Update Banjir Bandang Perbatasan Nepal Tibet: Lebih dari 390 Tewas dan 1.400 Orang Hilang

INBERITA.COM, Bencana alam dahsyat yang melanda wilayah perbatasan Nepal dan Daerah Otonom Tibet, China, telah menelan korban jiwa yang sangat besar.

Laporan resmi menyebutkan lebih dari 1.400 orang dinyatakan hilang sementara lebih dari 390 orang dikonfirmasi tewas akibat banjir bandang dan longsor yang dipicu runtuhnya gletser.

Upaya pencarian dan evakuasi korban masih terus dilakukan meskipun cuaca ekstrem dan medan yang sulit menghambat proses penyelamatan.

Para ahli menduga bencana ini dipicu oleh runtuhnya sebagian gletser berukuran 1 kilometer lebar dan 2 kilometer panjang yang jatuh sejauh 1,2 kilometer ke dasar lembah.

Kejadian ini menyebabkan Sungai Bhotekoshi di Nepal meluap dan menghancurkan pemukiman serta infrastruktur vital, termasuk pembangkit listrik tenaga air.

Korban yang tercatat tidak hanya berasal dari penduduk lokal, tetapi juga wisatawan asing dari lebih dari 30 negara. Otoritas pariwisata Nepal mengungkapkan bahwa sebagian besar korban hilang adalah warga negara India, Malaysia, Ukraina, dan Amerika Serikat.

Di antara mereka juga terdapat satu keluarga asal Jepang yang terdiri dari lima orang, termasuk anak-anak, yang diduga sedang melakukan perjalanan wisata dari wilayah China.

Kedutaan Besar Jepang di Kathmandu telah meminta bantuan otoritas setempat untuk segera menemukan keluarga tersebut.

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi turut menyampaikan belasungkawa kepada para korban dan keluarga melalui pesan resmi yang dikirimkan kepada Presiden China Xi Jinping, Perdana Menteri China Li Qiang, serta Perdana Menteri Nepal Balendra Shah.

Ia juga berharap proses pemulihan bagi para korban dapat berlangsung dengan cepat dan tanpa hambatan.

Di sisi China, kantor berita resmi melaporkan tiga orang tewas dan lebih dari 550 lainnya masih hilang setelah longsor menerjang wilayah Shigatse, salah satu kota besar di Daerah Otonom Tibet.

Longsor ini terjadi tak lama setelah gletser runtuh dan menyebabkan kerusakan parah di kawasan tersebut.

Analisis citra satelit yang dilakukan oleh Hidenori Watanabe, profesor dari Universitas Tokyo, mengonfirmasi bahwa runtuhnya gletser menjadi pemicu utama bencana ini.

Pakar glasiologi menekankan bahwa runtuhnya gletser di wilayah Himalaya semakin sering terjadi akibat perubahan iklim yang mempercepat pencairan es. Peristiwa ini menjadi pengingat akan kerentanan wilayah pegunungan terhadap bencana alam yang semakin tidak terduga.

Para ahli juga memperingatkan bahwa tanpa tindakan serius untuk mengurangi dampak perubahan iklim, kejadian serupa berpotensi terulang di masa depan.

Sementara itu, pemerintah setempat di Nepal dan China telah membentuk tim tanggap darurat untuk menangani dampak bencana.

Mereka juga meminta masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi banjir susulan dan longsor susulan yang dapat terjadi akibat kondisi tanah yang tidak stabil. Infrastruktur yang rusak, termasuk jalan dan jembatan, menjadi prioritas utama dalam upaya pemulihan.

Bencana ini juga menyoroti pentingnya kerja sama internasional dalam menangani dampak bencana alam lintas batas. Nepal dan China telah sepakat untuk saling berbagi informasi dan sumber daya guna mempercepat proses pencarian dan penyelamatan korban.

Selain itu, pemerintah kedua negara juga berkomitmen untuk meningkatkan sistem peringatan dini guna mencegah korban jiwa yang lebih besar di masa depan.

Bagi para korban dan keluarga yang tengah menunggu kabar, ketidakpastian menjadi beban yang sangat berat. Mereka berharap tim pencari dapat menemukan anggota keluarga mereka yang hilang dalam keadaan selamat.

Sementara itu, masyarakat internasional juga turut berduka dan memberikan bantuan kemanusiaan untuk para korban bencana.