Sudah 2000 Korban Jiwa, Heatwave Eropa Makin Parah, Warga Berebut AC hingga Risiko Kebakaran Hutan Meningkat

Kebakaran hutan prancis heatwaveKebakaran hutan prancis heatwave
Petugas pemadam kebakaran berjuang mengendalikan kebakaran hutan yang dipicu cuaca panas ekstrem di Prancis.

INBERITA.COM, Gelombang panas ekstrem kembali mengancam Eropa Barat, dengan Spanyol dan Prancis bersiap menghadapi suhu yang diperkirakan mencapai 44 derajat Celsius dalam beberapa hari ke depan.

Peringatan ini muncul setelah rangkaian cuaca panas sepanjang Juni 2026 dikaitkan dengan lebih dari 2.000 kematian berlebih di kedua negara, menjadikannya salah satu periode paling mematikan akibat suhu ekstrem dalam beberapa tahun terakhir.

Badan Meteorologi Spanyol (Aemet) memperingatkan bahwa massa udara panas dan kering mulai bergerak melintasi sebagian besar wilayah negara itu sejak akhir pekan.

Kondisi ini diperkirakan semakin intens pada awal pekan, terutama di wilayah tenggara yang berpotensi mencatat suhu antara 42 hingga 44 derajat Celsius.

Juru bicara Aemet, Rubén del Campo, menyebut tren kenaikan suhu masih berlanjut dan kemungkinan gelombang panas baru belum sepenuhnya bisa dihindari.

“Suhu akan mulai meningkat selama akhir pekan dan kami tidak bisa mengesampingkan kemungkinan terjadinya gelombang panas lagi,” ujarnya.

Di Prancis, data sementara menunjukkan sekitar 1.000 kematian tambahan selama periode gelombang panas 10 hari pada akhir Juni.

Angka tersebut masih dalam proses verifikasi, namun otoritas kesehatan sudah memperingatkan bahwa dampaknya signifikan terhadap kelompok rentan, terutama lansia.

Sistem pemantauan kematian di Spanyol mencatat lebih dari 1.029 kematian yang diduga terkait suhu tinggi sepanjang Juni. Meski demikian, para ahli menegaskan angka tersebut masih bisa berubah seiring pendalaman data.

Dampak paling berat terlihat pada kelompok usia lanjut. Layanan darurat medis di Prancis melaporkan lonjakan drastis kasus kesehatan akibat panas ekstrem, termasuk peningkatan kematian warga di atas 75 tahun hingga 85 persen dalam dua pekan terakhir Juni.

Dalam satu pekan saja, lebih dari 500 lansia dilaporkan meninggal, jauh lebih tinggi dibanding pekan sebelumnya.

Selain itu, kasus heatstroke melonjak hampir lima kali lipat, sementara dehidrasi meningkat lebih dari tiga kali lipat. Kondisi ini menunjukkan bagaimana suhu ekstrem tidak hanya meningkatkan angka kematian, tetapi juga menekan sistem kesehatan secara signifikan.

Gelombang panas juga memicu efek lanjutan yang meluas. Di Spanyol, otoritas memperingatkan meningkatnya risiko kebakaran hutan akibat kondisi kering ekstrem, terutama di wilayah selatan.

Sementara di Prancis, sejumlah kebakaran besar dilaporkan masih sulit dikendalikan, termasuk dua titik api di sekitar Marseille yang telah membakar lebih dari seribu hektare lahan.

Selain kebakaran, otoritas Prancis juga mencatat peningkatan kasus tenggelam selama periode panas ekstrem. Warga yang mencari cara untuk mendinginkan diri di tengah suhu tinggi diduga turut berkontribusi pada meningkatnya kecelakaan di perairan terbuka.

Di tengah kondisi tersebut, muncul fenomena kepanikan warga yang berebut pendingin ruangan. Di Paris dan sekitarnya, ratusan orang mengantre di sejumlah supermarket setelah adanya penjualan AC portabel dengan harga jauh di bawah pasar.

Antrean panjang bahkan memicu kepadatan hingga aparat kepolisian harus turun tangan mengatur situasi.

Sejumlah warga mengaku tidak mendapatkan unit karena stok habis sebelum mereka sempat membeli, memperlihatkan tingginya permintaan di tengah ancaman suhu ekstrem yang semakin dekat.

Para ilmuwan menegaskan bahwa gelombang panas yang semakin sering terjadi di Eropa merupakan dampak langsung dari perubahan iklim yang dipicu aktivitas manusia.

Selain meningkatkan risiko kematian, kondisi ini juga membebani infrastruktur kesehatan, memperbesar potensi kebakaran hutan, dan mengganggu aktivitas ekonomi maupun sosial masyarakat.

Data meteorologi Spanyol mencatat Juni 2026 sebagai bulan Juni terpanas kedua dalam sejarah pencatatan, hanya sedikit di bawah rekor tahun sebelumnya.

Dengan tren suhu yang terus meningkat, otoritas Eropa kini menghadapi tekanan untuk memperkuat strategi mitigasi menghadapi cuaca ekstrem yang diperkirakan akan semakin sering terjadi di tahun-tahun mendatang.