Bobibos Siap Produksi Massal di Timor Leste 2026, Terkendala Regulasi di Dalam Negeri

Bobibos Produksi Energi Nabati Berbasis Jerami di Timor Leste, Indonesia Tunggu RegulasiBobibos Produksi Energi Nabati Berbasis Jerami di Timor Leste, Indonesia Tunggu Regulasi
Inovasi energi nabati berbasis jerami Bobibos bersiap diproduksi massal di Timor Leste pada awal 2026 setelah mendapat dukungan pemerintah setempat, sementara produksi di Indonesia masih menunggu kepastian regulasi bioenergi jerami.

INBERITA.COM, Inovasi bahan bakar nabati berbasis jerami bernama Bobibos bersiap memasuki fase ekspansi internasional dengan rencana produksi massal di Timor Leste pada awal tahun 2026.

Langkah strategis ini diambil setelah Bobibos menandatangani nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan pemerintah Timor Leste, yang secara resmi menyatakan dukungan penuh terhadap pengembangan energi alternatif ramah lingkungan tersebut.

Kesepakatan tersebut menjadi tonggak penting bagi Bobibos dalam memperluas skala produksi bahan bakar nabati berbasis jerami, sekaligus membuka peluang kerja sama lintas negara di sektor transisi energi. Dukungan pemerintah Timor Leste tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga mencakup penyediaan fasilitas produksi dan lahan bahan baku dalam skala besar.

Pembina Bobibos, Mulyadi, mengungkapkan bahwa saat ini pihaknya tengah menyusun rencana aksi atau action plan bersama mitra di Timor Leste. Rencana tersebut mencakup berbagai tahapan penting, mulai dari penyusunan kerangka waktu produksi hingga kesiapan mesin dan infrastruktur pabrik.

Pemerintah Timor Leste, kata dia, bahkan telah menyiapkan fasilitas pabrik serta lahan bahan baku jerami seluas 25.000 hektare sebagai bagian dari dukungan konkret terhadap proyek ini.

“Target kami paling lambat Februari sudah produksi, tapi kami upayakan Januari sudah mulai, produksi perdana akan diluncurkan langsung oleh pemerintah Timor Leste,” ujar Mulyadi melalui keterangan resmi, Jumat (26/12/2025).

Mulyadi menjelaskan, pada tahap awal produksi massal, lahan seluas 5.700 hektare telah disiapkan untuk memasok bahan baku jerami. Skema ini dirancang agar pasokan bahan baku dapat berjalan berkelanjutan dan efisien sejak fase awal produksi.

Ia menegaskan bahwa ekspansi ke luar negeri ini bukan tanpa alasan, melainkan sebagai respons terhadap keterbatasan regulasi di dalam negeri yang hingga kini belum mengakomodasi jerami sebagai bahan baku bioenergi dalam kebijakan transisi energi nasional.

Menurut Mulyadi, saat ini regulasi nasional terkait bioenergi masih berfokus pada komoditas tertentu seperti sawit, aren, dan tebu. Sementara itu, jerami yang memiliki potensi besar sebagai sumber energi alternatif belum masuk dalam kerangka regulasi resmi.

Kondisi inilah yang membuat Bobibos memilih untuk tidak melakukan distribusi massal di Indonesia demi menaati ketentuan yang berlaku, khususnya terkait uji ketahanan produk, sertifikasi, serta standar keselamatan.

“Kami kader partai pemerintah, kami harus memberi contoh ketaatan pada regulasi, tidak mungkin kami produksi massal tanpa aturan yang jelas,” tegasnya.

Meski mengambil langkah ekspansi ke Timor Leste, Mulyadi menekankan bahwa Bobibos tidak menutup kemungkinan untuk kembali melakukan produksi massal di Indonesia.

Ia menyatakan, jika Presiden Prabowo Subianto memberikan mandat resmi yang disertai dengan payung regulasi yang kuat dan jelas, Bobibos siap mengembangkan produksi bahan bakar nabati berbasis jerami di dalam negeri secara besar-besaran.

Mulyadi menilai, potensi jerami di Indonesia sangat besar dan belum dimanfaatkan secara optimal. Dengan luas lahan sawah nasional yang mencapai sekitar 11,3 juta hektare, jerami memiliki peluang strategis untuk menjadi sumber energi alternatif yang dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

“Kalau negara meminta, pasti kami siap, Indonesia bisa menghasilkan sekitar 20 miliar liter per tahun dari jerami, itu sangat meringankan masyarakat,” imbuhnya.

Ia juga memastikan bahwa rencana pengembangan Bobibos di Timor Leste telah diketahui oleh Presiden Prabowo Subianto melalui jalur komunikasi internal partai.

Mulyadi menyebutkan bahwa laporan terkait proyek ini telah disampaikan secara berjenjang, mulai dari Dewan Pembina partai hingga pimpinan DPR RI serta kementerian teknis yang berkaitan dengan sektor energi dan industri.

Di sisi lain, Mulyadi turut memberikan klarifikasi terkait kerja sama Bobibos dengan proyek Lembur Pakuan di Jawa Barat yang sempat ramai diperbincangkan di media sosial. Ia menegaskan bahwa Bobibos telah memenuhi komitmennya dengan mengirimkan sebanyak 42 toren sebagai bagian dari kerja sama tersebut.

Namun, keterlambatan realisasi di lapangan disebabkan oleh kesiapan lokasi dari pihak mitra yang belum sepenuhnya rampung. Penjelasan ini disampaikan untuk meluruskan berbagai spekulasi yang berkembang di ruang publik terkait keberlanjutan proyek Bobibos di dalam negeri.

Mulyadi menekankan bahwa secara prinsip, Bobibos tetap berkomitmen mendukung pengembangan energi alternatif di Indonesia, selama terdapat kepastian hukum dan regulasi yang mendukung.

Lebih lanjut, Mulyadi menegaskan bahwa langkah ekspansi ke Timor Leste yang dilakukan melalui skema business to business (B2B) tidak dapat diartikan sebagai bentuk meninggalkan Indonesia. Sebaliknya, ia menilai langkah ini sebagai bagian dari kontribusi Bobibos dalam menawarkan solusi energi berkelanjutan di tingkat global.

“Ini solusi energi untuk dunia, kalau suatu saat Indonesia mengundang kami kembali dengan regulasi yang jelas, kami akan pulang dengan senang hati,” pungkasnya.

Dengan rencana produksi massal Bobibos di Timor Leste pada awal 2026, inovasi bahan bakar nabati berbasis jerami ini diharapkan dapat menjadi contoh pengembangan energi alternatif yang adaptif terhadap regulasi, sekaligus membuka jalan bagi pemanfaatan potensi jerami secara lebih luas di masa depan.