Demo 27 Agustus di DPR Tak Ganggu Pasar, IHSG Catat Kenaikan Signifikan 1,81 Persen

Demo 27 agustus tidak berpengaruh ke ihsgDemo 27 agustus tidak berpengaruh ke ihsg
Demonstrasi damai di sekitar Gedung DPR/MPR RI tak menghentikan lonjakan IHSG sebesar 1,81%. Meski rupiah melemah tipis, pasar saham Indonesia justru mencatat penguatan signifikan.

INBERITA.COM, Aksi demonstrasi yang digelar di sekitar Gedung DPR/MPR RI pada Kamis (27/8/2026) berakhir damai, tanpa menimbulkan gangguan berarti terhadap aktivitas perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru mencatatkan penguatan signifikan sebesar 1,81%, ditutup pada level 6.521,75 atau naik 116,07 poin.

Pergerakan ini menjadi sinyal bahwa investor mulai meninggalkan kekhawatiran terhadap risiko sosial-politik di dalam negeri setelah situasi demonstrasi berlangsung kondusif pada Kamis siang.

Menurut Alrich Paskalis Tambolang, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, sentimen positif dari dalam negeri menjadi pendorong utama penguatan IHSG.

Ia menjelaskan bahwa aksi demonstrasi yang menuntut pengesahan Undang-Undang Perampasan Aset mendapat respons positif setelah DPR menetapkan target penyelesaian pada 15 Desember 2026.

“Para pelaku pasar merespons positif karena selama beberapa hari terakhir pasar cenderung tertekan akibat antisipasi kondisi keamanan,” ujarnya, sebagaimana dikutip media pada Kamis (27/8/2026).

Penguatan IHSG tidak hanya terjadi di satu sektor, melainkan merata di seluruh lini. Sektor industri mencatat kenaikan tertinggi sebesar 3,95%, sementara rupiah justru melemah tipis sebesar 0,11% ke level Rp17.744 per dolar AS.

Sepanjang sesi perdagangan, nilai tukar rupiah sempat menyentuh Rp17.781 per dolar AS. Dari sisi teknikal, Alrich menilai IHSG berhasil kembali berada di atas rata-rata pergerakan lima hari atau moving average (MA) 5, serta histogram indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) masih berada di area positif.

Namun, ia mencatat Stochastic Relative Strength Index (RSI) bergerak turun di area pivot, yang menjadi catatan penting bagi investor.

Alrich memperkirakan IHSG akan bergerak sideways atau cenderung mendatar pada perdagangan Jumat (28/8), dengan rentang pergerakan diperkirakan antara 6.450 hingga 6.580.

Perhatian investor kini tertuju pada pidato Ketua Federal Reserve (The Fed) dalam simposium Jackson Hole, yang akan memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat.

Nafan Aji Gusta, Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap ketidakpastian ekonomi global dan korporasi.

Salah satu sorotan utama adalah perkembangan inflasi Amerika Serikat, di mana Indeks Harga Personal Consumption Expenditures (PCE) inti naik 0,2% secara bulanan dan 3,3% secara tahunan pada Juli 2026.

Angka ini masih di atas target inflasi jangka panjang The Fed sebesar 2%, sehingga ekspektasi penurunan suku bunga AS masih menjadi faktor yang perlu dicermati investor.

Selain kebijakan moneter AS, pasar juga mengamati kinerja Nvidia, perusahaan teknologi utama dalam perkembangan kecerdasan buatan (AI) global.

Kinerja Nvidia berpotensi memengaruhi sentimen investor terhadap saham-saham teknologi. Ketidakpastian geopolitik, terutama potensi eskalasi konflik Rusia-Ukraina, juga menjadi faktor yang diperhatikan karena dapat memengaruhi harga minyak mentah global.

Investor juga tengah mempersiapkan penyesuaian portofolio menyambut rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang berlaku mulai 1 September 2026.

Untuk perdagangan Jumat (28/8), Nafan memperkirakan level support IHSG berada di 6.454 dan 6.358, sementara level resistance di 6.552 dan 6.654.

Pergerakan IHSG pada Kamis menunjukkan bahwa aksi demonstrasi di Jakarta tidak serta-merta menekan pasar saham.

Sebaliknya, berakhirnya demonstrasi secara damai dan adanya perkembangan positif terkait agenda legislasi memberikan ruang bagi investor untuk kembali mengambil posisi di pasar.

Kondisi ini menjadi bukti bahwa stabilitas politik dan ekonomi saling terkait, serta menunjukkan ketahanan pasar modal Indonesia dalam menghadapi dinamika internal dan eksternal.