INBERITA.COM, Suasana kawasan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat pada Senin malam, 9 Maret 2026, tampak berbeda dari biasanya.
Ratusan orang berjalan beriringan membawa obor, lampion, dan jodang berisi makanan dalam sebuah kirab budaya yang menjadi bagian dari tradisi Malam Selikuran.
Ritual tahunan ini kembali digelar untuk menyambut malam ke-21 Ramadan, yang dalam kepercayaan masyarakat Jawa memiliki makna spiritual mendalam.
Tradisi Malam Selikuran di Kota Solo dikenal sebagai salah satu ritual budaya dan keagamaan yang terus dijaga keberlangsungannya oleh Keraton Kasunanan Surakarta.
Prosesi tersebut digelar secara turun-temurun sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai spiritual Ramadan, sekaligus menjadi simbol harapan untuk bertemu dengan malam Lailatul Qadar.
Pada pelaksanaan tahun ini, prosesi Malam Selikuran digelar melalui dua kirab berbeda yang diselenggarakan oleh pihak internal keraton dengan rute masing-masing. Meski sempat diguyur gerimis, rangkaian kirab tetap berlangsung khidmat.
Cahaya obor yang menyala di sepanjang perjalanan menciptakan nuansa sakral sekaligus menarik perhatian warga yang memadati jalur kirab untuk menyaksikan tradisi tersebut.
Kirab pertama diselenggarakan oleh Lembaga Dewan Adat Keraton. Rombongan dipimpin oleh GKR Wandansari atau yang akrab disapa Gusti Moeng bersama KPH Eddy Wirabhumi. Mereka memulai perjalanan dari kompleks keraton sekitar pukul 20.45 WIB.
Barisan kirab diawali oleh prajurit keraton yang mengenakan busana tradisional khas. Di belakangnya menyusul para peserta yang membawa obor, lampion, serta jodang berisi makanan. Rombongan kemudian berjalan mengelilingi kawasan Baluwarti sebelum menuju Masjid Agung Surakarta.
Sepanjang rute kirab, warga terlihat antusias menyaksikan prosesi tersebut. Obor-obor yang dibawa peserta menerangi jalur kirab, menciptakan suasana khas yang selalu menjadi daya tarik setiap kali tradisi Malam Selikuran digelar.
KPH Eddy Wirabhumi menjelaskan bahwa tradisi Malam Selikuran dilaksanakan dengan merujuk pada sistem penanggalan Jawa yang berasal dari kalender warisan Sultan Agung Mataram.
“Kami berharap melalui pelaksanaan ibadah di malam selikur ini dapat bertemu dengan Lailatul Qadar,” ujar Eddy di sela kegiatan, Senin (9/3/2026) malam.
Dalam prosesi kirab tersebut, turut dibawa Tumpeng Sewu yang ditempatkan dalam delapan ancak atau wadah besar. Tumpeng yang berisi berbagai makanan tersebut kemudian didoakan sebelum akhirnya dibagikan kepada masyarakat yang hadir.
Pembagian Tumpeng Sewu kepada warga dimaknai sebagai simbol berbagi berkah Ramadan. Tradisi ini sekaligus mencerminkan nilai kebersamaan dan kepedulian sosial yang menjadi bagian dari filosofi budaya Jawa.
Selain kirab dari Lembaga Dewan Adat, prosesi Malam Selikuran juga digelar oleh pihak Pakubuwono XIII dengan rute yang berbeda.
Rombongan memulai perjalanan dari kawasan keraton, kemudian melintas melalui area Pagelaran dan bergerak menuju Taman Sriwedari.
Dua prosesi tersebut menunjukkan bagaimana tradisi Malam Selikuran tetap dijaga keberlangsungannya oleh berbagai unsur di lingkungan keraton.
Meskipun memiliki jalur kirab yang berbeda, keduanya tetap membawa pesan yang sama, yakni menyambut malam istimewa di bulan Ramadan.
Pengageng Parentah Keraton Solo, KGPH Adipati Panembahan Dipokusumo, menjelaskan bahwa tradisi Malam Selikuran memiliki akar sejarah panjang dalam perjalanan Keraton Surakarta.
“Malam selikur dimaknai sebagai simbol turunnya Lailatul Qadar. Dalam budaya Jawa diwujudkan melalui Tumpeng Sewu yang melambangkan malam seribu bulan,” jelasnya.
Menurutnya, tradisi tersebut sudah berlangsung sejak masa pemerintahan Pakubuwono X. Sejak saat itu, Malam Selikuran menjadi salah satu ritual penting yang selalu digelar setiap Ramadan di lingkungan Keraton Surakarta.
Ritual ini tidak hanya memiliki nilai religius, tetapi juga menjadi bagian dari warisan budaya yang terus dijaga oleh masyarakat Solo.
Prosesi kirab obor, pembacaan doa, hingga pembagian tumpeng menjadi rangkaian yang menggambarkan perpaduan antara nilai Islam dan tradisi Jawa.
Selain sebagai ritual spiritual, tradisi Malam Selikuran juga memiliki potensi besar dalam mendukung pariwisata budaya di Kota Solo. Setiap tahunnya, acara ini selalu menarik perhatian masyarakat dan wisatawan yang ingin menyaksikan secara langsung keunikan tradisi tersebut.
Dipokusumo berharap tradisi yang telah berlangsung selama ratusan tahun ini tidak sekadar menjadi ritual budaya semata, tetapi juga mampu memberi manfaat bagi masyarakat luas.
Ia juga menilai bahwa keberadaan tradisi Malam Selikuran dapat memperkuat identitas budaya Solo sekaligus meningkatkan daya tarik wisata kota tersebut, khususnya selama bulan Ramadan.
Dengan tetap dilaksanakannya tradisi Malam Selikuran setiap tahun, Keraton Kasunanan Surakarta menunjukkan komitmennya dalam menjaga warisan budaya leluhur.
Kirab obor, Tumpeng Sewu, serta doa bersama menjadi simbol kuat bagaimana tradisi, agama, dan kehidupan sosial masyarakat Jawa berpadu dalam satu perayaan yang sarat makna.
Bagi masyarakat Solo, Malam Selikuran bukan sekadar ritual tahunan. Tradisi ini telah menjadi bagian dari identitas budaya yang terus hidup, sekaligus pengingat akan nilai spiritual Ramadan dan harapan untuk meraih keberkahan di malam yang diyakini lebih mulia dari seribu bulan.







