INBERITA.COM, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mencatatkan kinerja gemilang sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2025. Emiten pertambangan pelat merah ini berhasil menutup periode Januari–September 2025 dengan torehan laba bersih mencapai Rp 6,61 triliun, atau melonjak 197% dibandingkan Rp 2,23 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Lonjakan laba tersebut mempertegas kemampuan Antam menjaga momentum pertumbuhan di tengah fluktuasi harga komoditas global.
Keberhasilan ini didorong oleh strategi hilirisasi yang konsisten, efisiensi biaya produksi, serta penguatan bisnis di tiga lini utama: emas, nikel, dan bauksit.
Direktur Utama PT Aneka Tambang Tbk, Achmad Ardianto, menegaskan pencapaian tersebut menjadi cerminan fundamental perusahaan yang semakin solid.
Ia menyebutkan, hasil positif ini merupakan buah dari transformasi berkelanjutan di tubuh perusahaan, baik dari sisi operasional maupun tata kelola bisnis.
“Perusahaan tidak hanya berfokus pada peningkatan kinerja keuangan, tetapi juga pada penciptaan nilai jangka panjang melalui praktik pertambangan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan. ANTAM terus berinovasi pada setiap aspek operasional, bisnis, dan sustainability guna menciptakan nilai tambah dan manfaat yang berkelanjutan bagi pemegang saham dan pemangku kepentingan,” ujar Achmad Ardianto dalam keterangan resmi, dikutip Selasa (28/10/2025).
Tak hanya laba bersih yang mencatat kenaikan tajam, indikator profitabilitas lain juga menunjukkan tren serupa.
EBITDA Antam naik signifikan 137% menjadi Rp 9,33 triliun dari sebelumnya Rp 3,93 triliun. Laba kotor perusahaan turut meningkat 168% menjadi Rp 10,98 triliun, sedangkan laba usaha melonjak hingga 323% menjadi Rp 7,89 triliun.
Kinerja positif ini juga tercermin dari efisiensi keuangan yang berhasil dilakukan manajemen. Sepanjang periode tersebut, Antam mampu menekan beban keuangan sebesar 41% menjadi Rp 103,68 miliar, seiring upaya pengurangan utang berbunga dan optimalisasi struktur modal. Dengan demikian, laba bersih per saham dasar meningkat 171% menjadi Rp 248,62.
Dari sisi neraca, total aset Antam tumbuh 17% menjadi Rp 48,07 triliun, sementara ekuitas naik 16% menjadi Rp 35,20 triliun.
Kinerja keuangan yang solid turut didukung oleh perbaikan arus kas operasi yang melonjak tajam. Antam mencatat arus kas dari aktivitas operasi sebesar Rp 4,06 triliun, tumbuh 2.455% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pencapaian luar biasa tersebut tidak lepas dari strategi hilirisasi yang terus digencarkan perusahaan. Antam memaksimalkan potensi sumber daya mineral melalui peningkatan kapasitas produksi dan diversifikasi produk olahan, terutama pada sektor nikel dan bauksit yang menjadi fokus utama pemerintah dalam mendorong nilai tambah industri pertambangan nasional.
Langkah efisiensi juga menjadi kunci pertumbuhan profitabilitas Antam. Perusahaan secara agresif melakukan digitalisasi proses produksi, pengendalian biaya operasional, serta optimalisasi rantai pasok untuk meningkatkan daya saing.
Strategi tersebut berhasil menjaga margin keuntungan di tengah volatilitas harga komoditas global yang masih tinggi.
Kinerja bisnis segmen emas turut memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan perusahaan. Antam terus memperkuat posisi sebagai produsen dan penjual emas terbesar di Indonesia melalui pengembangan jaringan distribusi, peningkatan layanan digital, serta program edukasi investasi emas kepada masyarakat.
Sementara itu, di sektor nikel, Antam memanfaatkan momentum peningkatan permintaan global terhadap bahan baku kendaraan listrik.
Hilirisasi produk nikel menjadi salah satu sumber pertumbuhan utama, didukung oleh pengembangan proyek smelter dan kerja sama strategis dengan mitra industri baterai listrik.
Peningkatan performa Antam di tahun 2025 juga menunjukkan efektivitas strategi bisnis berkelanjutan yang diterapkan manajemen.
Fokus perusahaan tidak hanya pada pencapaian keuntungan jangka pendek, tetapi juga pada tanggung jawab sosial dan lingkungan.
Melalui praktik pertambangan yang beretika, efisien energi, dan berorientasi pada keberlanjutan, Antam menegaskan komitmennya terhadap prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance).
Dengan capaian tersebut, Antam memperkuat posisinya sebagai salah satu BUMN tambang dengan fundamental keuangan terkuat di Tanah Air.
Ke depan, perusahaan berkomitmen melanjutkan transformasi bisnis untuk menghadapi tantangan global, termasuk transisi energi dan perubahan pola permintaan mineral strategis.
“Capaian ini menjadi semangat bagi seluruh insan ANTAM untuk terus bertransformasi menuju bisnis yang berkelanjutan. Kami akan menjaga konsistensi dalam inovasi dan efisiensi agar perusahaan tetap tumbuh secara sehat dan memberikan manfaat maksimal bagi seluruh pemangku kepentingan,” tutur Achmad Ardianto.
Dengan pertumbuhan laba yang hampir tiga kali lipat, efisiensi biaya yang signifikan, serta penguatan kinerja di seluruh lini bisnis, Antam menunjukkan bahwa strategi hilirisasi dan keberlanjutan bukan hanya menjadi jargon, melainkan faktor kunci dalam menjaga daya saing dan profitabilitas jangka panjang. (mms)