Pemerintah Rusia Resmi Batasi WhatsApp, Akses Menuju Pemblokiran Total

INBERITA.COM, Pemerintah Rusia resmi membatasi akses WhatsApp dan tengah mengupayakan pemblokiran total terhadap aplikasi pesan instan milik Meta tersebut.

Kebijakan ini memicu sorotan global karena berdampak pada lebih dari 100 juta pengguna WhatsApp di Rusia serta mempertegas arah kebijakan digital Moskwa yang semakin ketat terhadap layanan asing.

Langkah pemblokiran WhatsApp di Rusia ini berjalan beriringan dengan dorongan pemerintah agar masyarakat beralih menggunakan aplikasi buatan dalam negeri bernama Max.

Aplikasi tersebut dirancang sebagai super-app, serupa dengan WeChat di China, yang tidak hanya menyediakan layanan pesan instan tetapi juga berbagai fitur digital terintegrasi.

Sejak 2025, aplikasi Max diwajibkan terpasang di seluruh perangkat baru yang dijual di Rusia.

Tak hanya itu, penggunaannya juga diwajibkan bagi pegawai pemerintah, guru, dan siswa.

Kebijakan ini dinilai sebagai bagian dari strategi besar pemerintah Rusia untuk memperkuat ekosistem digital domestik sekaligus mengurangi ketergantungan pada platform asing seperti WhatsApp.

Pembatasan WhatsApp diumumkan langsung oleh pihak aplikasi melalui akun resminya di platform X atau Twitter.

Dalam pernyataan tersebut, WhatsApp menuding langkah pemerintah Rusia sebagai upaya mendorong warga beralih ke aplikasi pengawasan buatan negara.

“Hari ini pemerintah Rusia mencoba memblokir WhatsApp sepenuhnya sebagai upaya mendorong warganya beralih ke aplikasi pengawasan buatan dalam negeri,” tulis WhatsApp dalam sebuah posting di X (Twitter), Kamis (12/2/2026).

Dalam unggahan berbahasa Inggris yang sama, WhatsApp juga menyampaikan:

“Today the Russian government attempted to fully block WhatsApp in an effort to drive people to a state-owned surveillance app. Trying to isolate over 100 million users from private and secure communication is a backwards step and can only lead to less safety for people in Russia.…”

WhatsApp menilai kebijakan ini sebagai langkah mundur yang berpotensi mengisolasi lebih dari 100 juta pengguna dari komunikasi privat dan aman.

Perusahaan menegaskan akan terus berupaya menjaga penggunanya tetap terhubung di tengah pembatasan tersebut.

Laporan Financial Times menyebutkan bahwa WhatsApp telah dihapus dari direktori online milik Roskomnadzor, badan pengawas komunikasi Rusia.

Penghapusan ini menjadi sinyal kuat bahwa pemblokiran total WhatsApp di Rusia tinggal menunggu waktu.

Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyatakan bahwa layanan WhatsApp dapat kembali normal apabila Meta mematuhi hukum Rusia.

Namun, jika tidak ada kompromi antara kedua pihak, peluang pemulihan akses disebut tidak ada.

Pembatasan terhadap WhatsApp sebenarnya telah dimulai sejak akhir 2025. Menjelang perayaan Natal, akses aplikasi ini mulai dibatasi secara bertahap.

Pemerintah Rusia beralasan bahwa WhatsApp tidak mematuhi regulasi lokal yang berlaku di negara tersebut.

Roskomnadzor bahkan menuduh WhatsApp digunakan untuk mengorganisasi aksi teror, merekrut pelaku, serta melakukan penipuan dan berbagai kejahatan lain terhadap warga Rusia.

Tuduhan ini menjadi salah satu dasar pemerintah untuk memperketat akses hingga menuju pemblokiran penuh.

Isu pembatasan aplikasi pesan instan di Rusia bukan hal baru. CEO Telegram, Pavel Durov, sebelumnya pernah menilai pembatasan Telegram di Rusia sebagai bagian dari strategi pemerintah untuk mendorong penggunaan aplikasi domestik.

Menurutnya, langkah tersebut bertujuan mempermudah pengawasan dan sensor politik.

Strategi serupa juga disebut pernah diterapkan Iran terhadap Telegram. Meski demikian, banyak warga Iran tetap mencari cara untuk mengakses layanan tersebut melalui berbagai metode alternatif.

Durov menegaskan bahwa pembatasan kebebasan warga bukanlah solusi yang tepat.

Kebijakan blokir WhatsApp di Rusia ini menambah daftar panjang pembatasan platform digital asing di negara tersebut.

Dengan kewajiban penggunaan aplikasi Max dan tekanan terhadap Meta, arah kebijakan digital Rusia semakin menguat pada kedaulatan teknologi nasional, namun di sisi lain memunculkan kekhawatiran soal privasi, kebebasan berekspresi, dan keamanan komunikasi warga.

Ke depan, nasib lebih dari 100 juta pengguna WhatsApp di Rusia akan sangat bergantung pada negosiasi antara Meta dan otoritas setempat.

Jika tidak tercapai titik temu, pemblokiran total WhatsApp berpotensi menjadi salah satu kebijakan digital paling kontroversial Rusia dalam beberapa tahun terakhir.