INBERITA.COM, Serangan beruntun yang menyasar pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di Yordania memunculkan pertanyaan baru mengenai efektivitas operasi militer Washington terhadap kemampuan persenjataan Iran.
Meski sebelumnya AS dan Israel mengklaim telah memberikan pukulan besar terhadap infrastruktur militer Teheran, rangkaian serangan balasan menunjukkan kapasitas tempur Iran belum sepenuhnya lumpuh.
Pentagon mengonfirmasi jumlah korban tewas akibat serangan di Pangkalan Udara Muwaffaq Salti, Yordania, pada Jumat (17/7/2026) bertambah menjadi tiga personel setelah Sersan Angel Rampersad yang sebelumnya dinyatakan hilang ditemukan meninggal dunia.
Serangan tersebut merupakan kali keempat dalam kurun lima hari yang menargetkan posisi pasukan AS di Yordania.
Intensitas serangan itu memperlihatkan bahwa Iran masih memiliki kemampuan untuk menjangkau instalasi militer strategis di kawasan, meski berada di bawah tekanan operasi militer dalam beberapa bulan terakhir.
Menurut laporan Wall Street Journal yang mengutip sejumlah analis militer, salah satu senjata yang diduga digunakan adalah rudal balistik Kheibar Shekan.
Rudal berbahan bakar padat itu dikenal memiliki jangkauan hingga sekitar 1.448 kilometer, menggunakan sistem pemandu satelit, serta dirancang dengan hulu ledak yang mampu bermanuver untuk meningkatkan peluang menembus sistem pertahanan udara.
Selain Kheibar Shekan, laporan tersebut menyebut Iran juga mengerahkan berbagai sistem persenjataan lain, termasuk rudal balistik Fattah, Zolfaghar, Fateh-110, Qiam, rudal jelajah Paveh, hingga pesawat nirawak Shahed.
Kemampuan Iran mempertahankan operasi militernya dinilai tidak terlepas dari keberadaan jaringan pangkalan rudal bawah tanah yang tersebar di berbagai wilayah.
Kompleks terowongan tersebut sebelumnya menjadi sasaran utama serangan udara AS dan Israel pada Maret serta April 2026.
Analis geospasial asal Israel, Ben Tzion Macales, mengungkapkan citra satelit menunjukkan tim teknik Iran bergerak cepat memperbaiki infrastruktur yang rusak, termasuk akses menuju terowongan dan fasilitas peluncuran rudal.
Mantan analis CIA, Jim Lamson, menilai kerusakan yang ditimbulkan serangan udara belum tentu menghentikan kemampuan operasional Iran dalam jangka panjang.
“Mereka memang bisa merusak pintu masuk terowongan, tetapi Iran mampu memperbaikinya dengan cepat melalui tim teknik yang responsif untuk kembali beroperasi,” ujarnya.
Sementara itu, pakar Iran dari Sciences Po Paris, Nicole Grajewski, memperkirakan rudal-rudal yang diarahkan ke Yordania kemungkinan diluncurkan dari wilayah Tabriz atau kawasan Iran bagian barat yang disebut telah kembali memiliki pasokan amunisi memadai.
Perkembangan ini juga memunculkan evaluasi terhadap pernyataan sejumlah pejabat tinggi AS beberapa bulan sebelumnya.
Menteri Pertahanan Pete Hegseth pada April 2026 pernah menyatakan program rudal Kheibar Shekan beserta fasilitas peluncurnya telah mengalami kerusakan besar. Presiden Donald Trump juga sempat mengklaim stok rudal Iran tinggal sekitar 21 persen.
Namun, dalam keterangannya di Senat AS pada 21 Juli 2026, Hegseth memberikan penjelasan yang lebih hati-hati.
“Kami tidak pernah mengharapkan mereka kehilangan total kemampuan menembak. Pertanyaan utamanya adalah seberapa besar skala yang sanggup mereka kerahkan untuk menghadapi AS,” katanya.
Sejumlah analis menilai dinamika tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan serangan udara terhadap infrastruktur belum tentu langsung menghilangkan kemampuan tempur sebuah negara.
Faktor seperti cadangan persenjataan, kemampuan produksi, jaringan logistik, serta fasilitas bawah tanah dapat memengaruhi kecepatan pemulihan operasi militer.
Pakar rudal dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), Tom Karako, menilai kemampuan Iran terus melancarkan serangan menunjukkan negara itu telah lama mempelajari pola operasi militer AS dan mengembangkan strategi untuk mempertahankan daya gentarnya.
Di sisi lain, mantan komandan pertahanan udara Israel, Ran Kochav, berpendapat meningkatnya jumlah rudal yang berhasil menembus pertahanan dipengaruhi oleh melemahnya sistem radar dan pertahanan udara di kawasan Teluk pada fase awal konflik.
Berbagai analisis tersebut mengarah pada kesimpulan bahwa strategi Iran saat ini lebih berfokus meningkatkan biaya dan risiko yang harus ditanggung lawannya dibanding mengejar kemenangan militer secara langsung.
Dengan mempertahankan tekanan terhadap pangkalan-pangkalan AS di kawasan, Teheran dinilai berupaya memperkuat posisi tawarnya dalam dinamika politik dan keamanan regional yang masih terus berkembang.







