INBERITA.COM, Rasa khawatir kembali menyelimuti ratusan keluarga yang bermukim di sekitar kawasan lumpur Lapindo di Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo.
Ingatan akan peristiwa amblesnya tanggul penahan lumpur beberapa tahun lalu membuat warga terus memantau perkembangan kondisi tanggul yang kini menahan jutaan meter kubik lumpur dan air di area penampungan.
Kecemasan itu dirasakan terutama oleh warga Desa Gempolsari yang tinggal di kawasan paling dekat dengan tanggul. Posisi rumah-rumah mereka berada di sisi bawah tanggul dengan jarak hanya sekitar 25 hingga 30 meter.
Sementara struktur tanggul yang membatasi kolam penampungan lumpur dengan permukiman warga memiliki ketinggian sekitar 12 hingga 15 meter.
Situasi tersebut membuat sebagian warga mengaku tidak pernah benar-benar tenang, terlebih ketika memasuki musim hujan atau saat volume lumpur dan air di kolam penampungan meningkat.
Mereka menilai risiko yang dihadapi tidak bisa dianggap sepele karena dampaknya dapat langsung mengancam keselamatan permukiman.
Kawasan yang berada paling dekat dengan tanggul mencakup sejumlah lingkungan di Desa Gempolsari, di antaranya RT 6, RT 7, sebagian RT 9, serta RT 11 hingga RT 16. Diperkirakan terdapat sekitar 220 hingga 270 kepala keluarga yang tinggal di area tersebut.
Ketua RT setempat, Sudarmawan, mengatakan kekhawatiran warga kembali menguat setelah melihat kondisi kolam penampungan yang berada di atas tanggul. Menurutnya, volume air dan lumpur yang berada di area tersebut selalu menjadi perhatian utama masyarakat.
“Ratusan warga di Desa Gempolsari merasa cemas apabila tanggul penahan lumpur mengalami penurunan tanah lagi. Di atas tanggul itu, ada kolam penampungan air dan lumpur yang luasnya belasan hektare. Kalau sampai terjadi sesuatu, warga yang tinggal di bawah tanggul tentu sangat khawatir,” ujarnya kepada awak media.
Trauma warga tidak muncul tanpa alasan. Pada Oktober 2018, tanggul penahan lumpur pernah mengalami penurunan tanah yang cukup signifikan. Saat itu, bagian tanggul dilaporkan ambles sepanjang sekitar 100 meter dengan kedalaman mencapai 5 meter.
Meski tidak sampai menyebabkan bencana besar, kejadian tersebut meninggalkan kekhawatiran mendalam di tengah masyarakat. Banyak warga menilai peristiwa itu menjadi bukti bahwa ancaman terhadap kawasan sekitar tanggul tetap ada dan harus diantisipasi secara serius.
“Tanggul ini pernah ambles pada tahun 2018. Waktu itu panjangnya sekitar 100 meter dan kedalamannya sekitar 5 meter. Sejak kejadian itu warga menjadi resah karena takut tanggul sewaktu-waktu jebol,” kata Sudarmawan.
Kekhawatiran tersebut semakin menguat setelah muncul informasi mengenai meningkatnya permukaan air di salah satu kolam penampungan lumpur.
Dalam beberapa hari terakhir, pihak Pelaksana Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (PPLS) diketahui melakukan peninggian tanggul di titik 71 Desa Ketapang Keres, Kecamatan Tanggulangin.
Lokasi tersebut berada tidak jauh dari sejumlah infrastruktur vital, termasuk jalur kereta api dan akses jalan raya di sekitar Tol Buntung. Peninggian tanggul dilakukan sekitar 1 hingga 1,5 meter setelah permukaan air dilaporkan mendekati bibir tanggul lama.
Dari pantauan di kawasan lumpur, permukaan air terlihat hampir sejajar dengan bagian atas tanggul yang sebelumnya digunakan sebagai batas penampungan.
Kondisi itu memunculkan perhatian publik karena berpotensi menimbulkan risiko jika tidak ditangani secara cepat.
Sastro, salah satu pemandu wisata lumpur Lapindo, mengungkapkan bahwa kenaikan debit air terjadi dalam kurun waktu sekitar satu pekan terakhir. Faktor cuaca disebut menjadi salah satu penyebab meningkatnya volume air di area penampungan.
“Kurang lebih satu minggu kemarin airnya sudah hampir meluber. Akhirnya dilakukan peninggian tanggul oleh PPLS,” ujarnya.
Menurut dia, tingginya intensitas hujan yang terjadi belakangan ini berkontribusi terhadap bertambahnya debit air. Selain itu, peningkatan volume semburan lumpur juga membuat kapasitas kolam penampungan menghadapi tekanan lebih besar dibandingkan kondisi normal.
“Karena sering hujan dan volume semburan juga meningkat, air di kolam penampungan semakin naik,” katanya.
Warga menilai langkah peninggian tanggul merupakan tindakan yang diperlukan untuk mencegah risiko yang lebih besar.
Namun demikian, mereka berharap upaya tersebut tidak berhenti pada pekerjaan fisik semata. Pengawasan rutin, evaluasi struktur tanggul, serta sistem peringatan dini dianggap penting untuk memastikan keamanan kawasan dalam jangka panjang.
Sudarmawan berharap peristiwa amblesnya tanggul yang pernah terjadi delapan tahun lalu tidak kembali terulang.
Baginya, keamanan tanggul bukan hanya persoalan infrastruktur, tetapi juga menyangkut keselamatan ratusan keluarga yang setiap hari hidup berdampingan dengan kawasan lumpur.
“Semoga kejadian tahun 2018 itu tidak terulang lagi. Karena kalau sampai terjadi saat volume air dan lumpur penuh, dampaknya bisa sangat besar bagi Desa Gempolsari. Warga hanya berharap tanggul tetap aman dan terus dipantau,” tuturnya.
Di tengah meningkatnya volume air dan lumpur, harapan warga kini tertuju pada pengawasan yang lebih ketat serta langkah antisipasi berkelanjutan.
Bagi mereka, menjaga tanggul tetap stabil bukan sekadar mencegah kerusakan konstruksi, melainkan menjaga rasa aman bagi ratusan keluarga yang telah bertahun-tahun hidup di sekitar kawasan terdampak lumpur Lapindo.