Penyelidikan KNKT Ungkap Sinyal KA Argo Bromo Anggrek Tetap Hijau Sebelum Tabrakan dengan KRL di Bekasi

INBERITA.COM, Investigasi kecelakaan kereta di wilayah Bekasi mulai mengungkap sejumlah fakta penting yang memicu perhatian publik dan DPR.

Salah satu yang menjadi sorotan ialah kondisi sinyal perjalanan KA Argo Bromo Anggrek yang disebut tetap menunjukkan warna hijau meski sebelumnya terjadi insiden di jalur yang sama.

Fakta tersebut dipaparkan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI, Kamis (21/5/2026).

Dalam forum itu, KNKT menjelaskan kronologi awal kecelakaan yang melibatkan KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di kawasan Bekasi Timur.

Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono mengatakan, rangkaian kejadian bermula ketika KRL Commuter Line 5181 mengalami insiden dengan sebuah mobil taksi di perlintasan sebidang JPL Bekasi Timur jalur hilir.

Menurut data waktu yang dipaparkan KNKT, tabrakan antara kereta commuter dan kendaraan roda empat terjadi pada pukul 20.48.29 WIB. Setelah kejadian tersebut, operasional perjalanan kereta masih berlangsung hingga akhirnya KA Argo Bromo Anggrek melintas beberapa menit kemudian.

“KA Bromo Anggrek berjalan langsung di jalur 3 Stasiun Bekasi dengan sinyal keluar J12 ber-aspek hijau atau berwarna hijau,” ujar Soerjanto dalam rapat.

Pernyataan itu langsung memancing perhatian anggota dewan. Ketua Komisi V DPR RI Lasarus mempertanyakan bagaimana kereta antarkota tersebut tetap memperoleh sinyal hijau padahal di jalur depan diduga sudah terdapat hambatan akibat insiden sebelumnya.

“Berarti kesimpulan yang didapat oleh KNKT waktu terjadi tabrakan antara kereta dengan mobil, terus bergeraklah kereta Argo Bromo Anggrek dan terjadilah menabrak kereta Commuter Line itu sinyalnya sudah hijau Pak ya?” tanya Lasarus.

Soerjanto kemudian membenarkan bahwa sinyal yang diterima KA Argo Bromo Anggrek saat itu memang menunjukkan aspek hijau.

“Sinyalnya hijau Pak,” jawabnya singkat.

Respons tersebut membuat pembahasan rapat semakin serius. Lasarus kembali menyoroti kemungkinan adanya persoalan dalam sistem pengamanan jalur dan persinyalan kereta.

“Harusnya merah kan Pak ya? karena di depan ada obstacle,” ujar dia.

Namun KNKT menegaskan bahwa paparan yang disampaikan dalam rapat belum memasuki tahap analisis maupun penarikan kesimpulan penyebab kecelakaan. Lembaga investigasi transportasi itu menyebut seluruh data yang dipresentasikan masih bersifat awal dan faktual.

“Nanti kami jelaskan berikutnya,” kata Soerjanto.

Ia juga menegaskan KNKT masih mendalami seluruh aspek teknis, termasuk sistem operasi perjalanan kereta, komunikasi petugas, kondisi persinyalan, hingga prosedur penanganan insiden setelah tabrakan awal terjadi.

“Pada presentasi saat ini kami hanya menyajikan data faktual, tidak terdapat analisis dan tidak ada kesimpulan terhadap penyebab terjadinya kecelakaan,” ujarnya lagi.

Dalam kronologi yang dipaparkan, KRL Commuter Line 5568A disebut sempat berhenti di jalur 1 Stasiun Bekasi Timur untuk proses naik turun penumpang setelah insiden tabrakan dengan mobil taksi terjadi. Situasi itulah yang kemudian menjadi bagian penting dalam rangkaian investigasi KNKT.

Perhatian terhadap sistem persinyalan kereta bukan tanpa alasan. Dalam operasional perkeretaapian modern, sinyal memiliki fungsi vital untuk memastikan jalur aman sebelum kereta melintas. Sistem ini dirancang agar setiap potensi hambatan di lintasan dapat terdeteksi dan mencegah tabrakan antarkereta.

Karena itu, munculnya fakta bahwa KA Argo Bromo Anggrek tetap memperoleh sinyal hijau menimbulkan pertanyaan besar mengenai bagaimana prosedur pengamanan berjalan saat kejadian berlangsung.

Terlebih, insiden terjadi di jalur padat yang dilintasi kereta commuter dan kereta antarkota dengan frekuensi perjalanan tinggi.

Pengamat transportasi menilai investigasi KNKT akan sangat menentukan untuk mengungkap apakah persoalan berasal dari sistem teknologi, prosedur operasi, atau faktor komunikasi antarpersonel di lapangan. Hasil investigasi juga dinilai penting untuk mencegah kecelakaan serupa terulang.

Selain itu, insiden ini kembali membuka perdebatan mengenai keberadaan perlintasan sebidang yang masih menjadi titik rawan kecelakaan di berbagai daerah.

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah memang terus mendorong pembangunan flyover dan underpass untuk mengurangi perpotongan langsung antara jalur kereta dan kendaraan umum. Namun di sejumlah kawasan padat, perlintasan sebidang masih menjadi bagian dari aktivitas harian masyarakat.

Kecelakaan yang melibatkan kereta dan kendaraan di perlintasan sering kali memicu gangguan operasional yang lebih luas, termasuk keterlambatan perjalanan dan risiko keselamatan penumpang.

Karena itu, publik kini menunggu hasil investigasi lengkap KNKT untuk mengetahui secara pasti bagaimana rangkaian insiden di Bekasi Timur bisa berujung pada tabrakan yang lebih besar.

Di tengah proses investigasi yang masih berjalan, sorotan terhadap standar keselamatan transportasi rel diperkirakan akan terus menguat.

DPR pun memberi sinyal akan mendalami aspek pengawasan agar sistem keselamatan perjalanan kereta benar-benar berjalan optimal, terutama di jalur dengan tingkat mobilitas tinggi seperti wilayah Jabodetabek.