INBERITA.COM, Menteri Keuangan Republik Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa, sempat membuat pernyataan yang mengundang kontroversi terkait kondisi perekonomian Indonesia.
Menurutnya, Indonesia masih jauh dari ancaman krisis dan perekonomian negara dalam keadaan stabil.
Namun, kenyataan yang ada di lapangan menunjukkan hal yang berbeda, terutama di kalangan para pedagang yang menyatakan adanya penurunan omzet yang signifikan menjelang Lebaran 2026.
Fenomena ini paling terasa di Pasar Tanah Abang, Jakarta, yang merupakan salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Indonesia.
Biasanya, bulan Ramadan adalah waktu yang sangat dinantikan oleh para pedagang pakaian, karena banyak masyarakat yang berbelanja untuk kebutuhan Lebaran. Namun, tahun ini, situasi berbeda.
Nur (37), kepala toko yang menjual busana muslim di Pasar Tanah Abang, mengungkapkan, “Tahun ini, omzet toko kami sangat menurun. Jika pada tahun sebelumnya, omzet kami bisa mencapai Rp50 juta per hari, sekarang paling banyak Rp25 juta per hari.”
Cerita serupa disampaikan oleh Deni (37), penjual gamis di Blok A Tanah Abang. Ia mengatakan bahwa pada tahun-tahun sebelumnya, hampir tidak ada waktu untuk duduk karena padatnya pembeli.
“Sekarang memang banyak orang yang lewat, tetapi jarang yang berhenti untuk membeli. Dulu omzet saya bisa mencapai Rp10 juta hingga Rp15 juta per hari, namun sekarang hanya sekitar Rp3 juta per hari,” katanya.
Kondisi ini sepertinya bertolak belakang dengan pernyataan Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, yang menyatakan bahwa daya beli masyarakat masih terjaga dan ekonomi Indonesia tidak dalam ancaman krisis.
Purbaya memberikan penilaian tersebut saat mengunjungi Pasar Tanah Abang beberapa waktu lalu.
“Kalau saya datang (ke Pasar Tanah Abang), tiba-tiba banyak orang ngumpul. Artinya, sekiranya kita kan banyak orang yang lagi belanja, artinya daya beli masyarakat sepertinya sedang baik, dan kita tidak resesi, apalagi dari krisis. Kita jauh dari krisis,” ujarnya saat itu kepada awak media.
Namun, banyak pihak yang menilai bahwa keramaian pengunjung pasar bukanlah indikator yang tepat untuk menilai daya beli masyarakat.
Tauhid Ahmad, Direktur Eksekutif INDEF, menilai bahwa meskipun banyak orang datang ke pasar, tidak berarti mereka berbelanja.
Ia menyebutkan adanya fenomena “Rojali” dan “Rohana”, yang berarti banyak orang yang hanya mencari informasi atau sekadar bertanya, bukan bertransaksi.
“Lemahnya ekspektasi konsumsi masyarakat bisa menyebabkan mereka datang ke pasar, namun tidak membeli barang,” kata Tauhid.
Tak hanya di Tanah Abang, Survei Konsumen Bank Indonesia pada Februari 2026 pun menunjukkan hal serupa. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) turun menjadi 125,2 pada Februari, dari level 127,0 pada Januari.
Angka ini juga lebih rendah dibandingkan dengan IKK Februari 2025 yang berada di angka 126,4. Ini menunjukkan penurunan dalam kepercayaan konsumen, yang biasanya berpengaruh pada daya beli.
Mohammad Faisal, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE), mengatakan bahwa peningkatan konsumsi di momen Lebaran tahun ini belum merata.
Menurut Faisal, kelompok masyarakat dengan pengeluaran di bawah Rp4 juta per bulan masih menghadapi tekanan daya beli yang besar.
“Pendapatan mereka belum pulih sepenuhnya pasca-pandemi. Bahkan, upah riil pekerja mengalami kontraksi pada 2025,” ujarnya.
Faisal menambahkan bahwa kelas menengah ke bawah masih kesulitan untuk membeli barang, meskipun kelas menengah atas sudah mulai menunjukkan konsumerisme yang lebih baik.
Daya beli yang masih terhambat ini juga dibuktikan oleh Nailul Huda, Direktur Ekonomi di Center of Economic and Law Studies (Celios).
Huda memprediksi bahwa meskipun ada peningkatan konsumsi selama Ramadan dan Lebaran, hal ini tidak akan cukup signifikan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal pertama tahun 2026. Ia menganggap pelemahan daya beli adalah faktor utama penahan konsumsi domestik.
“Meski optimisme sempat meningkat, tren ini mulai tertekan akibat ketidakpastian global, termasuk masalah geopolitik yang berpotensi menyebabkan kenaikan harga energi,” jelas Huda.
Huda juga mengungkapkan bahwa ketidakpastian global dan potensi kenaikan harga energi memicu masyarakat untuk menahan belanja, bahkan pada periode puncak konsumsi tahunan seperti Lebaran.
“Masyarakat lebih memilih untuk mengurangi belanja saat ini dan menunggu kondisi yang lebih baik di masa depan,” ujarnya.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa meskipun ada optimisme dari pemerintah mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia yang bisa mencapai 5,5-5,6 persen di triwulan I/2026, realita di lapangan berbeda.
Pemerintah telah menyiapkan berbagai kebijakan untuk mendukung daya beli masyarakat, termasuk pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) untuk aparatur sipil negara dan bonus bagi pengemudi ojek daring.
Namun, realita yang dihadapi pedagang pasar dan konsumen yang masih merasa terbebani menunjukkan bahwa ekonomi domestik belum sepenuhnya pulih.
Dengan kondisi ini, konsumsi rumah tangga sebagai motor utama perekonomian Indonesia masih belum optimal. Sementara itu, situasi geopolitik yang tidak menentu dan harga energi yang tinggi berpotensi memperburuk keadaan ekonomi Indonesia dalam waktu dekat.
Pemerintah dan para ekonom berharap agar kebijakan yang diterapkan dapat mengurangi tekanan terhadap daya beli masyarakat, sehingga perekonomian Indonesia bisa kembali pulih dan tumbuh secara berkelanjutan.
Meskipun ada pernyataan optimis dari pemerintah mengenai perekonomian Indonesia yang aman, kenyataan di lapangan menunjukkan adanya penurunan daya beli yang signifikan di kalangan masyarakat, terutama kelompok menengah ke bawah.
Hal ini mengarah pada ketidakpastian ekonomi yang memengaruhi konsumsi domestik dan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2026.







