INBERITA.COM, GRESIK – Nasib malang menimpa Triyani (45), warga Semarang, yang harus terlantar selama tiga hari di Gresik setelah tertipu lowongan pekerjaan palsu. Uang habis, perut lapar, dan tidur di emperan toko menjadi kisah getir yang dialaminya di Kota Pudak.
Perempuan paruh baya itu berangkat dari Semarang dengan harapan mendapat pekerjaan layak sebagai asisten rumah tangga (ART) di Gresik.
Namun, yang menantinya bukan pekerjaan, melainkan jebakan penipuan bermodus rekrutmen kerja lewat pesan WhatsApp.
Rabu (12/11) malam, keberuntungan akhirnya berpihak pada Triyani. Seorang pengemudi ojek online yang menemukannya dalam kondisi lemah dan kebingungan memutuskan untuk menolong. Ia kemudian dibawa ke Polres Gresik untuk mendapatkan bantuan.
“Akhirnya kita antar ke terminal Bunder untuk naik bus ke Semarang. Kita biayai,” ujar Kasi Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial (Dinsos) Gresik, Alvi Ariyanto, saat dikonfirmasi.
Menurut Alvi, Triyani datang ke Gresik karena tergiur tawaran pekerjaan yang dikirim melalui pesan WhatsApp.
Tawaran tersebut terdengar meyakinkan—gaji tetap, tempat tinggal disediakan, dan pekerjaan ringan. Namun, semua janji itu hanyalah tipu muslihat.
“Dia juga sudah setor sejumlah uang kepada penipu itu. Tapi setelah sampai di Gresik, nomor langsung diblokir,” jelas Alvi.
Setelah menyadari dirinya ditipu, Triyani kebingungan. Uang yang dibawa sudah habis untuk ongkos perjalanan, sementara janji pekerjaan tak kunjung nyata.
Tanpa tempat tinggal dan bekal, ia pun bertahan seadanya, tidur di emperan toko, dan hanya mengandalkan belas kasihan warga sekitar.
“Sudah tiga hari terlantar di Gresik. Tapi untungnya datang ke Polres lalu koordinasi dengan Dinsos,” kata Alvi.
Dinas Sosial Gresik kemudian bergerak cepat membantu Triyani agar bisa kembali ke kampung halamannya di Semarang.
Setelah melalui koordinasi dengan pihak kepolisian, Triyani akhirnya diantar menuju Terminal Bunder dan dipulangkan menggunakan bus antar-kota. Semua biaya perjalanan ditanggung oleh Dinsos Gresik.
Saat ditemukan, Triyani hanya membawa dua tas berisi pakaian dan dokumen identitas pribadi. Tidak ada uang tersisa, bahkan untuk sekadar membeli makan.
“Kami beri pesan agar tidak gampang percaya. Karena modus penipuan pekerjaan sering terjadi,” pungkas Alvi.
Kasus yang menimpa Triyani menambah panjang daftar korban penipuan lowongan kerja fiktif di Indonesia. Modus yang digunakan para pelaku biasanya melalui pesan singkat, media sosial, atau grup percakapan daring.
Tawaran kerja yang terdengar meyakinkan sering kali disertai permintaan uang muka dengan alasan administrasi, biaya seragam, atau ongkos transportasi.
Banyak korban, seperti Triyani, yang akhirnya terjebak karena minim informasi dan terburu-buru percaya pada tawaran pekerjaan tanpa memastikan kebenarannya.
Para penipu memanfaatkan harapan besar pencari kerja terhadap peluang ekonomi, terutama bagi mereka yang berasal dari luar daerah.
Dinsos Gresik mengimbau masyarakat untuk selalu berhati-hati terhadap tawaran kerja yang datang secara daring, terutama jika diminta membayar sejumlah uang sebelum proses rekrutmen berlangsung.
Warga juga disarankan untuk memverifikasi keaslian perusahaan melalui situs resmi, alamat kantor, atau konfirmasi langsung ke instansi terkait.
Kisah Triyani menjadi pengingat bahwa kewaspadaan adalah benteng utama melawan penipuan lowongan kerja. Di tengah situasi ekonomi yang menantang, banyak orang mencari penghasilan tambahan atau pekerjaan baru, namun peluang tersebut harus diimbangi dengan kehati-hatian dalam menyaring informasi.
Kini, Triyani bisa bernapas lega setelah berhasil pulang ke Semarang. Namun, pengalaman pahit yang dialaminya di Gresik menjadi pelajaran berharga bagi masyarakat luas agar tidak mudah percaya pada tawaran kerja yang datang secara tiba-tiba.
Penipuan berkedok lowongan kerja bukan hanya merugikan secara materi, tetapi juga mengancam keselamatan dan martabat korban.
Pemerintah daerah bersama aparat penegak hukum diharapkan terus memperketat pengawasan serta memberikan edukasi kepada masyarakat, agar kasus serupa tidak kembali terjadi.
Triyani mungkin sudah kembali ke rumah, namun kisahnya menjadi cermin bagi banyak orang tentang pentingnya verifikasi informasi sebelum melangkah.
Harapan untuk mendapatkan pekerjaan seharusnya tidak membuat seseorang abai terhadap tanda-tanda kecurangan yang semakin marak di era digital. (mms)