INBERITA.COM, Kondisi tanggul penahan lumpur Lapindo di kawasan Porong, Kabupaten Sidoarjo, kembali menjadi perhatian setelah permukaan lumpur dilaporkan semakin mendekati bibir tanggul.
Jarak antara permukaan lumpur dengan puncak tanggul kini diperkirakan hanya sekitar 20 sentimeter, memunculkan kewaspadaan terhadap potensi luapan apabila terjadi peningkatan debit atau gangguan pada struktur tanggul.
Situasi tersebut terpantau di titik 10D, Kelurahan Siring, yang selama ini menjadi salah satu area penting dalam sistem pengendalian lumpur.
Dari hasil pemantauan di lapangan, tanggul yang baru selesai ditinggikan tampak masih kering, tetapi sudah memperlihatkan retakan di beberapa bagian.
Kondisi itu menimbulkan kekhawatiran karena retakan dapat menjadi titik lemah apabila menerima tekanan lumpur dalam volume besar.
Sejumlah petugas terus melakukan pemantauan secara intensif mengingat perubahan kondisi dapat berlangsung dalam waktu singkat.
Selain menjaga stabilitas tanggul, pengawasan juga difokuskan pada kemungkinan munculnya rembesan atau kebocoran yang berpotensi berkembang menjadi kerusakan lebih besar.
Seorang petugas Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS) yang berada di lokasi menjelaskan bahwa kenaikan permukaan lumpur dipicu oleh perubahan arah aliran semburan.
Saat ini, debit lumpur dan air lebih banyak mengalir ke sisi utara sehingga tekanan pada tanggul di kawasan tersebut meningkat.
“Debit air dan lumpur sekarang mengarah ke utara. Akibatnya, permukaan di tanggul sebelah utara naik, bahkan tadi pagi sempat terjadi kebocoran,” ujar petugas tersebut kepada wartawan.
Kebocoran yang sempat muncul disebut telah ditangani agar tidak berkembang menjadi luapan yang lebih besar. Meski demikian, kondisi tersebut menjadi indikator bahwa penguatan tanggul harus terus dilakukan selama tekanan lumpur masih tinggi.
Pemandu wisata Lumpur Lapindo, Sastro, juga mengamati adanya perubahan signifikan dalam beberapa hari terakhir.
Menurutnya, volume air bercampur lumpur terus meningkat selama sekitar empat hari berturut-turut sehingga pekerjaan peninggian tanggul dilakukan sebagai langkah darurat untuk mempertahankan daya tampung.
“Kalau tanggul tidak ditinggikan, kemungkinan air dan lumpur sudah meluber. Peninggian tanggul dilakukan menggunakan material tanah lumpur yang diambil dari sekitar tanggul,” katanya.
Ia menambahkan, perubahan kondisi tersebut diduga berkaitan dengan penurunan permukaan tanah pada sejumlah titik tanggul, khususnya dari titik 10D hingga titik 71.
Penurunan itu menyebabkan distribusi aliran lumpur berubah sehingga tekanan tidak lagi merata seperti sebelumnya.
Penjelasan tersebut sejalan dengan keterangan Perencanaan dan Pelaksana PPLS, Arif Firmanto. Ia membenarkan bahwa terjadi penurunan tanah di kawasan tanggul titik 10D yang berdampak langsung terhadap arah aliran lumpur.
“Memang terjadi penurunan tanah di titik 10D. Karena itu air dan lumpur bergerak ke arah barat mendekati rel kereta api serta mengarah ke utara,” ujar Arif.
Perubahan arah aliran tersebut menjadi perhatian karena membawa lumpur lebih dekat ke sejumlah infrastruktur penting.
Selain menuju sisi utara, sebagian aliran kini bergerak ke arah barat yang berdekatan dengan jalur rel kereta api dan kawasan Jalan Raya Porong, dua jalur transportasi vital di wilayah tersebut.
Meski demikian, hingga kini aktivitas transportasi di sekitar lokasi masih berlangsung normal. Petugas terus melakukan pengawasan agar setiap perubahan kondisi dapat segera direspons sebelum memengaruhi fasilitas umum maupun aktivitas masyarakat.
Arif menjelaskan bahwa jika dibandingkan dengan masa awal bencana pada 2006, volume semburan lumpur sebenarnya telah mengalami penurunan yang cukup signifikan. Pada fase awal, debit lumpur diperkirakan mencapai sekitar 100.000 hingga 120.000 meter kubik per hari.
Saat ini, volume semburan berada pada kisaran 27.000 hingga 32.000 meter kubik per hari. Walaupun lebih rendah dibandingkan hampir dua dekade lalu, jumlah tersebut masih tergolong besar sehingga membutuhkan sistem pengendalian yang bekerja secara konsisten.
Menurutnya, karakter lumpur Lapindo juga berbeda dengan aliran air biasa. Kandungan material padat yang tinggi membuat pergerakannya relatif lambat, tetapi memberikan tekanan besar terhadap tanggul penahan.
Karena itu, kondisi tanggul tidak hanya dipengaruhi oleh tinggi permukaan lumpur, tetapi juga stabilitas tanah dan kekuatan struktur penahan.
Retakan yang muncul pada tanggul baru pun menjadi salah satu aspek yang terus dipantau.
Dalam pengelolaan kawasan lumpur, retakan tidak selalu berarti tanggul akan jebol, namun tetap memerlukan evaluasi teknis karena dapat berkembang akibat tekanan, penurunan tanah, maupun perubahan kadar air pada material penyusun tanggul.
Selain memperkuat tanggul, pemantauan rutin terhadap elevasi permukaan lumpur dan kondisi tanah menjadi bagian penting dari upaya mitigasi.
Langkah ini bertujuan mendeteksi lebih dini potensi risiko sehingga penanganan dapat dilakukan sebelum terjadi luapan yang membahayakan kawasan sekitar.
Peristiwa ini juga mengingatkan bahwa meski bencana lumpur Lapindo telah berlangsung sejak 2006, pengelolaan kawasan masih menjadi pekerjaan jangka panjang.
Perubahan kondisi geologi, penurunan tanah, serta dinamika aliran lumpur membuat sistem pengamanan harus terus disesuaikan dengan situasi di lapangan.
Hingga saat ini, proses pemantauan dan penguatan tanggul di kawasan Porong masih terus berlangsung.
Aparat teknis bersama petugas lapangan berupaya memastikan tanggul tetap mampu menahan tekanan lumpur, terutama pada titik-titik yang mengalami penurunan tanah dan berada dekat dengan infrastruktur strategis.
Dengan kondisi permukaan lumpur yang hanya berjarak sekitar 20 sentimeter dari bibir tanggul, kewaspadaan tetap menjadi prioritas untuk mencegah terjadinya luapan yang dapat berdampak lebih luas.