INBERITA.COM, Bagi banyak warga sekitar Stasiun Bekasi, keberadaan stasiun bukan hanya menjadi tempat transit para pengguna KRL Commuter Line, tetapi juga membuka peluang usaha yang menguntungkan.
Salah satunya adalah bisnis parkir motor, yang dikelola oleh Surya (48), seorang pengusaha lokal yang telah lama menjalankan usaha ini.
Lahan parkir motor yang dikelolanya terletak tidak jauh dari Stasiun Bekasi, dan menurutnya, bisnis ini jauh lebih menguntungkan dibandingkan dengan menyewakan kos-kosan.
“Kalau dibanding kos-kosan, parkiran itu lebih menjanjikan dan enggak terlalu ribet ngurusinnya,” kata Surya saat berbincang dengan wartawan pada Jumat, 16 Januari 2026.
Ia juga menambahkan bahwa banyak kos-kosan yang saat ini ditutup dan beralih menjadi lahan parkir motor karena potensi keuntungan yang lebih besar.
Lahan parkir motor yang dikelola Surya mampu menampung sekitar 100 motor per hari, dan ia membuka operasionalnya dari pukul 04.30 WIB hingga 23.30 WIB.
Dengan tarif parkir yang terjangkau yaitu Rp6.000 per motor, Surya mengaku dapat meraup pendapatan sekitar Rp600.000 per hari pada hari kerja.
Namun, ia mencatat bahwa pendapatan pada akhir pekan tidak sebanyak hari kerja karena lebih sedikitnya pengguna parkir.
“Sehari itu bisa Rp600.000, tapi itu Senin sampai Jumat. Kalau Sabtu-Minggu enggak sampai segitu, karena kebanyakan yang parkir itu orang kerja,” ujarnya.
Surya memanfaatkan lahan rumah orang tuanya seluas 90 meter persegi untuk area parkir, sementara bagian depan rumah digunakan untuk aktivitas sehari-hari.
Dalam perbandingan dengan ruko yang disewakan dengan harga tahunan sekitar Rp20 juta hingga Rp30 juta, bisnis parkir motor ini jelas memberikan pendapatan yang lebih besar.
Namun, seperti bisnis lainnya, Surya juga menghadapi tantangan dalam mengelola parkir motor. Salah satunya adalah mengatur kendaraan yang harus dikeluarkan pada waktu yang tidak menentu.
“Suka dukanya ya itu, kalau ada yang pulang masuk malam atau siang, saya harus bongkar-bongkar motor. Risikonya di situ,” tutur Surya.
Keamanan menjadi prioritas utama bagi Surya, dan ia memastikan bahwa area parkir yang dikelolanya dilengkapi dengan CCTV serta petugas parkir yang selalu berjaga.
“Alhamdulillah kalau kehilangan enggak pernah. Paling ada yang lupa naruh motor atau salah tempat karena capek,” ungkapnya.
Ia juga menambahkan bahwa area parkir ini bukanlah parkir liar, melainkan area yang terkelola dengan baik, dengan petugas yang selalu stand by selama jam operasional.
Untuk menjaga agar operasional tetap berjalan lancar, Surya mempekerjakan satu petugas parkir setiap hari kerja, sementara pada akhir pekan, petugas bertugas secara bergantian. Lonjakan kendaraan biasanya terjadi saat hari besar atau acara besar di Jakarta.
“Kalau hari libur panjang, terutama Idul Fitri itu paling ramai. Kalau ada PRJ di JIExpo juga Sabtu-Minggu bisa ramai seperti hari kerja,” jelas Surya.
Ia juga tetap memprioritaskan pelanggan langganan ketika kapasitas parkir hampir penuh.
“Kalau penuh biasanya yang langganan kita geser ke belakang, tetap kita terima. Soalnya kalau orang sudah nyaman, dia enggak mau pindah ke tempat lain,” tambah Surya.
Bagi banyak pengguna KRL Commuter Line, parkir motor di sekitar Stasiun Bekasi memang menjadi pilihan utama karena berbagai alasan, seperti harga yang lebih terjangkau dibandingkan parkir di dalam area stasiun.
Ishal Muhamad (24), seorang pengguna jasa parkir motor, mengatakan bahwa ia lebih memilih parkir di luar stasiun karena tarif yang lebih murah.
“Kalau parkir di luar itu lebih murah. Di dalam kan per jam, sementara di luar Rp5.000 sehari. Kalau menginap paling Rp 10.000 atau Rp 15.000, tergantung tempatnya,” ujar Ishal.
Selain faktor harga, ketersediaan lahan parkir juga menjadi alasan mengapa banyak pengguna memilih parkir di luar stasiun.
“Kalau di dalam cepat penuh. Di luar pilihannya banyak, lahannya juga gampang dicari,” ujar Ishal.
Dari segi pelayanan, Ishal menilai parkir di luar stasiun tidak jauh berbeda dengan parkir pada umumnya. Kendaraan akan dikeluarkan oleh petugas setelah pengguna menyebutkan nomor pelat dan ciri kendaraan.
“Pelayanannya standar saja. Sama seperti parkiran biasa,” kata Ishal.
Ia juga menilai keamanan parkir di luar cukup terjamin meskipun ada aturan yang melarang mengunci setang kendaraan.
“Selama ini aman, mereka jaga terus,” tambahnya.
Hal serupa disampaikan oleh Antoneo (33), pengguna KRL lainnya. Antoneo mengatakan bahwa ia memilih parkir di luar stasiun karena tarif yang lebih cepat dan murah dibandingkan parkir resmi di dalam stasiun.
“Harganya sekitar Rp5.000 sampai Rp7.000,” ujarnya.
Namun, ia mengakui ada keterbatasan dengan parkir di luar, salah satunya adalah jam operasional yang tidak 24 jam. Antoneo pernah mengalami kesulitan ketika pulang larut malam karena lokasi parkir sudah tutup.
“Saya pernah pulang jam setengah 12 malam, parkirannya sudah tutup. Motor terpaksa ditinggal dan baru diambil besok paginya,” katanya.
Meski demikian, Antoneo menilai parkir di dalam stasiun juga memiliki kekurangan tersendiri, terutama terkait kepastian ketersediaan lahan.
“Kalau di dalam sebenarnya dekat, tapi kita enggak tahu penuh atau enggak. Nyari tempatnya juga susah. Kalau di luar kan langsung taruh, nanti abang parkir yang ngatur,” ungkapnya.
Bisnis parkir motor di sekitar Stasiun Bekasi menunjukkan potensi keuntungan yang signifikan.
Meskipun ada tantangan dalam hal operasional dan keamanan, banyak pengguna KRL Commuter Line yang lebih memilih untuk memarkirkan motornya di luar stasiun karena tarif yang lebih terjangkau dan ketersediaan lahan yang lebih banyak.
Dengan jam operasional yang fleksibel dan pengelolaan yang baik, bisnis parkir motor ini telah menjadi pilihan menguntungkan bagi masyarakat sekitar Stasiun Bekasi. (*)







