Curhatan Warga Jakarta di Hari Pertama Kerja: Macet Menggila, Turun dari TransJakarta Naik Ojol

Hari pertama kerja padatnya lalu lintas jakartaHari pertama kerja padatnya lalu lintas jakarta
kemacetan Jakarta Hari Pertama Kerja

INBERITA.COM, Kepadatan lalu lintas di Jakarta kembali menggila pada hari pertama kerja usai libur panjang Lebaran. Jalan-jalan yang sempat lengang dan sepi akibat kebijakan work from home (WFH) selama beberapa hari ini kini kembali sesak, menciptakan kemacetan yang hampir tak ada habisnya.

Senin pagi (30/3), arus kendaraan di ruas jalan MT Haryono, Cawang, Jakarta Timur, tampak bergerak lambat.

Sejak pagi hari, suara klakson kendaraan terdengar hampir tanpa henti. Warga yang terjebak macet tak henti-hentinya melontarkan keluhan, terutama mereka yang sudah terbiasa dengan kondisi lengang beberapa hari sebelumnya.

Menurut pantauan wartawan kumparan, meskipun kendaraan tidak sepenuhnya terhenti, namun volume kendaraan yang tinggi membuat laju kendaraan sangat pelan, bahkan ada beberapa titik di mana kendaraan hanya bergerak beberapa meter dalam beberapa menit.

Di sepanjang Jalan MT Haryono, kemacetan semakin terasa terutama saat kendaraan mulai menumpuk di belokan simpang Jalan Mayjen Sutoyo.

Salah satu titik kepadatan yang paling terlihat adalah di sekitar Halte Cawang, di mana kendaraan pribadi dan angkutan umum, termasuk TransJakarta, terlihat berjalan dengan sangat lambat.

Tata, seorang pekerja berusia 28 tahun yang bekerja di Kebayoran Lama, mengungkapkan rasa frustrasinya di tengah kemacetan tersebut.

Tata yang naik TransJakarta dari Pinang Ranti menuju Halte Pancoran mengaku sudah terjebak kemacetan sejak awal perjalanan.

“Sebenarnya sih kantorku nggak nerapin WFH juga sih, cuma kita udah masuk dari tanggal 25. Dan itu beda banget sih, karena tanggal 25 itu masih sepi, masih santai kita jalannya,” kata Tata, mengingatkan bahwa hari pertama kerja setelah libur Lebaran terasa sangat berbeda.

Ia menambahkan bahwa hari ini, lalu lintas kembali macet parah, jauh berbeda dengan suasana jalanan yang lengang beberapa hari lalu.

Tata yang awalnya berencana turun di Halte Pancoran terpaksa berhenti lebih awal di Cawang karena kemacetan yang semakin parah. Ia mengaku merasa kelelahan bahkan sebelum memulai pekerjaan di kantornya.

“Sebenarnya perjalanan aku biasanya sekitar 20 menit, tapi tadi jadi 30 menit lebih. Dari UKI mau ke Cawang aja tuh lama banget beloknya,” keluhnya.

Setelah memutuskan turun lebih cepat, ia melanjutkan perjalanan dengan menggunakan ojek online (ojol).

Tata mengaku, meski memakan waktu lebih lama, ojek online menjadi solusi cepat agar dia bisa sampai di kantor dengan lebih efisien.

“Kalau lihat dari Maps sih sekitar 40 menitan (naik ojol). Lumayan sih karena jalur-jalur itu memang macet juga, jalur-jalur kantor semua,” ungkapnya.

Meski begitu, Tata merasa beruntung karena masih ada kelonggaran waktu di hari pertama kerja.

“Masih aman sih karena untungnya kan sekarang juga nggak begitu banyak kerjaan, jadi masih dikasih kelonggaran. Karena masih awal juga,” ujarnya. Meskipun begitu, ia mengaku tetap merasa lelah dan stres sebelum memulai pekerjaan.

“Pusing. Mendingan kemarin-kemarin enak banget sepi. Lancar banget sih, macet sih cuma kayak ya macet-macet biasa, nggak kayak gini. Ini kelewatan, bener-bener numpuk banget jalanan,” ujarnya sambil mengeluh.

Rika (24), seorang karyawan lain yang bekerja di kawasan Cawang, memilih berjalan kaki menuju kantornya karena jaraknya yang dekat. Meski tak terjebak kemacetan, Rika tetap merasakan perbedaan suasana di jalanan.

“Aku kerja di sini, kantorku depan situ jadi emang deket dari kos,” ujarnya sambil menunjukkan lokasi kantornya yang hanya beberapa menit berjalan kaki.

Meskipun berjalan kaki, Rika mengakui bahwa suasana jalanan tetap terasa sangat berbeda.

“Banget. Walaupun aku jalan kaki, tapi tetap kerasa sih suasananya beda. Di jalanan, rame banget, macet di mana-mana. Dari tadi aku jalan aja lihat kendaraan numpuk, klakson juga kedengeran terus,” ungkap Rika.

Bagi Rika, meski tidak terjebak dalam macet, kebisingan dan kepadatan lalu lintas tetap memberikan dampak psikologis.

“Ikut pusing juga lihatnya. Kayak sumpek aja gitu suasananya,” ujar Rika, yang juga membandingkan dengan kondisi jalanan beberapa hari lalu yang relatif lebih lengang.

“Jauh banget. Kemarin tuh tenang. Sekarang rame banget, berasa hidup lagi Jakarta-nya,” tambahnya, mencerminkan betapa perubahan situasi lalu lintas begitu terasa bagi warga yang kembali menjalani rutinitas di Jakarta.

Kondisi lalu lintas yang padat di Jakarta memang selalu menjadi tantangan tersendiri, terutama setelah libur panjang seperti Lebaran.

Para pekerja kembali menghadapi realita macet yang sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di kota ini.

Meski banyak yang berharap adanya perbaikan sistem transportasi atau kebijakan yang lebih baik untuk mengurangi kemacetan, kenyataannya, hari pertama kerja di Jakarta pasca-libur Lebaran kembali menjadi momen yang penuh tekanan dan kelelahan bagi warga.