INBERITA.COM, JAWA TENGAH – Sejumlah merek sepatu global seperti Nike, Adidas, Reebok, Onitsuka Tiger, Hoka, dan Converse tengah menjajaki rencana pembangunan pabrik produksi di Provinsi Jawa Tengah.
Rencana ini menandai sinyal positif bagi sektor industri manufaktur daerah, khususnya di sektor alas kaki yang berorientasi ekspor.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Jawa Tengah, Sakina Rosellasari, mengungkapkan bahwa calon investor dari China, Taiwan, dan Inggris akan melakukan kunjungan lapangan ke sejumlah titik potensial di Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Klaten dalam waktu dekat.
“Kunjungan itu untuk menentukan lokasi investasi bagi mereka. Ada dari China, Inggris, terus Taiwan. Nanti teman-teman pengawas dan promosi bakal mengawal,” ujar Sakina dalam konferensi pers capaian investasi triwulan III di kantornya, Selasa (21/10/2025).
Pembangunan pabrik ini nantinya akan difokuskan untuk memenuhi permintaan ekspor sepatu dari pasar global.
Seluruh investasi yang ditawarkan merupakan Penanaman Modal Asing (PMA), dengan skema produksi sepatu untuk kebutuhan luar negeri.
“Penanam modal asing (PMA) buat ekspor biasanya. Dan ini yang masuk brand-brand internasional semua, ada Nike, Adidas, Reebok, Onitsuka, Hoka, dan Converse,” jelas Sakina.
Meski saat ini masih berada dalam tahap penjajakan lokasi, Pemprov Jawa Tengah optimistis dapat meyakinkan para investor untuk menetapkan pilihan mereka di wilayah ini.
Sakina berharap proses negosiasi segera rampung agar produksi dapat dimulai secepatnya.
“Masih negosiasi lokasi, Kami berharapnya tidak pindah dan bisa segera fix ya. Biar produk-produk tadi bisa Made in Indonesia, yaitu di Jawa Tengah,” tambahnya.
Langkah masuknya berbagai brand sepatu kelas dunia ke Jawa Tengah dinilai akan berdampak signifikan bagi pengembangan kawasan industri dan perluasan lapangan kerja, serta penguatan ekonomi daerah berbasis manufaktur ekspor.
Hingga saat ini, kawasan industri di Jawa Tengah telah tersebar di Kota Semarang, Demak, Batang, dan Cilacap.
Selain itu, dua kawasan strategis yaitu Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal dan Industropolis Batang juga menjadi titik penting pertumbuhan industri di provinsi ini.
Namun, seiring meningkatnya minat investor, DPMPTSP mendorong agar seluruh kabupaten/kota yang memiliki Kawasan Peruntukan Industri (KPI) segera berproses untuk mengembangkan kawasan industri baru.
“Saat ini baru Kabupaten Cilacap dan Kabupaten Kendal yang sudah memenuhi syarat dan mulai berproses mengikuti ketentuan yang berlaku,” ujar Sakina.
Untuk dapat dikembangkan menjadi kawasan industri, daerah harus memenuhi beberapa syarat penting. Salah satunya adalah memiliki satu hamparan lahan di wilayah KPI dengan luas minimal 50 hektare.
Lahan ini dapat dikelola oleh pihak swasta, BUMN, BUMD, atau pemerintah daerah dan wajib memiliki Izin Usaha Kawasan Industri (IUKI).
Sakina menyebut, proses pembangunan kawasan industri baru sepenuhnya bergantung pada minat dan kesiapan investor.
Meski demikian, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mendorong agar pengembangan kawasan industri dilakukan secara merata, tidak hanya terpusat di wilayah utara saja, tetapi juga menjangkau wilayah tengah dan selatan provinsi.
“Kita sesuaikan dengan potensi masing-masing daerah. Karena keberadaan kawasan industri diharapkan dapat menyerap banyak tenaga kerja, mengurangi pengangguran, dan menekan angka kemiskinan. Termasuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah,” jelasnya.
Langkah strategis ini dinilai menjadi peluang besar bagi Jawa Tengah untuk memperkuat posisinya sebagai pusat industri manufaktur berbasis ekspor, sekaligus menarik lebih banyak penanaman modal asing dari merek-merek ternama dunia.
Jika rencana ini terealisasi, Jawa Tengah berpotensi menjadi basis produksi sepatu global dengan label “Made in Indonesia”, yang tidak hanya membanggakan dari sisi branding, tetapi juga memperkuat fondasi ekonomi daerah berbasis industri padat karya.
Dengan hadirnya pabrik-pabrik skala internasional tersebut, dampak ekonomi yang ditimbulkan diyakini akan terasa hingga lapisan masyarakat bawah melalui penyerapan tenaga kerja lokal, peningkatan pendapatan daerah, serta pengembangan ekosistem industri penunjang lainnya di sekitar kawasan.
Peluang investasi ini menjadi momentum strategis bagi Jawa Tengah untuk mempercepat transformasi industrinya dan memperkuat daya saing di mata investor global. (mms)