INBERITA.COM, Konflik internal di dalam lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta kembali memanas setelah berdirinya deretan pagar seng yang menutup sejumlah akses penting. Jalur menuju Pelataran, Wiworokenyo, Pakubuwanan, hingga Talangpaten kini tertutup rapat bagi lalu lintas harian pihak tertentu.
Pemasangan material seng tersebut memicu ketegangan baru antara dua kubu yang selama ini terlibat perseteruan panjang. Situasi ini langsung membatasi pergerakan di dalam area keraton yang menyimpan banyak sejarah penting.
Kubu PB XIV Purbaya menyatakan sama sekali tidak mengetahui rencana penutupan jalur tersebut sebelum pagar berdiri.
Pengageng Pasiten PB XIV Purbaya, GKR Dewi Ratih Widyasari, baru mengetahui kondisi lapangan pada Rabu sore setelah menerima laporan dari bawahannya.
“Dari Pakubuwanan, akses kita semua diseng. Tiba-tiba sore saya dapat laporan. Nggak ada omongan apa-apa dari pihak sana,” ujar GKR Ratih.
Dampak dari penutupan ini langsung mengancam jalannya berbagai prosesi adat rutin di dalam kompleks keraton. Salah satu kegiatan yang terancam adalah ritual caos dahar yang biasa dilaksanakan setiap hari Kamis secara berputar.
“Semua prosesi adat di situ. Kita caos dahar setiap Kamis muter di Keraton, kita nggak bisa caos dahar di sana,” katanya.
Kekhawatiran kubu Purbaya semakin membesar mengingat agenda besar Tingalan Jumenengan Sinuhun akan segera berlangsung pada bulan Oktober mendatang.
Persoalan pagar seng ini berpotensi mengganggu pelaksanaan perhelatan sakral tersebut jika akses jalan tidak segera dibuka kembali.
Kendati demikian, pihak kubu Purbaya memilih menahan diri dan menolak melakukan pembongkaran paksa terhadap pagar seng. Langkah tersebut dihindari demi mencegah terjadinya benturan fisik secara langsung di antara massa dari kedua kubu yang berseteru.
“Kita tidak ingin ada benturan. Kita proses hukum saja. Kita nggak mau fisik atau apa pun,” tegas GKR Ratih.
Sebagai tindak lanjut, jalur hukum resmi dipilih untuk menyelesaikan sengketa akses jalan ini. Pihak kubu Purbaya telah melakukan koordinasi awal dan berencana melaporkan penutupan akses tersebut langsung kepada Kapolresta Solo.
Ketegangan ini merupakan kelanjutan dari rangkaian perselisihan sebelumnya yang diwarnai aksi saling kunci atau penggembokan pintu.
GKR Ratih bahkan menceritakan bahwa pemasangan seng tersebut diakui pihak lawan sebagai bentuk balasan atas aksi penggembokan sebelumnya.
Pengakuan itu didapat setelah dirinya sempat bertemu langsung dengan Pengageng Sasana Wilapa PB XIV Hangabehi, GKR Koes Moertiyah Wandansari atau Gusti Moeng.
Dalam pertemuan itu, Gusti Moeng disebut secara terbuka menyatakan alasan pemagaran.
“Lah kowe nggembok-nggemboki yo aku nggembok-nggemboki balik,” kata GKR Ratih menirukan ucapan Gusti Moeng.
Di sisi lain, Lembaga Dewan Adat memberikan penjelasan berbeda mengenai alasan di balik berdirinya pagar seng tersebut. Ketua Eksekutif LDA, KPH Eddy Wirabhumi, menyatakan bahwa pemagaran dilakukan untuk keperluan proyek revitalisasi kawasan.
Proyek perbaikan besar-besaran ini menyasar 13 titik di kawasan Keraton Solo dan mulai dikerjakan pada hari Kamis.
“Kita memulai (revitalisasi) besok pagi dimulai makanya akses di situ ditutup. Terus sama Pakubunan juga kita segera mulai. Sebentar lagi mulai juga Kraton Kulon gitu. Di depan sudah ada juga semacam pengumuman tentang revitalisasi gitu,” ujar Eddy ditemui di Keraton Solo, Rabu (2/9/2026).
Pekerjaan fisik ini dijadwalkan akan terus berlanjut hingga target penyelesaian pada bulan Desember 2026.
“Hari ini dua titik, yaitu Pakubanan dan Parangkarsa. Parangkarsa. Ini segera nanti Kraton Kulon. Ya, sampai selesai. Mudah-mudahan bisa lebih cepat. Mudah-mudahan bisa lebih cepat,” terangnya.
Menanggapi keluhan kubu Purbaya terkait hilangnya akses menuju pelataran, pihak LDA memberikan sanggahan tegas. Eddy memastikan bahwa jalur alternatif masih tersedia bagi pihak yang ingin menuju ke area pelataran.
“Pelataran kalau perlu ya, kalau perlu bisa lewat depan. Ya, mudah-mudahan berjalan baik, bisa cepat selesai, dan hasilnya juga baik,” katanya.







