BMKG Deteksi Bibit Siklon Tropis 91W, Waspada Gelombang Tinggi hingga 4 Meter pada 14–17 Januari 2026

INBERITA.COM, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi gelombang tinggi yang diperkirakan terjadi di sejumlah wilayah perairan Indonesia pada periode 14 hingga 17 Januari 2026.

Peringatan ini dikeluarkan menyusul terdeteksinya Bibit Siklon Tropis 91W yang berpotensi memicu peningkatan kecepatan angin dan tinggi gelombang laut secara signifikan.

Dalam keterangannya, BMKG menjelaskan bahwa Bibit Siklon Tropis 91W terpantau berada di koordinat 4,0 derajat Lintang Utara dan 93,0 derajat Bujur Timur, tepatnya di Samudera Hindia barat daya Lampung.

Keberadaan sistem atmosfer ini berdampak langsung terhadap dinamika cuaca dan kondisi laut di berbagai wilayah perairan Indonesia.

“Kecepatan angin tertinggi terpantau di Laut Jawa, Laut Flores, Laut Banda, Laut Arafuru, dan Samudra Pasifik utara Maluku,” tulis BMKG dalam keterangannya, Rabu (14/1/2026).

BMKG juga memaparkan bahwa pola angin di wilayah Indonesia bagian utara umumnya bergerak dari arah Barat Laut hingga Timur Laut dengan kecepatan berkisar antara 6 hingga 25 knot.

Sementara itu, di wilayah Indonesia bagian selatan, angin dominan bergerak dari Barat Daya hingga Barat Laut dengan kecepatan yang relatif sama, yakni 6 hingga 25 knot.

Kondisi atmosfer tersebut memicu peningkatan tinggi gelombang laut dengan kategori sedang hingga tinggi di sejumlah perairan strategis.

Gelombang dengan ketinggian antara 1,25 hingga 2,5 meter berpeluang terjadi di berbagai wilayah, di antaranya Samudera Pasifik utara Papua, Laut Natuna Utara, Samudera Hindia barat Bengkulu, Selat Malaka bagian utara, serta Samudera Hindia barat Kepulauan Nias.

Selain itu, potensi gelombang setinggi 1,25 hingga 2,5 meter juga terpantau di Samudera Hindia selatan DI Yogyakarta, Samudera Hindia selatan Bali, Selat Karimata bagian utara, Laut Banda, Laut Arafuru bagian utara, dan Laut Sulawesi bagian tengah.

Wilayah lainnya meliputi Laut Jawa bagian barat, tengah, dan timur, Laut Maluku, Samudera Pasifik utara Papua Barat, hingga Samudera Hindia barat Lampung dan Kepulauan Mentawai.

BMKG juga mencatat potensi gelombang tinggi di Samudera Hindia barat Aceh, Samudera Hindia selatan Banten, Samudera Hindia selatan Jawa Timur, Samudera Hindia selatan Nusa Tenggara Barat, Laut Flores, Laut Seram, Selat Makassar bagian selatan, serta Laut Bali.

Sementara itu, gelombang laut yang lebih tinggi dengan ketinggian mencapai 2,5 hingga 4 meter berpeluang terjadi di wilayah yang lebih luas dan berisiko tinggi.

Daerah tersebut meliputi Laut Arafuru bagian tengah, Samudera Hindia selatan Jawa Tengah, Samudera Hindia selatan Nusa Tenggara Timur, Samudera Pasifik utara Maluku, Laut Arafuru bagian barat dan timur, Samudera Hindia selatan Jawa Barat, serta Samudera Pasifik utara Papua Barat Daya.

BMKG menegaskan bahwa potensi gelombang tinggi ini dapat menimbulkan risiko serius terhadap keselamatan pelayaran, terutama bagi kapal-kapal dengan ukuran kecil hingga menengah.

Oleh karena itu, peringatan dini ini diharapkan dapat menjadi perhatian serius bagi masyarakat maritim dan pelaku aktivitas kelautan.

Untuk perahu nelayan, BMKG mengingatkan bahwa aktivitas melaut berisiko ketika kecepatan angin melebihi 15 knot dan tinggi gelombang melampaui 1,25 meter. Sementara untuk kapal tongkang, risiko meningkat pada kecepatan angin lebih dari 16 knot dengan gelombang di atas 1,5 meter.

BMKG juga mengingatkan operator kapal ferry untuk waspada apabila kecepatan angin mencapai lebih dari 21 knot dan tinggi gelombang melebihi 2,5 meter. Adapun kapal ukuran besar seperti kapal kargo dan kapal pesiar berisiko tinggi saat kecepatan angin melampaui 27 knot dan tinggi gelombang di atas 4 meter.

“Dimohon kepada masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di pesisir sekitar area yang berpeluang terjadi gelombang tinggi agar tetap selalu waspada,” tulis BMKG dalam peringatannya.

BMKG mengimbau masyarakat, nelayan, serta operator transportasi laut untuk terus memantau informasi cuaca terbaru dan tidak memaksakan aktivitas pelayaran apabila kondisi tidak memungkinkan.

Kewaspadaan dan kesiapsiagaan menjadi kunci untuk meminimalkan risiko kecelakaan laut di tengah pengaruh Bibit Siklon Tropis 91W yang masih aktif memengaruhi perairan Indonesia dalam beberapa hari ke depan. (**)