INBERITA.COM, Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan tekanan signifikan di pasar keuangan global. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup melemah ke level Rp17.188 per dolar Amerika Serikat pada Jumat (17/4/2026), sekaligus mendekati titik terendah sepanjang sejarah.
Pelemahan ini tercatat sebesar 50 poin atau sekitar 0,29 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya di level Rp17.138 per dolar AS.
Bahkan dalam perdagangan intraday, rupiah sempat menyentuh level Rp17.194 per dolar AS pada pukul 14.19, menandai tekanan yang cukup kuat sepanjang hari.
Kondisi ini memicu kekhawatiran pelaku pasar, mengingat tren pelemahan rupiah masih berpotensi berlanjut dalam waktu dekat. Pakar ekonomi Ferry Latuhihin menilai bahwa tekanan terhadap mata uang Garuda belum akan mereda dalam waktu dekat.
“Kayaknya (pekan depan-Red) bakal menembus Rp 17.200,” ujarnya kepada wartawan, Jumat (17/4).
Menurut Ferry, pergerakan rupiah dalam beberapa hari ke depan masih akan dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik yang belum sepenuhnya kondusif.
Dari sisi global, tingginya harga minyak dunia menjadi salah satu faktor utama yang menekan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Sementara dari dalam negeri, kondisi fundamental seperti ketahanan cadangan devisa serta kesehatan fiskal turut menjadi perhatian investor. Ketidakpastian ini membuat arus modal cenderung berhati-hati, bahkan keluar dari pasar negara berkembang.
Ferry juga memberikan pandangan terkait strategi yang dapat diambil masyarakat, khususnya investor, dalam menghadapi situasi ini. Ia menyarankan agar mempertimbangkan diversifikasi aset, termasuk mengalihkan sebagian portofolio ke mata uang dolar AS.
“Sebaiknya beli dolar saja. Saya prediksi bisa ke Rp 22.000 pada Juli nanti,” tukasnya.
Pernyataan tersebut mencerminkan ekspektasi bahwa dolar AS masih akan menguat, seiring kebijakan moneter global yang cenderung ketat. Kondisi ini kerap memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang seperti rupiah.
Di sisi lain, Ferry juga mengingatkan potensi risiko pada instrumen investasi lain seperti emas. Menurutnya, logam mulia tersebut bisa mengalami tekanan jika bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, kembali menaikkan suku bunga untuk meredam inflasi.
“(Investasi-Red) emas takutnya kena hantam kenaikan suku bunga The Fed karena inflasi,” ucapnya.
Sementara itu, analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi melihat adanya sinyal perbaikan dari sisi global. Ia menilai optimisme mulai muncul seiring potensi meredanya konflik di Timur Tengah yang selama ini turut menekan pasar keuangan.
“Optimisme bahwa konflik Timur Tengah mungkin akan segera berakhir setelah gencatan senjata 10 hari antara Lebanon dan Israel mulai berlaku, dan Presiden Donald Trump mengatakan AS dan Iran mungkin akan bertemu untuk melakukan pembicaraan pada akhir pekan,” kata Ibrahim.
Perkembangan geopolitik tersebut dinilai dapat memberikan sentimen positif terhadap pasar, termasuk nilai tukar mata uang.
Jika ketegangan global mereda, tekanan terhadap rupiah berpotensi berkurang, meskipun tetap bergantung pada faktor lain seperti kebijakan suku bunga global dan stabilitas ekonomi domestik.
Secara keseluruhan, pelemahan rupiah saat ini mencerminkan kombinasi tekanan eksternal dan internal yang masih membayangi perekonomian.
Dalam kondisi seperti ini, pelaku pasar diharapkan lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan, terutama dalam memilih instrumen investasi.
Pergerakan rupiah ke depan akan sangat ditentukan oleh dinamika global, termasuk arah kebijakan moneter Amerika Serikat, harga komoditas, serta perkembangan geopolitik.
Di sisi domestik, kekuatan fundamental ekonomi Indonesia akan menjadi faktor kunci dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.