INBERITA.COM, Setelah lebih dari satu tahun penutupan akibat konflik berkepanjangan, titik perbatasan Rafah yang menghubungkan Gaza dengan Mesir akhirnya dibuka kembali, memungkinkan warga Palestina yang telah menerima perawatan medis di Mesir untuk kembali ke tanah air mereka.
Keputusan ini membuat warga Palestina yang terjebak di luar negeri kembali mengakses Gaza, meskipun prosesnya masih terbatas.
Sejumlah warga Palestina yang mengikuti gelombang kedua pemulangan tiba di titik penyeberangan Rafah pada Selasa (3/2/2026).
Mereka harus menjalani prosedur administrasi di titik tersebut sebelum akhirnya dapat memasuki Gaza. Kepulangan mereka dilakukan sehari setelah penyeberangan Rafah dibuka sebagian pada Senin (2/2/2026), sebuah langkah yang sangat dinanti oleh banyak pihak.
Menurut laporan Al Qahera News, para warga Palestina yang kembali ini sebelumnya menjalani perawatan medis di rumah sakit-hospital Mesir.
Pembukaan titik perlintasan Rafah menjadi titik harapan bagi mereka yang telah lama menunggu kesempatan untuk pulang setelah lebih dari satu tahun terhalang konflik yang terus berlanjut.
Namun, pembukaan Rafah tidak sepenuhnya mengubah keadaan. Prosedur lintas batas tersebut sangat terbatas pada pejalan kaki, yang hanya diperbolehkan melintas untuk keperluan evakuasi medis. Untuk saat ini, belum ada izin untuk pengiriman barang atau perlintasan kendaraan, menjadikan akses bantuan kemanusiaan ke Gaza tetap terbatas.
Dalam laporan yang sama, media Zionis Israel melaporkan bahwa sekitar 50 warga Palestina diperkirakan akan memasuki Gaza, sementara sekitar 150 orang beserta pendamping mereka dijadwalkan keluar dari Gaza untuk menerima pengobatan medis di Mesir.
Diperkirakan lebih dari 22.000 pasien di Gaza menunggu pembukaan perbatasan ini secara penuh untuk mendapatkan perawatan yang mereka butuhkan.
Pembukaan ini juga terkait dengan perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Hamas, yang dimediasi oleh Amerika Serikat.
Fase kedua dari kesepakatan ini mencakup pembentukan komite Palestina baru untuk memerintah Gaza, pelucutan senjata Hamas, serta langkah-langkah yang lebih luas untuk membangun kembali Gaza yang hancur akibat serangan militer besar-besaran yang dilancarkan Israel sejak 2023.
Penyeberangan Rafah, yang selama ini menjadi titik vital untuk mengalirkan bantuan kemanusiaan ke Gaza, sempat ditutup sejak Mei 2024 setelah Israel menguasai kawasan tersebut setelah serangan besar-besaran mereka ke Gaza.
Agresi militer Israel sejak Oktober 2023 telah menewaskan lebih dari 71.000 orang dan melukai lebih dari 171.000 lainnya.
Seiring dengan pembukaan sebagian Rafah, otoritas kesehatan Gaza memperkirakan bahwa lebih banyak warga yang membutuhkan bantuan medis akan terus berupaya untuk mendapatkan akses melalui jalur yang terbatas ini.
Hanya 50 orang yang bisa melintasi perbatasan dalam sehari, baik untuk memasuki Gaza dari Mesir atau sebaliknya.
Meski saat ini gencatan senjata masih berlangsung, Israel tetap melakukan serangan sporadis ke Gaza.
Menurut laporan kantor media Gaza, 524 warga Gaza tewas dan 1.360 lainnya terluka akibat serangan Israel sejak Oktober 2025, menunjukkan bahwa meskipun ada pembicaraan damai, situasi di lapangan tetap penuh ketegangan dan kekerasan.
Sebagian dari mereka yang kembali, sudah tiba di Rumah Sakit Nasser di Khan Yunis, Gaza selatan, pada Senin (2/2/2026). Mereka tiba menggunakan kendaraan yang dilabeli Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), menandakan bahwa pemulangan ini juga terkait dengan bantuan internasional.
Proses pemulangan ini adalah bagian dari fase kedua dari kesepakatan gencatan senjata yang diupayakan oleh Amerika Serikat, yang telah mendapat sambutan dari berbagai pihak.
Namun, meskipun ada pembukaan perlintasan Rafah, banyak warga Gaza yang menanti akses penuh ke perbatasan agar dapat kembali hidup normal setelah melewati masa-masa penuh penderitaan.
Kini, meskipun gencatan senjata masih ada, kondisi kemanusiaan di Gaza masih membutuhkan perhatian serius. Warga Gaza yang kembali setelah menerima perawatan medis menjadi salah satu kisah harapan di tengah krisis yang panjang.
Namun, pembukaan perlintasan Rafah yang terbatas menunjukkan bahwa jalan menuju pemulihan penuh bagi Gaza masih panjang dan penuh tantangan.
Dengan pembukaan ini, masyarakat internasional terus menunggu langkah-langkah berikutnya dalam perundingan untuk meredakan ketegangan dan memberikan kesempatan bagi Gaza untuk membangun kembali, sementara peran PBB dan negara-negara besar terus dinantikan untuk mendukung perdamaian yang berkelanjutan.
Kesimpulan: Pembukaan sebagian titik perlintasan Rafah memberikan harapan baru bagi warga Palestina yang telah lama terhalang aksesnya.
Meskipun begitu, akses yang terbatas ini menunjukkan bahwa masih banyak tantangan yang harus dihadapi Gaza, baik dalam hal perawatan medis maupun kebutuhan kemanusiaan lainnya.
Pembukaan Rafah menjadi langkah penting dalam implementasi gencatan senjata, namun proses pemulihan Gaza masih jauh dari selesai. (*)







