Viral Ceramah Gus Miftah soal Selat Hormuz, Klaim Diplomasi Prabowo Tuai Pro dan Kontra

INBERITA.COM, Pernyataan pendakwah Miftah Habiburrahman atau yang dikenal sebagai Gus Miftah tengah menjadi sorotan publik setelah potongan ceramahnya viral di media sosial.

Dalam ceramah tersebut, Gus Miftah menyampaikan pujian terhadap Presiden Prabowo Subianto terkait diplomasi Indonesia di kawasan Selat Hormuz, jalur strategis perdagangan energi dunia.

Video ceramah yang beredar luas itu memantik perhatian karena memuat klaim mengenai keberhasilan diplomasi pemerintah Indonesia yang dinilai mampu menjaga akses pelayaran di tengah situasi geopolitik yang memanas.

Seperti diketahui, Selat Hormuz menjadi titik krusial di tengah ketegangan antara Iran dan blok Israel-Amerika Serikat, yang berdampak langsung pada distribusi minyak global.

Dalam potongan ceramahnya, Gus Miftah menyebut peran Presiden Prabowo sebagai faktor penting yang memungkinkan kapal Indonesia tetap melintas di jalur tersebut.

Ia juga mengaitkan hal itu dengan stabilitas harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri yang disebut tidak mengalami lonjakan signifikan.

“Hebatnya, Pak Prabowo apa? Di saat kapal yang melintas dicegat Iran, dua kapal Pertamina yang membawa minyak atas diplomasi Pak Prabowo kapal Indonesia boleh melewati Selat Hormuz. Itulah salah satu penyebab kenapa BBM Indonesia tidak naik,” katanya.

Namun demikian, fakta di lapangan menunjukkan kondisi yang tidak sepenuhnya sejalan dengan pernyataan tersebut.

Hingga Jumat (17/4/2026), dilaporkan dua kapal tanker milik Pertamina masih tertahan di kawasan Selat Hormuz.

Situasi ini menimbulkan pertanyaan publik terkait efektivitas diplomasi yang disebutkan dalam ceramah tersebut.

Di sisi lain, beberapa negara di kawasan Asia Tenggara justru dikabarkan berhasil melakukan pendekatan diplomatik yang memungkinkan kapal mereka melintas tanpa hambatan.

Malaysia, misalnya, disebut mampu meloloskan tujuh kapal tanker melewati Selat Hormuz tanpa dikenakan biaya tol pada awal April 2026.

Perbedaan kondisi ini semakin memicu diskusi publik di media sosial. Tak sedikit warganet yang mempertanyakan pernyataan Gus Miftah, bahkan sebagian melontarkan kritik tajam.

Ceramah tersebut oleh sejumlah netizen dianggap sebagai bentuk dukungan berlebihan terhadap pemerintah, hingga muncul tudingan bahwa pernyataan tersebut bernuansa “menjilat”.

Perdebatan pun meluas di berbagai platform digital, dengan beragam sudut pandang yang muncul dari masyarakat.

Ada yang menilai pernyataan tersebut sebagai bentuk optimisme terhadap pemerintah, namun tidak sedikit pula yang menganggapnya tidak berdasarkan kondisi faktual terkini.

Menanggapi polemik yang berkembang, Gus Miftah akhirnya memberikan klarifikasi.

Ia menegaskan bahwa apa yang disampaikannya bukanlah bentuk pujian tanpa dasar, melainkan merujuk pada informasi yang ia yakini sebagai fakta.

“Saya berbicara berdasarkan fakta yang ada. Loyalitas saya bukan karena kedekatan tapi karena keyakinan, kita sama-sama mengetahui bahwa Presiden melalui Menteri Luar Luar Negeri Pak Sugiono dan Menteri ESDM Pak Bahlil berhasil melakukan diplomasi agar membuka jalur Hormuz untuk Indonesia,” tegas Gus Miftah, Kamis (16/4/2026).

Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa sikapnya merupakan bagian dari konsistensi dalam mendukung kepemimpinan yang dinilainya kuat dan berpihak kepada kepentingan rakyat.

Menurutnya, dukungan tersebut bukan didasari kepentingan pribadi atau pencitraan, melainkan keyakinan atas arah kebijakan yang diambil pemerintah.

Polemik ini memperlihatkan bagaimana pernyataan publik, terutama dari tokoh berpengaruh, dapat dengan cepat memicu respons luas di era digital.

Di sisi lain, isu Selat Hormuz dan stabilitas distribusi energi tetap menjadi perhatian utama, mengingat dampaknya yang signifikan terhadap perekonomian nasional, khususnya terkait harga BBM dan ketahanan energi Indonesia.