Shein Buka Toko di Paris, Picu Protes dan Kekhawatiran Eropa Dibanjiri Barang Murah Cina

Shein store di eropaShein store di eropa

INBERITA.COM, Pembukaan butik pertama Shein di Paris pekan lalu menjadi sorotan besar, bukan karena kemewahannya, melainkan karena kontroversi yang menyertainya.

Di jantung distrik mode ternama dunia, Marais, butik Shein di pusat perbelanjaan BHV Marais justru memicu protes sekaligus antrean panjang pembeli.

Fenomena ini menggambarkan paradoks publik terhadap raksasa fast fashion asal Cina tersebut — cinta sekaligus benci, seperti yang juga terjadi di berbagai negara lain.

Shein dikenal sebagai salah satu pemain utama dalam industri fast fashion, yaitu produksi pakaian dengan kecepatan tinggi dan harga murah mengikuti tren terkini.

Dalam hitungan minggu setelah tren muncul di runway atau media sosial, produk serupa sudah tersedia di pasar dengan harga terjangkau.

Strategi ini membuat Shein meraih popularitas besar di kalangan konsumen muda, namun sekaligus menuai kritik keras karena isu etika dan lingkungan.

Shein kerap disandingkan dengan Temu, platform e-commerce Cina lain yang menawarkan aneka produk langsung dari produsen ke konsumen.

Kedua raksasa ini dituding melakukan praktik yang merugikan seperti menjual barang palsu, memanfaatkan pemasaran agresif, hingga menciptakan kondisi kerja buruk di rantai pasokan.

Meski demikian, harga murah dan kemudahan akses membuat keduanya tetap digemari jutaan pengguna di seluruh dunia.

Selain strategi harga supermurah, Shein dan Temu juga diuntungkan oleh celah hukum perdagangan internasional. Uni Eropa hingga kini masih membebaskan bea impor untuk paket dengan nilai di bawah €150 (sekitar Rp2,6 juta).

Celah ini dimanfaatkan secara masif oleh platform asal Cina karena memungkinkan mereka mengirim jutaan paket kecil tanpa biaya tambahan.

Amerika Serikat sebelumnya juga memiliki aturan serupa untuk paket di bawah $800, namun telah memperketatnya untuk membatasi banjir kiriman impor.

Sementara itu, Uni Eropa baru berencana menutup celah bea rendah ini paling cepat pada 2028, memberi waktu panjang bagi perusahaan seperti Shein dan Temu untuk terus berkembang.

Data menunjukkan skala aktivitas mereka di Eropa meningkat pesat. Pada paruh pertama 2025, Shein mencatat 145 juta pengguna aktif bulanan, sementara Temu memiliki 115 juta pengguna aktif, naik sekitar 12% dibanding enam bulan sebelumnya.

Namun, di balik angka fantastis itu tersimpan kekhawatiran besar: keberlanjutan. Sebagian besar produk dijual langsung dari produsen di Cina ke konsumen Eropa dalam bentuk paket individual yang dikirim lewat udara untuk mempercepat pengiriman.

Sistem ini bukan hanya membebani otoritas bea cukai, tetapi juga menimbulkan dampak lingkungan serius akibat emisi penerbangan, limbah kemasan plastik, dan sulitnya pengelolaan pengembalian barang.

Komisi Eksekutif Uni Eropa mencatat, pada 2024 terdapat 4,6 miliar barang bernilai rendah yang diimpor ke UE — dua kali lipat dari 2023 dan tiga kali lipat dibanding 2022.

Sekitar 91% dari 12 juta paket yang masuk setiap hari berasal dari Cina. “Eropa dibanjiri tsunami paket kecil dari Cina, dan ini tidak akan berhenti,” ujar Agustin Reyna, Direktur Jenderal European Consumer Organisation (BEUC) kepada DW.

Selain soal lingkungan, regulator Eropa juga khawatir terhadap keselamatan produk yang dijual di platform e-commerce Cina.

Laporan terbaru Stiftung Warentest — lembaga penguji produk independen Jerman — yang dirilis pada 30 Oktober 2025, menemukan fakta mengkhawatirkan.

Dari 162 produk yang dibeli di Temu dan Shein, 110 di antaranya tidak memenuhi standar keamanan Uni Eropa, dan sekitar seperempat dinyatakan berpotensi berbahaya.

Beberapa produk mengandung formaldehida dan logam berat seperti kadmium, sementara pengisi daya USB terbukti terlalu panas. Kondisi ini menunjukkan lemahnya kontrol kualitas, sekaligus mengindikasikan risiko nyata bagi konsumen.

“Perusahaan yang melanggar regulasi keselamatan menciptakan persaingan tidak sehat. Produsen lokal harus mematuhi aturan, sementara sebagian platform asing bebas menjual produk berisiko,” kata perwakilan BEUC dalam pernyataan tertulis.

Komisi Eropa sebenarnya sudah mulai mengambil langkah. Pada Mei 2025, Shein mendapat peringatan resmi karena melanggar aturan perlindungan konsumen, termasuk praktik discount palsu, tekanan untuk segera membeli, hingga klaim keberlanjutan yang menyesatkan.

Dua bulan kemudian, Temu diduga melanggar ketentuan Digital Services Act karena gagal mencegah penjualan produk ilegal — yang kini tengah dalam tahap penyelidikan dan bisa berujung denda besar.

Sanksi juga datang dari tingkat nasional. Otoritas persaingan Italia menjatuhkan denda €1 juta kepada Shein karena klaim lingkungan yang menyesatkan, sementara otoritas Prancis menjatuhkan denda jauh lebih besar, yakni €40 juta, dengan total sanksi mencapai €191 juta sepanjang tahun ini.

Di Jerman, otoritas persaingan (Cartel Office) tengah menyelidiki Temu terkait dugaan manipulasi harga dan persaingan pasar.

Prancis bahkan tengah memproses rancangan undang-undang baru yang bisa menjadi pukulan telak bagi fast fashion.

Jika disahkan, aturan ini akan melarang iklan untuk brand fast fashion, mewajibkan laporan dampak lingkungan tiap produk, serta menambahkan pungutan hingga €10 (sekitar Rp175 ribu) per potong pakaian yang dijual.

Langkah-langkah ini diharapkan dapat menekan dampak sosial dan ekologis dari banjir produk murah asal Cina, namun para pakar menilai hal tersebut belum cukup.

“Eropa harus bertindak dan membuat Temu serta Shein bertanggung jawab. Kita butuh aturan yang jelas dan sanksi tegas bagi pelanggar,” tegas Reyna.

Selama celah impor di bawah €150 masih berlaku hingga 2028, para analis menilai arus barang murah dari Cina akan terus membanjiri pasar Eropa.

Sementara itu, daya tarik harga rendah membuat konsumen sulit berhenti berbelanja, meskipun konsekuensinya adalah meningkatnya limbah, pelanggaran etika produksi, dan dampak buruk bagi lingkungan. (xpr)