INBERITA.COM, Nilai tukar Rupiah Indonesia kembali mencatatkan pelemahan signifikan terhadap Dolar Amerika Serikat pada penutupan perdagangan Selasa (5/5/2026).
Rupiah ditutup di level Rp17.424 per dolar AS, melemah 0,17 persen dibandingkan posisi sebelumnya di Rp17.394 per dolar AS. Angka ini sekaligus menjadi rekor terburuk sepanjang sejarah bagi mata uang Indonesia.
Tekanan terhadap rupiah dinilai tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental ekonomi domestik. Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance, Rizal Taufikurahman, menyebut nilai wajar rupiah seharusnya berada di kisaran yang lebih kuat.
“Dengan inflasi yang masih relatif terjaga, neraca dagang yang masih surplus, dan cadangan devisa yang cukup kuat, kisaran fundamental rupiah lebih rasional di sekitar Rp 16.500-Rp 16.900 per dolar AS,” katanya.
Ia menegaskan bahwa pelemahan yang terjadi saat ini lebih dipengaruhi oleh peningkatan risk premium di pasar, bukan semata faktor fundamental ekonomi.
Sejumlah indikator seperti inflasi, neraca transaksi berjalan, cadangan devisa, hingga arus modal asing sebenarnya masih memberikan penopang bagi stabilitas rupiah.
Namun demikian, tekanan terhadap mata uang domestik terjadi secara kombinatif, baik dari faktor global maupun domestik. Dari sisi eksternal, penguatan dolar AS serta ketidakpastian geopolitik menjadi pemicu utama keluarnya aliran modal asing (capital outflow) dari negara berkembang.
Di sisi lain, faktor domestik juga turut memberi tekanan. Pasar merespons meningkatnya risiko fiskal, termasuk potensi pelebaran defisit anggaran, kenaikan subsidi energi, serta kebutuhan pembiayaan pemerintah yang meningkat.
“Kondisi ini membuat ruang kebijakan moneter menjadi lebih terbatas dan memperkuat tekanan terhadap nilai tukar,” jelas Rizal.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai faktor eksternal menjadi penyebab dominan pelemahan rupiah saat ini. Ia menyoroti meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz sebagai salah satu pemicu utama.
“Serangan AS ke kapal Iran ini menewaskan banyak tentara Iran. Kondisi ini membuat ketegangan baru di Selat Hormuz,” ujarnya.
Selain itu, konflik antara Ukraina dan Rusia juga memperparah tekanan global. Serangan terhadap kilang minyak Rusia disebut berdampak pada penurunan produksi hingga 10 persen, yang kemudian mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Tercatat, harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak Juli berada di level 113,76 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menyentuh 104,83 dolar AS per barel. Lonjakan harga energi ini turut memicu kekhawatiran inflasi global.
Ibrahim menjelaskan bahwa kondisi tersebut berpotensi mendorong bank sentral di berbagai negara, termasuk AS, untuk menaikkan suku bunga.
Dampaknya, investor cenderung menarik dananya dari negara berkembang seperti Indonesia dan kembali menempatkannya di instrumen yang dianggap lebih aman.
Dengan meningkatnya suku bunga global, imbal hasil obligasi menjadi lebih menarik di negara maju. Hal ini mempercepat arus keluar modal dan menekan nilai tukar rupiah lebih dalam.
“Sentimen negatif ini membuat rupiah berpotensi melemah hingga Rp 17.550 per dolar AS pada pekan ini,” kata Ibrahim.
Sementara itu, Bank Indonesia memastikan akan terus menjaga stabilitas nilai tukar melalui berbagai instrumen kebijakan. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset BI, Erwin Gunawan Hutapea, menyebut pergerakan rupiah masih sejalan dengan tren mata uang negara berkembang lainnya.
Ia mencontohkan sejumlah mata uang yang juga mengalami pelemahan, seperti peso Filipina, baht Thailand, rupee India, hingga peso Chile. Dibandingkan negara lain, pelemahan rupiah masih berada dalam kisaran yang relatif sebanding.
“Indonesia Rupiah melemah 3,65 persen, dan Korea Won melemah 2,29 persen,” terangnya.
Untuk meredam gejolak, BI akan mengoptimalkan intervensi di pasar valuta asing melalui berbagai instrumen, termasuk transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot, serta Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.
Selain itu, pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder juga menjadi bagian dari strategi stabilisasi.
“BI akan terus mengoptimalkan intervensi di pasar valuta asing melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian SBN di pasar sekunder,” tuturnya.
Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus hadir di pasar secara konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global yang masih berlangsung.
“BI terus menegaskan komitmen untuk senantiasa hadir di pasar dan mengambil langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” tandasnya.