Dentuman Keras yang Terdengar Berasal dari Rangkaian Erupsi Anak Krakatau, Warga Pesisir Banten dan Lampung Khawatir Tsunami

INBERITA.COM, Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang masih berlangsung hingga hari Sabtu memicu kekhawatiran luas bagi warga di wilayah pesisir Banten dan Lampung.

Suara dentuman serta gemuruh keras terdengar jelas dari Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau yang terletak di kawasan Pasauran.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyatakan bahwa rangkaian suara dentuman dan gemuruh tersebut merupakan bagian dari aktivitas erupsi murni.

Kondisi vulkanik yang terus berlanjut ini menunjukkan bahwa gunung api tersebut masih berpotensi lontarkan material dari kawah aktif.

Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Kekomunikasian Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan meminta warga untuk meningkatkan kewaspadaan penuh. Aktivitas vulkanik yang terjadi secara terus menerus ini terpantau sejak hari Jumat pukul 23.07 waktu Indonesia bagian barat.

Warga dilarang keras mendekati kawasan gunung api untuk sekadar melihat proses erupsi secara langsung. Larangan tersebut juga mencakup tindakan mengambil foto atau video di dekat zona bahaya karena ancaman material pijar.

“Masyarakat diminta tidak mendekati kawasan gunung api untuk melihat aktivitas erupsi maupun mengambil gambar atau video, mengingat masih terdapat potensi lontaran material dari kawah aktif,” ujar Berton.

Kekhawatiran publik melonjak tinggi karena bayang-bayang bencana tsunami Selat Sunda yang terjadi pada tanggal 22 Desember 2018 silam. Trauma masa lalu membuat warga di pesisir Banten dan Lampung langsung bereaksi ketika mendengar suara dentuman dari tengah laut.

Pemerintah menegaskan bahwa warga sama sekali tidak perlu panik menghadapi situasi erupsi terkini. Seluruh masyarakat diminta untuk merujuk pada informasi dan peringatan resmi yang dikeluarkan oleh instansi berwenang.

“Masyarakat diminta tetap mengikuti informasi dan rekomendasi resmi dari PVMBG serta tidak mengambil kesimpulan sendiri berdasarkan aktivitas visual maupun suara dentuman yang terdengar,” kata Berton dalam keterangannya, Sabtu (5/9/2026).

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menyampaikan bahwa tubuh gunung api yang terbentuk pasca tahun 2018 masih berukuran relatif kecil. Hasil evaluasi ilmiah menunjukkan bahwa kondisi struktur saat ini belum memicu potensi keruntuhan skala besar.

Lembaga terkait terus melakukan pemantauan secara ketat terhadap setiap perubahan morfologi dan aktivitas vulkanik harian. Pengawasan instensif ini ditujukan untuk mengantisipasi segala bentuk ancaman lanjutan dari kawah utama.

Warga diminta untuk mengabaikan berbagai spekulasi liar yang beredar di luar jalur komunikasi resmi pemerintah. Kepatuhan terhadap instruksi evakuasi dan mitigasi menjadi kunci keselamatan utama bagi seluruh populasi pesisir.