Saham Bank Besar Dihujani Aksi Jual Asing Meski IHSG Menguat Tajam

INBERITA.COM, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bangkit dan menutup perdagangan akhir pekan di zona hijau setelah sempat mengalami tekanan dalam beberapa sesi sebelumnya.

Pada penutupan perdagangan Jumat (22/5/2026), indeks utama Bursa Efek Indonesia (BEI) menguat 67,1 poin atau naik 1,1 persen ke level 6.162.

Penguatan ini menjadi angin segar bagi pelaku pasar setelah volatilitas yang cukup tinggi mewarnai perdagangan sepanjang pekan.

Meski demikian, di balik reli IHSG, investor asing justru tercatat masih melanjutkan aksi keluar dari pasar saham domestik.

Data perdagangan menunjukkan investor asing membukukan penjualan bersih atau net sell sebesar Rp309,4 miliar di seluruh pasar.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa kenaikan indeks belum sepenuhnya diikuti optimisme dari dana asing yang masih cenderung berhati-hati terhadap kondisi pasar.

Arus modal asing paling banyak keluar dari saham-saham perbankan berkapitalisasi besar atau big caps yang selama ini menjadi penopang utama IHSG.

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi emiten dengan nilai penjualan bersih terbesar oleh investor asing. Nilainya mencapai Rp322,3 miliar dalam satu hari perdagangan.

Di posisi berikutnya, saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) juga mengalami tekanan jual asing cukup besar dengan nilai net sell mencapai Rp287,6 miliar.

Selain sektor perbankan, aksi profit taking juga terlihat pada sejumlah saham unggulan lain dari sektor energi, petrokimia, hingga telekomunikasi.

Saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) tercatat mengalami penjualan bersih asing sebesar Rp156,4 miliar, diikuti PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) sebesar Rp156,3 miliar.

Investor asing juga melepas saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) senilai Rp152,1 miliar dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) sebesar Rp151,7 miliar.

Sementara itu, saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), PT Astra International Tbk (ASII), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) turut masuk daftar saham yang paling banyak dilepas asing pada perdagangan akhir pekan.

Secara keseluruhan, tekanan jual investor asing sebenarnya terkonsentrasi di pasar reguler dengan total nilai mencapai Rp1,07 triliun.

Namun tekanan tersebut sedikit tertahan oleh aksi beli bersih di pasar negosiasi dan tunai yang nilainya mencapai Rp758,9 miliar. Hal ini membuat total net sell asing secara keseluruhan masih berada di level ratusan miliar rupiah.

Meski dana asing keluar, sentimen pasar domestik justru cukup positif. Aktivitas perdagangan di BEI berlangsung sangat ramai dengan total nilai transaksi harian mencapai Rp20,12 triliun.

Dari sisi pergerakan saham, mayoritas emiten berhasil ditutup di zona hijau. Sebanyak 466 saham menguat, sementara 271 saham mengalami penurunan dan 222 saham lainnya stagnan.

Volume transaksi juga tergolong tinggi dengan total 37,2 miliar lembar saham diperdagangkan melalui sekitar 1,94 juta kali transaksi.

Analis pasar menilai penguatan IHSG kali ini lebih banyak didorong oleh aksi beli investor domestik yang memanfaatkan pelemahan pasar beberapa waktu terakhir. Di sisi lain, investor asing cenderung memilih merealisasikan keuntungan di tengah ketidakpastian global yang masih cukup tinggi.

Tekanan eksternal seperti arah suku bunga Amerika Serikat, pergerakan nilai tukar rupiah, hingga tensi geopolitik global masih menjadi faktor utama yang memengaruhi arus modal asing di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Meski IHSG berhasil rebound, sejumlah pelaku pasar menilai pergerakan indeks masih rentan terhadap aksi ambil untung jangka pendek. Apalagi beberapa saham unggulan telah mengalami kenaikan signifikan dalam waktu singkat.

Di sisi lain, stabilitas ekonomi domestik dan laporan kinerja emiten kuartal pertama yang relatif solid menjadi faktor yang menopang optimisme investor lokal.

Saham-saham perbankan besar seperti BBCA dan BMRI masih dianggap memiliki fundamental kuat meskipun sedang mengalami tekanan jual asing. Kondisi tersebut membuat investor domestik tetap aktif melakukan akumulasi pada saham-saham unggulan.

Pergerakan pasar pada akhir pekan ini sekaligus menunjukkan bahwa arah IHSG tidak sepenuhnya bergantung pada aliran dana asing. Dominasi investor domestik dalam beberapa waktu terakhir mulai memberikan pengaruh besar terhadap stabilitas pasar modal Indonesia.

Namun pelaku pasar tetap diminta mencermati dinamika global yang dapat memicu volatilitas sewaktu-waktu, terutama terkait pergerakan dolar AS dan kebijakan bank sentral dunia.

Dengan transaksi yang tetap tinggi dan mayoritas saham menguat, penguatan IHSG di akhir pekan memberi sinyal bahwa minat investor terhadap pasar saham domestik masih cukup terjaga meski tekanan eksternal belum sepenuhnya mereda.