Banjir di Sanur Bali, Turis Asing dan Warga yang Terjebak Dievakuasi dengan Perahu Karet

INBERITA.COM, Bali kembali dilanda cuaca ekstrem yang mengakibatkan banjir besar di sejumlah kawasan, termasuk kawasan Sanur, Denpasar.

Warga dan turis asing yang berada di Jalan Bumiayu, Sanur, terpaksa dievakuasi menggunakan perahu karet karena genangan air yang semakin membesar, sejak Minggu malam, 22 Februari 2026.

Banjir yang terjadi kali ini disebutkan sebagai yang terparah sejak Desember lalu. Ketinggian air mulai meningkat sekitar pukul 22.00 Wita dan mencapai puncaknya pada pukul 01.00 Wita. Genangan air bertahan hingga pagi hari, merendam rumah dan penginapan yang ada di kawasan tersebut.

Warga setempat, termasuk pemilik warung, mengalami kerugian besar akibat banjir yang menggenangi tempat tinggal dan usaha mereka.

“Jam 10 malam air mulai naik, sekitar jam 01.00, air sudah setinggi ini. Kasur semua basah,” ujar Wayan Kecor, seorang pemilik warung di Jalan Bumiayu, Selasa, 24 Februari 2026.

Wayan menambahkan, air banjir yang mencapai sepinggang orang dewasa membuat situasi semakin sulit. Kondisi tersebut memaksa sejumlah warga dan tamu penginapan untuk segera dievakuasi.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, ketinggian air di Jalan Bumiayu III bahkan mencapai sepinggang orang dewasa, sehingga membuat sejumlah warga, termasuk wisatawan yang menginap di kawasan tersebut, harus dipindahkan ke lokasi yang lebih aman.

Evakuasi dilakukan oleh tim SAR Samapta Polda Bali setelah menerima laporan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Denpasar sekitar pukul 09.00 Wita.

Sebanyak 14 personel SAR dikerahkan, dilengkapi dengan empat kano dan satu perahu karet untuk melakukan evakuasi di titik-titik genangan tertinggi.

Koordinator tim SAR, Gede Sutrawan, menjelaskan bahwa evakuasi difokuskan pada area dengan genangan air paling tinggi.

“Sejauh ini ada 5 tamu yang dievakuasi, ada di utara evakuasi 7 orang, termasuk tadi ada anjing juga dievakuasi,” ungkapnya.

Tak hanya tim SAR, warga setempat juga melakukan upaya evakuasi mandiri. Wayan Yadhi, staf Villa B3 yang berada di kawasan Bumiayu, mengungkapkan bahwa dirinya telah mengevakuasi atasannya sebelum tim SAR tiba di lokasi.

“Sejauh ini tertinggi ini, dulu Desember nggak segini. Bos saya tadi pagi-pagi sudah minta evakuasi, ke Swiss-Belin,” kata Wayan Yadhi, merujuk pada keputusan atasannya untuk segera mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Denpasar juga bergerak cepat dengan memasang alat vacuum jetting untuk menyedot air yang menggenang di jalanan.

Langkah ini diambil untuk mempercepat pengeringan area terdampak banjir dan meminimalkan kerusakan yang ditimbulkan oleh genangan air yang terus bertahan.

Keberadaan perahu karet dan kano yang digunakan oleh tim SAR dan masyarakat setempat menunjukkan bagaimana upaya evakuasi dilakukan dengan sumber daya yang ada.

Banjir yang terjadi di Bali ini tidak hanya mengganggu warga lokal, tetapi juga wisatawan yang sedang menikmati liburan di pulau tersebut, yang selama ini dikenal dengan keindahan alamnya.

Bali sering kali menjadi tujuan utama wisatawan, namun cuaca ekstrem yang kerap terjadi, termasuk hujan lebat dan banjir, memperlihatkan pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana.

Walaupun musibah banjir ini telah terjadi beberapa kali, respon cepat dari tim SAR, BPBD, serta upaya evakuasi mandiri menunjukkan solidaritas warga yang tinggi.

Saat banjir melanda, suasana panik langsung terasa di kawasan Sanur, terutama di Jalan Bumiayu. Warga dan turis asing yang menginap di penginapan setempat berusaha mencari tempat aman untuk berlindung dari luapan air.

Perahu karet yang digunakan untuk evakuasi menjadi satu-satunya cara untuk mencapai tempat yang lebih tinggi.

Selain itu, penginapan yang biasanya ramai dengan wisatawan terpaksa harus tutup sementara waktu akibat banjir yang merendam sebagian besar bangunan.

Kejadian ini mengingatkan pentingnya pengelolaan infrastruktur yang lebih baik, khususnya untuk menghadapi cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi di berbagai daerah Bali.

Berdasarkan catatan, banjir ini merupakan yang terburuk sejak Desember 2025. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada upaya mitigasi bencana, perubahan iklim yang mempengaruhi intensitas cuaca ekstrem seperti hujan deras dan banjir tidak dapat diprediksi dengan pasti.

Oleh karena itu, penting bagi pemerintah daerah setempat untuk memperkuat sistem peringatan dini dan kesiapan dalam menghadapi bencana di masa mendatang.

Bali, sebagai destinasi wisata utama Indonesia, membutuhkan perhatian ekstra dalam pengelolaan infrastruktur untuk mengatasi dampak cuaca ekstrem. Terlebih, sektor pariwisata Bali yang bergantung pada kedatangan wisatawan asing sangat terdampak oleh kejadian-kejadian alam seperti banjir.