INBERITA.COM, Isu penggunaan ikan sapu-sapu sebagai bahan baku siomay kembali menjadi perhatian publik setelah penangkapan besar-besaran di Sungai Ciliwung Jakarta.
Pemerintah daerah sebelumnya mengamankan hingga 11 ton ikan tersebut, memicu kekhawatiran masyarakat terkait kemungkinan peredarannya sebagai bahan pangan.
Menanggapi hal ini, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memberikan penjelasan ilmiah terkait potensi risiko kesehatan dari konsumsi ikan sapu-sapu, terutama jika berasal dari perairan tercemar seperti Sungai Ciliwung.
Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Triyanto, menegaskan bahwa ikan sapu-sapu memiliki karakteristik biologis yang perlu diwaspadai.
Salah satunya adalah kemampuan bioakumulasi, yaitu menyerap dan menyimpan zat berbahaya dari lingkungan dalam tubuhnya.
“Logam berat yang terkandung di ikan sapu-sapu, jika dikonsumsi dalam jumlah melebihi batas ambang aman, itu berbahaya,” ujar Triyanto usai sesi diskusi di kantornya, Kamis (30/4/2026).
Menurutnya, ikan yang hidup di perairan tercemar berpotensi menyerap logam berat seperti merkuri, timbal, atau kadmium. Zat-zat tersebut kemudian mengendap dalam jaringan tubuh ikan, termasuk pada daging yang berpotensi dikonsumsi manusia.
Yang menjadi perhatian utama, lanjut Triyanto, adalah sifat logam berat tersebut yang tidak mudah hilang, bahkan setelah melalui proses pengolahan makanan.
“Logam berat ini sifatnya bioakumulasi, tidak akan berkurang,” tegasnya.
Penjelasan ini sekaligus membantah anggapan bahwa proses memasak seperti digoreng atau direbus dapat menghilangkan zat berbahaya dalam ikan. Dalam kasus bioakumulasi, kandungan logam berat tetap bertahan dan berisiko masuk ke tubuh manusia.
Meski demikian, Triyanto meminta masyarakat untuk tidak langsung panik menghadapi isu yang beredar. Ia menjelaskan bahwa risiko kesehatan sangat bergantung pada frekuensi dan jumlah konsumsi.
“Kalau kita makan setiap minggu sampai 8 kilogram secara berturut-turut setiap tahun, nah itu baru berbahaya. Tapi kalau sekali-sekali, saya kira masih bisa ditoleransi oleh tubuh kita,” jelasnya.
Pernyataan ini memberikan perspektif bahwa paparan dalam jumlah kecil dan tidak rutin masih dapat ditoleransi oleh tubuh.
Namun, konsumsi jangka panjang dengan intensitas tinggi dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan akibat akumulasi logam berat.
Dalam konteks keamanan pangan, BRIN juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan masyarakat dalam memilih makanan, terutama yang dijual secara terbuka tanpa informasi jelas mengenai bahan baku.
Triyanto mendorong konsumen untuk lebih aktif menanyakan asal-usul bahan makanan kepada penjual sebagai langkah preventif.
“Yang penting kita lebih peduli, kita bisa bertanya kepada penjual, mohon maaf, ini dagingnya sehat atau tidak. Nanti bisa ditelusuri lebih lanjut,” pungkasnya.
Isu ini mencuat seiring meningkatnya perhatian terhadap kualitas lingkungan perairan di wilayah perkotaan. Sungai yang tercemar limbah industri dan domestik berpotensi menjadi habitat ikan dengan kandungan zat berbahaya, sehingga tidak layak dikonsumsi.
Penangkapan ikan sapu-sapu dalam jumlah besar di Sungai Ciliwung sebelumnya juga menjadi bagian dari upaya pengendalian populasi spesies tersebut yang dikenal invasif.
Namun di sisi lain, muncul kekhawatiran bahwa ikan-ikan tersebut dapat disalahgunakan sebagai bahan pangan tanpa pengawasan ketat.
Situasi ini menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah, peneliti, dan masyarakat dalam menjaga keamanan pangan sekaligus kualitas lingkungan.
Edukasi publik menjadi kunci agar masyarakat tidak hanya bereaksi terhadap isu, tetapi juga memahami risiko secara ilmiah.
Dengan meningkatnya kesadaran dan kehati-hatian, diharapkan potensi bahaya dari konsumsi ikan yang terpapar logam berat dapat diminimalkan, sekaligus mencegah praktik yang merugikan kesehatan masyarakat luas.