilink, PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMF), dan Injourney Group.
Dengan strategi tersebut, Garuda Indonesia berharap dapat bangkit dari tekanan berkepanjangan yang masih menghantui industri penerbangan nasional.
Namun, dengan tantangan finansial yang masih menumpuk dan daya saing industri yang makin tajam, upaya pemulihan maskapai pelat merah ini akan sangat ditentukan oleh konsistensi eksekusi strategi serta respons pasar dalam beberapa kuartal mendatang. (mms)