Profil Agus Saputra, Guru SMKN 3 Tanjung Jabung Timur Jambi yang Dikeroyok Murid, Mengaku Dibully Bertahun-tahun

INBERITA.COM, Nama Agus Saputra mendadak menjadi perhatian publik setelah video dirinya dikeroyok sejumlah murid di lingkungan sekolah viral di media sosial.

Agus merupakan guru di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi, yang menjadi korban pengeroyokan oleh siswa pada Selasa (13/1/2026).

Peristiwa tersebut memicu keprihatinan luas sekaligus membuka kembali diskusi soal keamanan guru di lingkungan pendidikan.

Pihak sekolah menyatakan insiden itu dipicu oleh kesalahpahaman, sementara Agus Saputra mengungkap fakta lain yang menurutnya sudah berlangsung selama bertahun-tahun.

Agus Saputra diketahui merupakan guru bahasa Inggris di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur. Ia telah mengabdi sebagai pendidik selama kurang lebih 15 tahun dan mengaku mulai mengajar di sekolah tersebut sejak lama.

Dalam keterangannya, Agus mengungkapkan bahwa dirinya telah mengalami perundungan atau bullying dari murid-muridnya selama tiga tahun terakhir. Ia menegaskan bahwa tekanan tersebut bukan datang dari satu atau dua siswa saja, melainkan dari hampir satu kelas.

“Bukan satu dua orang, tapi hampir satu kelas. Ini sudah bertahun-tahun,” ungkap Agus Saputra, dikutip dari TribunJambi.com.

Ia menjelaskan bahwa salah satu kelas yang menjadi sumber tekanan terdiri dari siswa laki-laki seluruhnya. Kondisi tersebut, menurutnya, membuat situasi belajar mengajar menjadi tidak kondusif dan penuh tekanan.

“Kami ada anak satu kelas itu isinya laki-laki semua. Nah, itu juga merupakan bagian dari merundung saya,” tambahnya.

Agus kemudian membeberkan kronologi awal terjadinya keributan yang berujung pada pengeroyokan. Insiden bermula saat kegiatan pelajaran olahraga sekitar pukul 09.00 WIB. Saat itu, Agus mendengar teriakan dari seorang siswa yang menurutnya mengandung kata-kata tidak pantas.

Ia kemudian mendatangi sekelompok siswa untuk mencari tahu siapa yang meneriakkan ucapan tersebut. Setelah ditanya, salah satu siswa akhirnya mengakui perbuatannya.

“Refleks dia bilang saya kemudian saya tampar satu kali,” tuturnya.

Agus menegaskan bahwa tamparan tersebut bukan dimaksudkan sebagai penganiayaan, melainkan bentuk teguran spontan yang ia anggap sebagai pendidikan moral. Namun, kejadian itu justru memicu ketegangan lanjutan hingga siang hari.

Situasi di sekolah semakin memanas dan pihak sekolah akhirnya melakukan upaya mediasi. Dalam proses tersebut, para siswa mendesak agar Agus Saputra meminta maaf atas insiden tersebut.

Namun, Agus menolak permintaan itu karena merasa tidak melakukan tindakan penganiayaan. Ia bersikukuh bahwa tindakannya adalah bentuk penegakan disiplin, bukan kekerasan.

“Mereka meminta saya meminta maaf untuk hal yang tidak saya lakukan,” tegasnya.

“Saya tegaskan saya tidak menganiaya anak tersebut. Satu kali tamparan sebut merupakan pendidikan dasar moral yang saya tanamkan untuk anak tersebut,” lanjut Agus Saputra.

Dalam situasi penuh tekanan itu, Agus bahkan menyarankan agar para siswa membuat petisi jika memang tidak menginginkan dirinya tetap mengajar di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur. Namun, pernyataan tersebut justru memicu kemarahan.

Puncak ketegangan terjadi saat Agus Saputra dikeroyok oleh sejumlah siswa dari berbagai tingkat kelas, mulai dari kelas X hingga XII. Aksi tersebut terekam video dan menyebar luas di media sosial.

Akibat pengeroyokan itu, Agus mengalami sejumlah luka. Ia mengaku tangan mengalami pembengkakan dan bagian punggungnya memar-memar akibat pukulan.

“Bengkak tangan saya, masih sakit. Bagian belakang (punggung) memar-memar,” ungkapnya.

Usai kejadian, Agus Saputra melaporkan insiden pengeroyokan tersebut ke Dinas Pendidikan Provinsi Jambi. Ia berharap kasus ini dapat menjadi pelajaran bagi semua pihak agar lingkungan sekolah kembali menjadi tempat yang aman dan saling menghormati.

Ia menekankan pentingnya membangun budaya saling menghargai antara guru dan murid.

“Saling hormat menghormati, harga menghargai,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala SMKN 3 Tanjung Jabung Timur, Ranto M, memastikan bahwa kegiatan belajar mengajar di sekolah tetap berjalan normal pascakejadian. Ia menyebut permasalahan tersebut telah dimediasi oleh pihak sekolah bersama aparat kepolisian.

Ranto juga mengimbau masyarakat agar tidak terpancing oleh informasi yang belum terverifikasi kebenarannya dan menyerahkan sepenuhnya penanganan kasus kepada pihak berwenang.

“Kami minta masyarakat tidak terpancing informasi yang belum tentu benar. Mari bersama menjaga keamanan dan ketertiban. Percayakan penanganannya kepada sekolah, TNI, dan Polri,” ujarnya.

Kasus ini kembali menyoroti tantangan yang dihadapi tenaga pendidik di sekolah, khususnya terkait perlindungan guru serta pentingnya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, beretika, dan bermartabat bagi semua pihak. (**)