Detik-Detik Pesantren di Bireuen Ambruk ke Sungai Batee Iliek, Video Viral di Media Sosial

Detik Mencekam Bangunan Pesantren di Bireuen Roboh, Direkam Santri dan ViralDetik Mencekam Bangunan Pesantren di Bireuen Roboh, Direkam Santri dan Viral
Bangunan Dayah di Samalanga Amblas Dihantam Banjir, Tidak Ada Korban Jiwa.

INBERITA.COM, Sebuah video dramatik yang menampilkan detik-detik bangunan dayah di Kabupaten Bireuen, Aceh, roboh dan amblas ke aliran Sungai Batee Iliek, sejak Rabu (26/11/2025) pagi menyebar luas di berbagai platform media sosial.

Rekaman yang menegangkan itu khususnya ramai beredar di TikTok, salah satunya melalui akun @muhammad_luthfi49, dan langsung memicu perhatian warganet karena memperlihatkan momen bangunan pesantren dua lantai runtuh dalam hitungan detik.

Dalam video tersebut terlihat jelas bangunan megah yang berdiri tepat di tepi sungai tiba-tiba ambruk saat kawasan setempat sedang diguyur hujan deras.

Suasana panik terdengar dari suara para santri yang menyaksikan langsung kejadian itu dari area kompleks dayah. Material bangunan tampak rontok satu per satu lalu terseret arus banjir yang semakin deras.

Rekaman itu memperlihatkan bagaimana tanah di pinggiran sungai tergerus kuat hingga bangunan yang berdiri di atasnya kehilangan penopang dan akhirnya runtuh total.

Video yang viral tersebut disebut terjadi di Dayah Najmul Hidayah Al-Aziziyah, sebuah lembaga pendidikan Islam yang berlokasi di Meunasah Subung, Cot Meurak Blang, Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen.

Identitas lokasi itu turut dikonfirmasi oleh pemilik akun pengunggah video, Muhammad Luthfi, yang juga merupakan alumni dayah tersebut.

Saat dihubungi Media, Rabu (26/11/2025), Luthfi menjelaskan, “Kejadiannya di Dayah Najah Cot Merak Blang Batee Iliek.”

Luthfi menambahkan bahwa dirinya tidak berada di lokasi ketika bangunan itu roboh. Informasi mengenai peristiwa tersebut ia peroleh dari para santri dan pihak dayah yang langsung menyaksikan amblasnya bangunan tersebut.

Menurut keterangan yang diterimanya, arus Sungai Batee Iliek yang meluap akibat hujan lebat diduga menjadi pemicu utama robohnya bangunan.

Luapan air yang berubah menjadi banjir bandang itu menghantam bagian tepi sungai hingga menyebabkan tanah penyangga bangunan tergerus dan tidak mampu lagi menopang struktur asrama.

Bangunan yang runtuh itu merupakan asrama santri putra, yang letaknya berada persis di pinggir aliran Sungai Batee Iliek.

Posisi tersebut selama ini diketahui cukup rawan, terutama ketika debit air sungai meningkat dalam kondisi hujan deras.

Pada video yang beredar, terlihat betapa cepatnya erosi di tepi sungai terjadi hingga bangunan dua lantai itu terhempas masuk ke aliran air yang tengah meluap.

Meski bangunan ambruk dan sejumlah barang-barang santri turut terseret arus, kabar baiknya tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu.

“Longsornya akibat banjir dari Sungai Batee Iliek, tidak ada korban jiwa. Barang-barang milik santri hanya sebagian yang bisa diselamatkan, para santri sementara mengungsi di masjid komplek dayah,” ujar Muhammad Luthfi menjelaskan.

Para santri yang menghuni asrama tersebut dilaporkan segera dievakuasi ke masjid dayah sesaat setelah kondisi tepi sungai mulai menunjukkan tanda-tanda tergerus.

Sejumlah barang yang masih bisa dijangkau berhasil diselamatkan, namun sebagian lainnya hilang terseret banjir bersama runtuhnya bangunan.

Peristiwa ambruknya bangunan di Dayah Najmul Hidayah Al-Aziziyah bukan hanya mengejutkan warganet, tetapi juga memunculkan kembali diskusi tentang kerentanan bangunan yang berdiri di bantaran sungai serta risiko bencana di kawasan tersebut.

Apalagi, dayah ini memang diketahui berdiri tepat di tepi aliran Sungai Batee Iliek, salah satu sungai besar di wilayah Bireuen yang kerap meluap saat musim hujan.

Di balik peristiwa itu, Dayah Najmul Hidayah Al-Aziziyah memiliki sejarah panjang yang tidak banyak diketahui publik.

Lembaga pendidikan Islam ini awalnya berdiri di kawasan yang dulunya dikenal sebagai Dayah Meunasah Subung Cot Meurak.

Dayah tersebut pertama kali diasaskan pada tahun 1703 M oleh seorang ulama asal Mekkah, Syeikh Abdussalam Bawarith Asyi.

Setelah melewati masa panjang dan sempat tidak aktif, dayah ini kembali beroperasi pada 2012. Saat ini, lembaga tersebut dipimpin oleh Tgk. Tarmizi M. Daud al-Yusufi, seorang alumni LPI MUDI Mesjid Raya Samalanga.

Viralnya video runtuhnya bangunan dayah ini menambah perhatian masyarakat terhadap kondisi kawasan rawan bencana di Bireuen dan sekitarnya.

Arus Sungai Batee Iliek yang kerap meningkat signifikan pada musim penghujan menjadi ancaman tersendiri bagi pemukiman maupun bangunan pendidikan di sepanjang tepiannya.

Peristiwa robohnya asrama santri ini pun menjadi pengingat bahwa mitigasi bencana dan perencanaan lokasi bangunan di wilayah tersebut perlu mendapat perhatian lebih.

Hingga kini, aktivitas para santri di Dayah Najmul Hidayah Al-Aziziyah sementara terfokus pada upaya pemulihan dan penataan ulang tempat tinggal mereka.

Meski menghadapi situasi sulit, keberadaan masjid dayah sebagai tempat pengungsian sementara membantu memastikan kegiatan keagamaan dan pendidikan tetap bisa berlangsung sambil menunggu penanganan lanjutan terhadap dampak kerusakan bangunan.