INBERITA.COM, Dunia hiburan tanah air mendadak dihebohkan oleh kontroversi yang menyeret nama pengusaha sound system asal Karanganyar, Setyo Budi Sularso.
Pemilik usaha yang akrab disapa Budi Aeromax itu menjadi perbincangan hangat publik usai melontarkan komentar kontroversial di sebuah acara talk show televisi. Komentar tersebut berkaitan langsung dengan fatwa haram penggunaan sound horeg yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia Jawa Timur.
Di tengah perdebatan panas mengenai regulasi audio berukuran masif tersebut, Budi sempat keceplosan menggunakan kata kasar saat menyampaikan pandangannya.
Pembawa acara sempat memperingatkan Budi secara langsung agar mengganti diksi tersebut ketika siaran masih berlangsung. Potongan video dari tayangan itu kemudian beredar luas di berbagai platform media sosial dan memicu gelombang kritik tajam dari warganet.
Menyadari polemik yang semakin membesar, Budi akhirnya mengambil langkah cepat untuk meredakan situasi dengan menyampaikan permohonan maaf secara terbuka.
Budi mendatangi kediaman Ketua MUI Kabupaten Karanganyar, KH Badaruddin, pada Rabu malam, 9 September 2026. Pertemuan tersebut menjadi momentum penting bagi Budi untuk memberikan klarifikasi sekaligus mengakui kesalahannya tanpa ada upaya untuk mengelak.
“Bukan merasa ya. Saya memang salah. Nggih, khilaf. Ya bagaimanapun saya harus ke orang tua, sama beliau, sama Pak Kiai,” ujar Budi dikutip dari akun Instagram Aeromax, Kamis, 10 September 2026.
Pengakuan tersebut muncul setelah dirinya berdiskusi secara mendalam dengan pihak keluarga di rumah. Anak dan istrinya mengingatkan agar Budi mampu menahan diri ketika menyampaikan pendapat di ruang publik, terutama dalam situasi yang melibatkan banyak pihak.
Di balik kontroversi yang membelitnya, Budi sebenarnya menyimpan niat awal yang mulia untuk memperbaiki citra para pengusaha sound system di mata masyarakat.
Selama ini, menurut pengamatannya, industri sound system kerap mendapatkan stigma negatif akibat ulah oknum tertentu di lapangan. Budi ingin mendorong rekan sesama pelaku usaha agar bekerja secara lebih profesional dengan tetap memperhatikan kondisi lingkungan sekitar.
“Keinginan saya itu membenahi stigmanya negatif itu, terus di lapangan pun juga ingin stigma masyarakat itu bisa hilang. Jadi ya lebih profesional,” katanya.
Namun, realitas di lapangan membuktikan bahwa mengurus kepentingan banyak orang bukanlah perkara yang sederhana bagi seorang pengusaha.
Berbagai perbedaan pemikiran serta kompleksitas masalah membuat Budi memilih untuk mengurungkan niat memperluas perjuangan tersebut. Ia merasa beban mentalnya terlalu berat dan memilih untuk kembali fokus mengurus keluarga serta kegiatan yang lebih bermanfaat.
“Ngurusi anake wong akeh itu kan sulit. Sulit, nggih. Berat. Banyak sekali problematikanya, banyak sekali yang harus dipikirkan. Pemikirannya juga beda-beda,” katanya.
Perjalanan Budi di industri tata suara ini tidak instan dan telah dimulai sejak puluhan tahun silam. Ia mengaku mulai menyukai dunia audio sejak tahun 2001 murni karena hobi personal. “Saya hobi sejak 2001. Terus berproses,” ujarnya.
Semuanya berawal dari peralatan sangat sederhana yang hanya bermodalkan empat unit speaker untuk memeriahkan perayaan hari kemerdekaan.
“Awal, 17 Agustus-an itu saya punya sound itu empat speaker. Tak buat 17-an kampung. Terus ya merambah, proses buat acara-acara hajatan. Terus dipakai dulu buat panggung-panggung. Ya terus proses sampai sekarang,” katanya.
Usaha yang dirintis dari bawah itu kemudian berkembang pesat hingga mampu menangani berbagai event besar dan mendukung penampilan musisi papan atas.
Sebagai warga asli Karanganyar, Budi juga sering berkontribusi menyediakan perangkat audio untuk kegiatan sosial masyarakat. Keputusan besar kini diambil setelah ia melewati perjalanan panjang di industri tersebut.
Budi secara resmi memilih untuk melepas lini usaha sound horeg yang selama ini membesarkan namanya. Ia memutuskan untuk mengalihkan fokus bisnisnya secara penuh pada penyediaan sound musik atau festival konvensional.
Langkah drastis ini diambil agar dirinya bisa terhindar dari lingkaran polemik berkepanjangan yang tidak produktif bagi kelangsungan bisnisnya.
Titik terang dari perseteruan ini terjadi ketika Ketua MUI Karanganyar, KH Badaruddin, menyambut baik kedatangan Budi dan memberikan maaf secara terbuka.
“Ya, saya sebagai orang Islam ya memaafkan,” katanya.
Badaruddin menyebutkan bahwa permohonan maaf tersebut ditujukan secara luas kepada seluruh jajaran lembaga ulama mulai tingkat daerah hingga pusat.
Meski telah memberikan pengampunan, Badaruddin menitipkan pesan tegas agar kesalahan serupa tidak terulang kembali di masa depan.
“Jangan sampai itu terulang kembali,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, puka pimpinan ulama tersebut meluruskan bahwa substansi permasalahan sound horeg bukan terletak pada profesi pengusahanya.
Persoalan utamanya adalah bagaimana perangkat bersuara kencang itu dioperasikan dan apa dampak ikutan yang ditimbulkan terhadap ketertiban umum.
Badaruddin menyoroti sejumlah pelanggaran norma sosial dan agama yang kerap menyertai pertunjukan, termasuk konsumsi minuman keras di lokasi acara.
Sebaliknya, penggunaan perangkat audio berkekuatan besar untuk syiar kebaikan sama sekali tidak dilarang oleh lembaga keagamaan.
“Kalau sound horeg itu digunakan untuk pengajian pada yang positif, silakan,” katanya.
Batasan utama yang ditekankan oleh para ulama adalah aspek kemanfaatan dan ketaatan terhadap aturan norma yang berlaku di masyarakat.
Badaruddin juga menyoroti aspek teknis operasional berupa tingkat volume suara yang sering kali mengabaikan lokasi sensitif seperti rumah ibadah.
Pengusaha diingatkan agar lebih peka terhadap lingkungan sekitar tempat acara diselenggarakan demi menjaga kerukunan warga.
“Misalkan di tempat-tempat dekat ibadah, misalkan masjid. Itu kan mengganggu,” katanya.
Pesan moral tersebut mempertegas bahwa regulasi operasional sound system tetap berjalan fleksibel selama tidak merugikan kepentingan umum.
“Selama itu positif, tidak melanggar norma, silakan. Tetapi selama itu melanggar norma, norma agama, maka harus dihentikan,” tegasnya.
Penyelesaian damai ini menutup drama panjang perseteruan antara pelaku usaha audio dan lembaga keagamaan di daerah. Kasus ini sekaligus memberikan pelajaran berharga mengenai pentingnya etika komunikasi di ruang publik bagi setiap tokoh masyarakat.
Budi kini memilih untuk melangkah ke babak baru dalam hidupnya dengan meninggalkan segala atribut kontroversial di masa lalu.