Sumatera Siaga Bencana, BNPB Jalankan Rekayasa Cuaca untuk Kurangi Curah Hujan

INBERITA.COM, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memulai Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) secara serentak di tiga provinsi sekaligus—Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat—sebagai langkah cepat menghadapi meningkatnya ancaman bencana hidrometeorologi, terutama banjir dan tanah longsor.

Upaya ini dilaksanakan bersama Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah, dengan fokus utama mengurangi potensi curah hujan di area rawan melalui rekayasa atmosfer yang mengalihkan awan hujan ke wilayah yang lebih aman.

OMC menjadi intervensi strategis ketika intensitas hujan ekstrem terus meningkat dalam beberapa pekan terakhir.

BNPB menyatakan operasi lintas kementerian dan lembaga ini dijalankan sebagai dukungan mitigasi sekaligus penanganan darurat di tiga provinsi yang saat ini menghadapi kondisi kritis akibat cuaca ekstrem.

Menurut BNPB, langkah tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mengutamakan keselamatan masyarakat serta memperkuat kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi yang cenderung meningkat pada musim penghujan.

Di Provinsi Aceh, operasi rekayasa cuaca resmi dimulai hari ini, Jumat (28/11), dengan menggunakan pesawat PK-SNP dari Posko Bandara Sultan Iskandar Muda.

Tim gabungan BNPB dan BMKG menargetkan sejumlah area rawan banjir dan longsor di Aceh sebagai prioritas penyemaian garam untuk memecah potensi awan hujan sebelum mencapai titik-titik berisiko tinggi.

Pemilihan wilayah operasi dilakukan berdasarkan analisis dinamika atmosfer harian yang menunjukkan konsentrasi awan konvektif dan potensi pembentukan hujan lebat.

Sementara itu, di Sumatera Utara, operasi sudah lebih dahulu bergerak sejak Kamis (27/11) dari Posko Bandara Kualanamu.

BNPB melaporkan hingga hari ini telah dilaksanakan empat sortie penerbangan dengan total 3.200 kilogram bahan semai berupa Natrium Klorida (NaCl) dan Kalsium Oksida (CaO).

Penggunaan kombinasi dua bahan semai tersebut bertujuan mempercepat proses penguapan dan memicu pelepasan hujan di kawasan yang lebih aman, sebelum awan memasuki area permukiman padat maupun wilayah dengan morfologi tanah labil yang rentan longsor.

Adapun di Sumatera Barat, OMC dijadwalkan mulai beroperasi besok, Sabtu (29/11). Dua pesawat—PK-DPI dan PK-SNK—akan dikerahkan dari Posko Bandara Internasional Minangkabau untuk mendukung penanganan kondisi darurat di wilayah yang dalam beberapa hari terakhir melaporkan kerusakan infrastruktur, gangguan transportasi, dan meningkatnya risiko banjir bandang akibat curah hujan berintensitas tinggi.

Tim teknis memetakan setidaknya beberapa titik kritis di daerah perbukitan, aliran sungai, dan kawasan padat penduduk yang membutuhkan intervensi cepat melalui modifikasi cuaca.

BNPB menegaskan bahwa intervensi ini menjadi sangat penting mengingat situasi darurat yang berkembang cepat. Di Aceh, banjir telah meluas ke berbagai kecamatan dan berdampak pada akses jalan, permukiman, dan fasilitas publik.

Di Sumatera Utara, ancaman longsor dan banjir bandang meningkat signifikan karena kondisi tanah jenuh air akibat hujan berturut-turut dalam durasi panjang.

Sementara di Sumatera Barat, dampak cuaca ekstrem mulai dirasakan masyarakat, termasuk kerusakan jembatan, meluapnya sungai, dan gangguan pada aktivitas ekonomi.

Melalui operasi ini, BNPB berharap dapat menekan risiko bencana yang berpotensi mengancam keselamatan masyarakat.

OMC diproyeksikan berjalan beberapa hari ke depan dengan pola operasi yang fleksibel mengikuti perkembangan cuaca harian.

Tim pemantau dari BMKG akan terus memperbarui data atmosfer guna memastikan efektivitas penyemaian awan pada area prioritas.

Menurut BNPB, keberhasilan operasi sangat bergantung pada ketepatan membaca dinamika cuaca serta koordinasi antarinstansi dalam merespons perubahan kondisi secara cepat.

BNPB menekankan bahwa upaya mitigasi berbasis teknologi seperti OMC merupakan bagian penting dari strategi nasional dalam menghadapi bencana hidrometeorologi yang setiap tahun menimbulkan kerugian besar, baik secara ekonomi maupun sosial.

“BNPB menegaskan komitmennya untuk terus mendukung upaya mitigasi risiko bencana demi menjaga keselamatan masyarakat di tiga provinsi tersebut, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto,” demikian pernyataan lembaga tersebut.

Dengan meningkatnya frekuensi hujan ekstrem dan kondisi geografis Sumatera yang memiliki banyak wilayah pegunungan, aliran sungai besar, serta permukiman yang berada di daerah rawan longsor, pemerintah menilai intervensi modifikasi cuaca menjadi langkah yang tidak bisa ditunda.

Selain mengurangi dampak langsung curah hujan, operasi ini juga bertujuan menjaga infrastruktur vital, memastikan kelancaran logistik, dan memberikan waktu lebih bagi pemerintah daerah untuk memperkuat upaya evakuasi maupun penanganan di lapangan.

Seiring operasi berjalan di tiga provinsi, BNPB bersama BMKG dan BPBD setempat akan terus mengedukasi masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem.

Masyarakat diimbau mengikuti informasi resmi dari instansi terkait dan segera melapor kepada aparat jika terjadi kenaikan debit air, pergerakan tanah, atau tanda-tanda awal bencana lainnya.

Pemerintah pusat memastikan seluruh sumber daya dioptimalkan untuk menghadapi ancaman hidrometeorologi yang diperkirakan masih berlangsung dalam beberapa hari ke depan.