BMKG Ungkap 13 Segmen Megathrust yang Berpotensi Picu Gempa Bumi Dahsyat di Indonesia

Daftar Lengkap 13 Segmen Megathrust Indonesia yang Harus DiwaspadaiDaftar Lengkap 13 Segmen Megathrust Indonesia yang Harus Diwaspadai
Peta 13 segmen megathrust di Indonesia yang berpotensi memicu gempa bumi besar, menurut BMKG

INBERITA.COM, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan masyarakat terkait potensi gempa bumi besar yang selalu mengintai Indonesia. Lembaga ini telah mengidentifikasi 13 segmen megathrust aktif yang berisiko memicu gempa dahsyat di berbagai wilayah Tanah Air.

Peringatan ini disampaikan seiring meningkatnya aktivitas kegempaan di Indonesia, meskipun BMKG menegaskan bahwa gempa-gempa lokal tidak memiliki hubungan dengan peristiwa megathrust di Jepang yang baru-baru ini mengguncang wilayah Nankai, Jepang Selatan.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menegaskan bahwa tidak ada kaitan antara gempa di Indonesia dengan gempa besar berkekuatan M7,1 di Jepang pada Jumat, 8 Agustus 2024.

“Tidak ada ada sama sekali (hubungan rentetan gempa pasca-megathrust di Jepang), gempa kita memang banyak,” ujar Daryono (4/1/2026).

Pernyataan ini sekaligus menepis spekulasi yang berkembang di masyarakat bahwa gempa-gempa di Indonesia dipicu oleh peristiwa seismik di Jepang. Data resmi BMKG menunjukkan, sejak gempa di Jepang terjadi, Indonesia telah diguncang tujuh kali gempa bumi.

Angka ini termasuk normal mengingat kondisi Indonesia yang berada di jalur Cincin Api Pasifik, kawasan dengan aktivitas seismik tinggi. Lebih lanjut, sepanjang tahun 2025, BMKG mencatat sebanyak 43.439 kejadian gempa bumi mengguncang seluruh wilayah Indonesia.

Dari jumlah tersebut, 25 gempa menimbulkan kerusakan signifikan, baik pada bangunan maupun infrastruktur.

Tingginya jumlah gempa sepanjang 2025 menegaskan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan risiko gempa terbesar di dunia. Dalam konteks ini, pemahaman masyarakat terhadap potensi bencana dan kesiapsiagaan menjadi sangat penting.

BMKG menekankan bahwa informasi mengenai segmen-segmen megathrust bukan bertujuan untuk menakut-nakuti, tetapi sebagai dasar ilmiah untuk mitigasi bencana dan pengambilan keputusan oleh pemerintah serta masyarakat.

Mengacu pada Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia tahun 2017, BMKG mengidentifikasi 13 segmen megathrust yang berpotensi mengancam wilayah Indonesia. Berikut daftar lengkap segmen beserta potensi magnitudo gempanya:

  • Megathrust Mentawai-Pagai dengan potensi gempa M8,9
  • Megathrust Enggano dengan potensi gempa M8,4
  • Megathrust Selat Sunda dengan potensi gempa M8,7
  • Megathrust Jawa Barat-Jawa Tengah dengan potensi gempa M8,7
  • Megathrust Jawa Timur dengan potensi gempa M8,7
  • Megathrust Sumba dengan potensi gempa M8,5
  • Megathrust Aceh-Andaman dengan potensi gempa M9,2
  • Megathrust Nias-Simelue dengan potensi gempa M8,7
  • Megathrust Batu dengan potensi gempa M7,8
  • Megathrust Mentawai-Siberut dengan potensi gempa M8,9
  • Megathrust Sulawesi Utara dengan potensi gempa M8,5
  • Megathrust Filipina dengan potensi gempa M8,2
  • Megathrust Papua dengan potensi gempa M8,7

Segmen-segmen ini tersebar dari wilayah barat hingga timur Indonesia, termasuk Sumatra, Jawa, Sulawesi, hingga Papua. Beberapa segmen, seperti Aceh-Andaman dan Mentawai-Pagai, memiliki potensi gempa yang sangat besar, bahkan mampu memicu tsunami bila terjadi pergeseran lempeng secara signifikan.

Identifikasi segmen-segmen ini menjadi pengingat penting bahwa risiko bencana geologi selalu mengintai negara kepulauan yang terletak di Cincin Api Pasifik. Selain menegaskan potensi gempa, BMKG juga mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaan.

Informasi resmi terkait gempa dan potensi bencana selalu tersedia melalui kanal resmi BMKG. Masyarakat disarankan untuk tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak valid atau rumor yang beredar di media sosial, terutama yang mengaitkan gempa lokal dengan kejadian seismik di negara lain.

Pentingnya kesiapsiagaan gempa juga ditegaskan melalui data kerusakan akibat gempa sebelumnya. Dari 43.439 kejadian gempa sepanjang 2025, 25 di antaranya menimbulkan kerusakan yang cukup serius.

Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar gempa tidak terasa signifikan, beberapa kejadian tetap dapat mengancam keselamatan dan menimbulkan kerugian material. Oleh karena itu, pemahaman masyarakat mengenai lokasi rawan gempa, jalur evakuasi, dan protokol keselamatan menjadi sangat krusial.

BMKG menegaskan bahwa setiap wilayah memiliki karakteristik tektonik sendiri, sehingga gempa di satu wilayah tidak otomatis memicu gempa di wilayah lain. Hal ini menjadi penting untuk menepis kekhawatiran yang mengaitkan gempa di Indonesia dengan peristiwa di Jepang.

Daryono menekankan bahwa meskipun gempa di Indonesia sering terjadi, masyarakat tidak perlu panik, melainkan tetap waspada dan siap menghadapi kemungkinan bencana. Sebagai langkah mitigasi, pemerintah daerah dan lembaga terkait juga diharapkan dapat menggunakan data segmen megathrust BMKG untuk merancang strategi penanggulangan bencana yang tepat.

Pemetaan risiko gempa yang akurat menjadi salah satu dasar untuk membangun infrastruktur yang lebih tahan gempa, memperkuat sistem peringatan dini, serta menyusun program edukasi kebencanaan bagi masyarakat.

Dengan kesadaran dan kesiapsiagaan yang baik, dampak gempa bumi, terutama dari segmen-segmen megathrust yang memiliki potensi dahsyat, dapat diminimalkan.

BMKG terus menekankan pentingnya literasi kebencanaan, koordinasi antar-pemangku kepentingan, dan respons cepat sebagai kunci utama dalam mengurangi risiko korban jiwa serta kerugian material akibat gempa bumi di Indonesia.