INBERITA.COM, Memasuki hari ketujuh Ramadan, perhatian warganet tertuju pada akun Instagram resmi Presiden Republik Indonesia.
Kolom komentar di akun tersebut ramai dipenuhi pertanyaan publik terkait belum adanya unggahan khusus bertajuk “Marhaban Ya Ramadan” atau ucapan selamat menunaikan ibadah puasa di feed utama.
Situasi ini memicu diskusi hangat di ruang digital, terutama karena Ramadan merupakan momen penting bagi mayoritas masyarakat Indonesia.
Sorotan publik muncul bukan tanpa alasan. Di tengah absennya unggahan ucapan Ramadan di feed utama, akun resmi Presiden tetap aktif membagikan berbagai agenda kenegaraan.
Dokumentasi kunjungan luar negeri, pertemuan bilateral, serta aktivitas resmi lainnya terus dipublikasikan secara rutin.
Hal ini kemudian memunculkan pertanyaan di kalangan warganet mengenai prioritas komunikasi simbolik seorang kepala negara, khususnya dalam momentum keagamaan sebesar Ramadan.
Sebagian warganet menilai bahwa sebagai pemimpin negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, unggahan ucapan Ramadan di feed utama media sosial memiliki makna simbolik yang kuat.
Mereka beranggapan bahwa pesan tersebut bukan sekadar formalitas, melainkan representasi perhatian dan kedekatan pemimpin terhadap masyarakat yang sedang menjalankan ibadah puasa.
Di kolom komentar, beragam pandangan pun bermunculan. Ada yang mempertanyakan mengapa hingga hari ketujuh Ramadan belum terlihat unggahan permanen di feed utama.
Kritik tersebut umumnya menyoroti aspek simbolisme dan sensitivitas momentum. Namun, tidak sedikit pula yang memberikan pembelaan.
Sebagian pengguna media sosial menyebut bahwa ucapan selamat menunaikan ibadah puasa sebenarnya telah disampaikan melalui fitur Instagram Story pada hari pertama Ramadan.
Perbedaan pandangan ini kemudian berkembang menjadi perdebatan yang lebih luas.
Diskusi tidak lagi sebatas pada ada atau tidaknya ucapan Ramadan, tetapi juga menyentuh persoalan format komunikasi publik di era digital.
Apakah penyampaian melalui story yang bersifat sementara sudah cukup? Ataukah feed utama yang bersifat permanen dianggap lebih representatif dan memiliki bobot simbolik yang lebih kuat?
Perdebatan tersebut semakin menguat ketika warganet membandingkan dengan momen sebelumnya.
Pada 25 Desember 2025, Presiden menyampaikan ucapan Selamat Natal melalui unggahan video dan grafis di feed resmi.
Pesan tersebut dilengkapi dengan narasi tentang persatuan dan solidaritas nasional. Unggahan itu tampil secara permanen di feed dan mendapat perhatian luas dari masyarakat.
Kontras inilah yang kemudian menjadi bahan diskusi di ruang digital, terutama terkait konsistensi format komunikasi dalam momentum hari besar keagamaan.
Fenomena ini mencerminkan bagaimana komunikasi seorang kepala negara di media sosial kini berada di bawah sorotan publik yang sangat detail.
Tidak hanya isi pesan yang diperhatikan, tetapi juga waktu publikasi, format penyampaian, hingga penempatan konten di feed atau story.
Setiap keputusan komunikasi dapat memunculkan interpretasi dan persepsi yang beragam.
Di era digital saat ini, media sosial bukan sekadar kanal informasi, tetapi juga ruang interaksi dan simbol representasi.
Publik memandang unggahan seorang pemimpin sebagai bentuk sikap, perhatian, bahkan keberpihakan simbolik.
Oleh karena itu, momentum seperti Ramadan kerap dianggap memiliki dimensi yang lebih dari sekadar seremoni.
Sebagian warganet berpendapat bahwa substansi pesan lebih penting daripada formatnya.
Bagi kelompok ini, selama ucapan telah disampaikan—terlepas dari apakah melalui story atau feed—maka esensi komunikasi sudah terpenuhi.
Mereka mengajak publik untuk melihat persoalan secara proporsional dan tidak terjebak pada perdebatan teknis.