INBERITA.COM, Presiden Prabowo Subianto memanfaatkan kunjungannya ke lokasi pengungsian korban gempa di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk mendengar langsung pengalaman warga terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pertanyaan yang diajukan Prabowo tidak sekadar mengenai kondisi warga setelah bencana. Di tengah situasi darurat yang membuat masyarakat harus bertahan di posko pengungsian, Presiden juga ingin mengetahui apakah manfaat program pangan bergizi tersebut benar-benar dirasakan oleh warga.
Dalam pertemuan itu, Prabowo menyampaikan bahwa dirinya memperoleh laporan dari Bupati Nagekeo Simplisius Donatus mengenai dampak MBG bagi masyarakat setempat.
“Saya dapat laporan dari Bapak Bupati bahwa rakyat Nagekeo itu merasakan manfaat dari MBG, apa benar itu?” tanya Prabowo kepada warga.
Pertanyaan tersebut mendapat jawaban tegas dari warga yang hadir di lokasi. “Benar,” jawab mereka.
Prabowo kemudian melanjutkan percakapan dengan pertanyaan yang lebih langsung: apakah program tersebut masih diharapkan untuk diteruskan.
“Mau dilanjutkan atau tidak?” kata Prabowo.
Respons warga menjadi salah satu momen dalam kunjungan tersebut yang menunjukkan bahwa program MBG tidak hanya dibicarakan dalam konteks kebijakan pemerintah pusat, tetapi juga menyentuh pengalaman masyarakat di daerah.
Bagi warga yang berada di wilayah terdampak bencana, keberadaan layanan pangan menjadi persoalan penting.
Ketika aktivitas masyarakat terganggu dan sebagian keluarga harus meninggalkan rumah untuk tinggal di tempat pengungsian, pemenuhan kebutuhan makanan menjadi bagian dari penanganan kondisi darurat.
Karena itu, pembicaraan mengenai MBG di tengah kunjungan ke posko pengungsian Nagekeo memiliki konteks yang lebih luas.
Program makanan bergizi tidak hanya berkaitan dengan penyediaan makanan sehari-hari, tetapi juga menyangkut kelompok yang membutuhkan perhatian khusus, termasuk anak-anak dan ibu hamil.
Prabowo menegaskan bahwa pemerintah akan melanjutkan program tersebut. Ia menyebut keberlanjutan MBG berkaitan dengan upaya menjaga kualitas kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan.
“Saya kira itu kita lanjutkan supaya anak-anak kita sehat, supaya ibu-ibu hamil kita sehat, dan mereka yang lanjut usia aman di saat-saat mereka menikmati usia lanjut mereka,” ujar Prabowo.
Pernyataan itu sekaligus memperlihatkan arah kebijakan pemerintah yang menempatkan pemenuhan kebutuhan gizi sebagai salah satu agenda prioritas.
Dalam pelaksanaannya, tantangan program tentu tidak hanya terletak pada kesinambungan anggaran, tetapi juga kemampuan memastikan makanan dapat diterima oleh kelompok sasaran dengan kualitas dan standar yang memadai.
Konteks Nagekeo menjadi penting karena wilayah tersebut tengah menghadapi dampak gempa bumi.
Situasi kebencanaan dapat membuat distribusi kebutuhan dasar menjadi lebih rumit dibandingkan kondisi normal. Akses, ketersediaan bahan pangan, tempat tinggal sementara, hingga kondisi fasilitas umum dapat memengaruhi pelayanan kepada masyarakat.
Dalam keadaan seperti itu, efektivitas sebuah program pemerintah tidak cukup dinilai dari seberapa luas kebijakannya diumumkan. Pengalaman masyarakat di lapangan menjadi salah satu ukuran penting untuk melihat apakah kebijakan tersebut benar-benar bekerja.
Pertanyaan Prabowo kepada warga juga menunjukkan pendekatan yang lebih langsung dalam mengecek penerimaan masyarakat. Alih-alih hanya mengandalkan laporan administratif, Presiden meminta konfirmasi dari penerima manfaat yang ditemuinya secara langsung di lokasi pengungsian.
Namun, keberlanjutan MBG tetap membutuhkan pengawasan agar manfaat yang dirasakan masyarakat dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
Kualitas makanan, ketepatan sasaran, keamanan pangan, serta kelancaran distribusi menjadi sejumlah aspek yang menentukan keberhasilan program.
Bagi pemerintah, tantangannya adalah menjaga agar perluasan program tidak mengorbankan kualitas pelaksanaan. Sementara bagi masyarakat, keberlanjutan program akan semakin berarti apabila manfaatnya benar-benar konsisten dan menjangkau mereka yang membutuhkan.
Di Nagekeo, pesan yang disampaikan Prabowo cukup jelas: program MBG akan terus berjalan. Pemerintah menempatkannya sebagai bagian dari upaya memperbaiki pemenuhan gizi masyarakat, dengan anak-anak, ibu hamil, dan kelompok lanjut usia disebut sebagai penerima perhatian.
Kunjungan ke posko korban gempa itu pun memperlihatkan bahwa agenda pemulihan pascabencana dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat tidak dapat dipisahkan.
Dalam situasi ketika warga menghadapi ketidakpastian akibat bencana, akses terhadap makanan yang layak dan bergizi menjadi kebutuhan yang semakin mendasar.







