Turis Rusia Diduga Aniaya Warga Banyuwangi, Dipicu Salah Paham Soal Suara Sound Horeg

INBERITA.COM, Seorang warga negara asing (WNA) asal Rusia diduga terlibat dalam insiden kekerasan terhadap warga lokal di Banyuwangi, Jawa Timur, pada akhir Maret 2026.

Peristiwa ini menarik perhatian publik setelah dikaitkan dengan keberadaan “sound horeg” yang kerap digunakan dalam berbagai kegiatan masyarakat setempat.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, keributan bermula dari ketidaknyamanan terhadap suara musik yang diputar oleh warga.

Namun demikian, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Banyuwangi, Zaenal Muttaqin, membantah bahwa sumber suara tersebut merupakan sound horeg sebagaimana yang ramai diperbincangkan.

“Jadi itu bukan sound horeg, itu sound biasa. Memang tradisi di Banyuwangi itu kalau Lebaran atau mungkin puasa, pasang sound untuk kadang-kadang secara internal aja lah itu warga,” kata Zaenal saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (4/4/2026).

Zaenal menjelaskan bahwa penggunaan perangkat audio di lingkungan warga merupakan hal yang lazim, terutama dalam momen tertentu seperti bulan Ramadan atau perayaan Lebaran.

Aktivitas tersebut, menurutnya, sudah menjadi bagian dari tradisi lokal dan biasanya tidak menimbulkan persoalan berarti, baik bagi warga maupun wisatawan.

Terlepas dari polemik mengenai jenis perangkat suara yang digunakan, Zaenal menduga bahwa insiden ini lebih disebabkan oleh miskomunikasi antara kedua pihak.

WNA asal Rusia tersebut diduga tidak fasih berbahasa Indonesia, sehingga terjadi kesalahpahaman saat menyampaikan keluhan terkait volume suara musik.

Disebutkan, turis tersebut sempat mengajukan komplain dan meminta agar volume musik dikecilkan. Permintaan tersebut telah dipenuhi oleh warga.

Namun, situasi kemudian memanas hingga berujung pada dugaan aksi kekerasan.

Hingga kini, penyebab pasti pertikaian masih belum dapat dipastikan. WNA asal Rusia tersebut disebut-sebut merupakan pengelola yacht club di kawasan Banyuwangi, namun detail identitas maupun kronologi lengkap kejadian masih dalam penelusuran lebih lanjut.

Akibat insiden tersebut, seorang warga Banyuwangi dilaporkan mengalami luka-luka. Korban bahkan sempat menjalani pemeriksaan medis untuk memastikan kondisi kesehatannya.

“Sempat divisum juga dan kayaknya ada cedera di kaki ya kalau enggak salah,” ujar Zaenal.

Zaenal menegaskan bahwa kejadian seperti ini tergolong langka di Banyuwangi, yang selama ini dikenal sebagai daerah dengan aktivitas penggunaan sound system berkapasitas besar, termasuk yang populer disebut sound horeg.

Menurutnya, selama ini interaksi antara warga lokal dan wisatawan asing berlangsung harmonis.

Ia juga menambahkan bahwa penggunaan sound system dalam berbagai kegiatan justru sering menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan mancanegara.

Tidak sedikit turis asing yang tertarik menyaksikan langsung suasana hajatan atau acara warga yang menggunakan perangkat audio berkapasitas besar.

“Mereka-mereka ini, bule-bule itu, ketika ada hajatan, ada orang punya hajat itu kan pasang sound ya, yang pastinya bukan sound horeg, tapi sound dengan kapasitas untuk outdoor gitu ya, justru bule datang dan melihat di situ,” ungkap Zaenal.

Banyuwangi sendiri merupakan salah satu destinasi wisata unggulan di Jawa Timur yang banyak dikunjungi turis asing.

Wisatawan yang datang didominasi oleh warga negara China, Australia, serta Rusia.

Mereka umumnya menghabiskan waktu beberapa hari untuk menikmati berbagai destinasi wisata sebelum melanjutkan perjalanan ke Bali.

Daya tarik utama Banyuwangi meliputi wisata alam seperti Kawah Ijen dengan fenomena blue fire, serta sejumlah pantai eksotis yang menawarkan pemandangan alam yang memikat.

“Kalau dulu yang lagi booming itu Ijen, blue fire itu kan. Terus banyak juga yang ke pantai juga melihat pemandangan-pemandangan,” pungkasnya.

Kasus ini menjadi pengingat pentingnya komunikasi lintas budaya yang efektif, terutama di daerah wisata yang mempertemukan masyarakat lokal dengan wisatawan mancanegara dari berbagai latar belakang bahasa dan budaya.