INBERITA.COM, Starlink, layanan internet satelit milik SpaceX yang dipimpin oleh Elon Musk, baru saja mengamankan kesepakatan besar dengan perusahaan telekomunikasi global Veon.
Kesepakatan ini memungkinkan Starlink untuk memperluas jangkauan layanannya dengan langsung menghubungkan sambungan internet satelit ke ponsel (direct-to-cell).
Pengumuman ini dilakukan pada Kamis (6/11), yang menandai tonggak baru bagi Starlink dalam upaya memperluas pasar dan menjangkau lebih dari 150 juta konsumen potensial di beberapa negara.
Layanan direct-to-cell Starlink pertama kali diumumkan pada Agustus 2022. Pada awalnya, layanan ini menuai kontroversi di kalangan operator telekomunikasi karena khawatir dapat mengancam eksistensi mereka di pasar.
Namun, seiring berjalannya waktu, Starlink berhasil menggandeng sejumlah perusahaan telekomunikasi besar untuk menjalin kemitraan strategis, termasuk Veon yang memiliki jaringan operator di beberapa negara besar.
Kesepakatan terbaru ini memungkinkan Veon untuk mengintegrasikan layanan Starlink ke dalam jaringan telekomunikasinya, yang meliputi operator Beeline di Kazakhstan dan Kyivstar di Ukraina.
Veon juga beroperasi di sejumlah negara lainnya, termasuk Pakistan, Bangladesh, dan Uzbekistan, yang membuka peluang pasar lebih luas untuk layanan direct-to-cell Starlink.
Kyivstar dijadwalkan meluncurkan layanan direct-to-cell Starlink pada kuartal IV 2025, sementara Beeline di Kazakhstan akan mengikuti pada tahun 2026.
Hal ini menjadi langkah penting dalam memperluas akses internet satelit langsung ke ponsel di negara-negara dengan infrastruktur telekomunikasi yang lebih terbatas.
Ilya Polshakov, Direktur Bisnis Kyivstar yang memimpin inisiatif konektivitas satelit Veon, menyatakan, “Ini adalah kesepakatan terbesar dalam hal jangkauan basis konsumen di dunia. Kami sangat bersemangat dengan kemitraan ini dan akan ada lebih banyak pengumuman dalam waktu dekat.”
Dengan kesepakatan ini, Starlink mendapat kesempatan untuk mengakses lebih dari 150 juta pelanggan potensial melalui operator yang berada di bawah naungan Veon.
Ini merupakan pencapaian besar mengingat Starlink kini telah memiliki lebih dari 7 juta pengguna global dan bekerja sama dengan operator telekomunikasi di 11 negara, termasuk T-Mobile di Amerika Serikat dan Rogers di Kanada.
Salah satu hal yang menarik dari kesepakatan ini adalah sifatnya yang non-eksklusif, yang memungkinkan Veon untuk menjalin kerja sama dengan penyedia satelit lain.
CEO Veon, Kaan Terzioglu, mengatakan pada Agustus lalu bahwa mereka juga sedang berdiskusi dengan beberapa pesaing utama Starlink, termasuk Project Kuiper milik Amazon, AST SpaceMobile, dan Eutelsat OneWeb.
Polshakov juga menyatakan bahwa Veon berencana menjajaki kerja sama dengan pemain-pemain lain pada tahun 2027 atau 2028.
“Saya tidak ingin menunggu terlalu lama. Saya ingin mengembangkan bisnis kami sekarang juga,” ujar Polshakov, menekankan bahwa kecepatan dalam memperluas jaringan dan teknologi sangat penting.
Di sisi lain, kompetisi di pasar satelit semakin ketat dengan kehadiran perusahaan-perusahaan besar seperti AST SpaceMobile dan Project Kuiper milik Amazon yang semakin agresif mengembangkan konstelasi satelit mereka.
Diperkirakan peluncuran komersial dari layanan mereka akan berlangsung pada tahun 2026.
AST SpaceMobile sendiri sudah menjalin kesepakatan dengan Verizon di Amerika Serikat dan STC di Arab Saudi, sementara Project Kuiper juga telah memulai pembangunan satelit untuk menghubungkan lebih banyak konsumen dengan layanan internet satelit.
Selain itu, EchoStar juga mengumumkan rencananya untuk memperluas kesepakatan dengan SpaceX terkait lisensi gelombang udara tambahan yang bernilai sekitar $2,6 miliar.
Langkah ini diambil untuk meningkatkan akses layanan Starlink ke lebih banyak konsumen di seluruh dunia.
Starlink telah mengoperasikan lebih dari 8.000 satelit di orbit, dengan lebih dari 650 di antaranya khusus digunakan untuk layanan direct-to-cell.
Upaya SpaceX untuk memperluas infrastruktur satelit ini bertujuan untuk mempercepat distribusi layanan internet langsung ke ponsel di berbagai wilayah dunia yang sebelumnya belum terjangkau oleh jaringan seluler konvensional.
Namun, meskipun direct-to-cell Starlink menjadi terobosan dalam teknologi konektivitas satelit, pemerintah beberapa negara, termasuk Indonesia, telah memberikan batasan terhadap operasionalnya.
Di Indonesia, misalnya, pemerintah menegaskan bahwa izin operasi Starlink hanya terbatas pada layanan Internet Service Provider (ISP) dan Jartup Vsat, bukan untuk layanan langsung ke ponsel.
Layanan internet satelit yang terhubung langsung ke ponsel ini diyakini dapat mengubah wajah industri telekomunikasi.
Sementara operator telekomunikasi tradisional khawatir akan dampaknya, Starlink terus menunjukkan bahwa kehadirannya dapat meningkatkan konektivitas di wilayah yang sulit dijangkau oleh jaringan seluler konvensional.
Jika berhasil, layanan direct-to-cell Starlink dapat menawarkan alternatif yang lebih fleksibel dan murah bagi konsumen di daerah terpencil atau yang belum terhubung dengan layanan telekomunikasi.
Meski demikian, persaingan di pasar satelit global semakin ketat, dan hal ini akan memengaruhi keputusan strategis para pemain besar, termasuk Starlink.
Keberhasilan direct-to-cell Starlink dalam menjangkau lebih banyak konsumen akan bergantung pada bagaimana perusahaan-perusahaan ini dapat beradaptasi dengan perubahan dinamika pasar dan berkolaborasi dengan lebih banyak operator telekomunikasi.