Beda Level dengan Indonesia! Jepang Bersiap Gunakan Cadangan Minyak Darurat yang Cukup Untuk 254 Hari

Cadangan minyak jepang cukup untuk 250 hariCadangan minyak jepang cukup untuk 250 hari
Jepang Siap Lepaskan Cadangan Minyak Nasional, Tanggapi Krisis Pasokan Akibat Perang Iran-AS

INBERITA.COM, Pemerintah Jepang telah menginstruksikan fasilitas penyimpanan cadangan minyak nasional untuk mempersiapkan diri dalam melepas stok cadangan mereka, sebagai langkah respons terhadap gangguan pasokan energi global yang terjadi akibat perang antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel.

Langkah ini diambil untuk mengatasi potensi krisis pasokan minyak mentah yang semakin mendalam, yang dipicu oleh ketegangan politik dan penutupan jalur perdagangan utama energi dunia, yakni Selat Hormuz.

Menurut laporan dari Reuters, yang dikutip pada Senin (9/3/2026), sekitar 95 persen dari total pasokan minyak mentah Jepang berasal dari Timur Tengah, dengan 70 persen di antaranya dikirim melalui Selat Hormuz.

Sejak perang pecah antara Iran dan Amerika Serikat, Selat Hormuz telah efektif ditutup, mengakibatkan gangguan besar pada pasokan energi internasional.

Penutupan jalur ini memicu Jepang untuk mulai mempertimbangkan pelepasan cadangan minyak daruratnya guna mengatasi kemungkinan kelangkaan pasokan.

Akira Nagatsuma, anggota parlemen dari Aliansi Reformasi Sentris, yang merupakan partai oposisi, mengungkapkan bahwa Organisasi Jepang untuk Keamanan Logam dan Energi di Pangkalan

Penyimpanan Minyak Nasional Shibushi telah menerima instruksi untuk bersiap melepaskan cadangan minyak pada pekan lalu. Instruksi tersebut datang langsung dari Badan Sumber Daya Alam dan Energi Jepang.

Namun, Nagatsuma menambahkan bahwa beberapa rincian penting terkait waktu pelepasan cadangan dan apakah pangkalan penyimpanan lainnya juga akan menerima instruksi serupa masih belum jelas. Shibushi, yang terletak di Jepang selatan, adalah lokasi strategis di mana cadangan minyak nasional Jepang disimpan.

Jepang memiliki cadangan minyak darurat yang setara dengan 254 hari konsumsi domestik, yang terdiri dari cadangan pemerintah, sektor swasta, dan cadangan bersama dengan negara-negara penghasil minyak lainnya. Cadangan ini dirancang untuk digunakan dalam kondisi darurat, seperti gangguan besar pada pasokan energi global.

Pelepasan cadangan minyak oleh Jepang terakhir kali dilakukan pada tahun 2022, saat invasi Rusia ke Ukraina menyebabkan ketidakstabilan pasokan energi global.

Pada saat itu, pelepasan cadangan minyak tersebut dilakukan dalam koordinasi dengan Badan Energi Internasional (IEA) sebagai bagian dari upaya global untuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak Rusia.

Menteri Perindustrian Jepang, Ryosei Akazawa, menyatakan dalam sebuah pernyataan pada awal pekan lalu bahwa pemerintah Jepang tidak berencana untuk segera melepaskan cadangan minyak.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa pemerintah akan terus memantau ketat situasi pasokan minyak mentah, bekerja sama dengan IEA, dan mempertimbangkan langkah-langkah yang diperlukan jika situasi semakin memburuk.

Namun, dalam laporan terbaru yang dikeluarkan oleh kantor berita Kyodo pada Jumat (7/3/2026), disebutkan bahwa pemerintah Jepang mungkin akan menggunakan sebagian dari cadangan minyaknya untuk mengatasi dampak dari krisis energi yang disebabkan oleh perang Iran.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa pelepasan cadangan minyak dapat dilakukan baik dalam koordinasi dengan negara-negara lain atau secara mandiri oleh Jepang, tergantung pada situasi yang berkembang.

Krisis energi global yang dipicu oleh ketegangan di Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz menjadi perhatian serius bagi negara-negara konsumen energi besar, termasuk Jepang.

Sebagai negara yang sangat bergantung pada impor energi, terutama minyak mentah dari Timur Tengah, Jepang harus menghadapi tantangan besar untuk menjaga kestabilan pasokan energi domestiknya.

Penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur utama pengiriman minyak dari kawasan tersebut, tidak hanya mengganggu pasokan minyak bagi Jepang, tetapi juga bagi negara-negara industri besar lainnya.

Seiring dengan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, pasokan minyak mentah global semakin terganggu. Ini berpotensi menyebabkan lonjakan harga minyak yang lebih tinggi dan meningkatkan ketidakpastian ekonomi global.

Dengan meningkatnya harga minyak, Jepang terpaksa mempertimbangkan untuk melepaskan cadangan minyak daruratnya untuk meredakan dampak yang mungkin terjadi pada perekonomian domestik.

Meskipun pemerintah Jepang berupaya menjaga kestabilan harga energi dalam negeri dan menghindari dampak yang terlalu besar terhadap konsumsi domestik, pelepasan cadangan minyak dari sumber daya darurat negara akan menjadi langkah yang sangat penting untuk menjamin pasokan energi bagi sektor-sektor vital, termasuk industri dan transportasi.

Hal ini akan membantu meringankan beban masyarakat dan menjaga kelancaran perekonomian Jepang yang sangat bergantung pada energi impor.

Tindak lanjut dari kebijakan ini akan sangat bergantung pada perkembangan situasi pasokan minyak global dan ketegangan politik yang terus berlangsung.

Pemerintah Jepang, dalam hal ini, berencana untuk terus memantau dan berkoordinasi dengan negara-negara penghasil minyak utama dan organisasi internasional seperti IEA untuk mencari solusi terbaik dalam menghadapi krisis energi yang kian mendalam.

Bagi Jepang, memastikan ketersediaan pasokan energi yang stabil, serta menjaga kestabilan harga energi dalam negeri, adalah prioritas utama.

Pemerintah Jepang juga berharap bahwa langkah-langkah ini dapat mengurangi dampak negatif yang mungkin timbul akibat gangguan pasokan minyak yang semakin meluas di pasar global.