Mendarat Darurat di Tengah Sawah, Pesawat PK-WMP Dievakuasi Tanpa Alat Berat

INBERITA.COM, Proses evakuasi pesawat Bro SkyDrive Indonesia milik PT Wise Air dengan nomor registrasi PK-WMP yang mendarat darurat di area persawahan Desa Kertawaluya, Kecamatan Tirtamulya, Kabupaten Karawang, akhirnya selesai setelah melalui upaya panjang selama tiga hari.

Pesawat tersebut sebelumnya diketahui mengalami masalah lost power engine pada Jumat, 22 November 2025, hingga memaksa pilot melakukan pendaratan darurat di hamparan sawah warga di Kampung Ceplik.

Insiden pendaratan darurat di persawahan ini sempat menarik perhatian warga sekitar karena lokasi pesawat berada tepat di area tanam yang sudah mulai berlumpur akibat intensitas hujan dan persiapan musim tanam.

Meski tidak menimbulkan korban jiwa, keberadaan pesawat di tengah area persawahan membuat proses evakuasi tidak dapat dilakukan dengan peralatan mekanis berat seperti crane ataupun kendaraan derek.

Kondisi lahan yang basah dan mudah amblas membuat upaya evakuasi harus dilakukan secara hati-hati agar badan pesawat tidak semakin rusak.

Aparat Desa Kertawaluya bersama sejumlah warga kemudian mengambil langkah melakukan evakuasi secara manual.

Mereka mulai bekerja pada Kamis, beberapa hari setelah insiden, untuk memastikan kondisi lahan cukup stabil untuk dilintasi dan memastikan tidak ada risiko tambahan bagi tim yang terlibat.

Proses manual ini dilakukan dengan memanfaatkan tambang dan bambu sebagai alat bantu penarik. Setidaknya 20 orang aparat desa terlibat langsung dalam proses tersebut, bekerja berlapis-lapis untuk menjaga keseimbangan pesawat saat dipindahkan dari area persawahan menuju jalur setapak desa.

Evakuasi berjalan dramatis. Lumpur setinggi mata kaki hingga betis membuat setiap langkah tim penarik menjadi lambat. Setiap tarikan pada tambang membutuhkan koordinasi intens, sementara bambu dipasang di sejumlah sisi pesawat agar tidak tergelincir atau terbentur batu sawah.

Relokasi badan pesawat harus dilakukan perlahan, menghindari kemungkinan terguling atau terperosok kembali di titik-titik sawah yang lebih dalam.

Pada beberapa momen, proses bahkan sempat terhenti karena tim harus mengatur ulang jalur gerak pesawat agar dapat melewati permukaan lahan yang lebih stabil.

Meski mengalami banyak hambatan, tim aparat desa tetap melanjutkan upaya secara bergantian. Mereka bekerja sejak pagi hingga sore, mengikuti kondisi cuaca yang kerap berubah-ubah.

Ketika hujan turun, mereka harus menghentikan proses sementara untuk menghindari risiko pesawat semakin terbenam dalam lumpur. Namun ketika cuaca kembali cerah, kerja keras dilanjutkan tanpa jeda panjang.

Setelah tiga hari upaya tanpa henti, pesawat akhirnya berhasil ditarik keluar dari area persawahan dan dipindahkan ke halaman Kantor Desa Kertawaluya.

Keberhasilan ini menjadi bentuk kolaborasi antara aparat desa dan masyarakat setempat, yang menunjukkan solidaritas dan kekompakan dalam menangani situasi mendesak yang menimpa wilayah mereka.

Seorang aparat desa, yang terlibat langsung dalam proses penarikan pesawat, menuturkan betapa beratnya proses evakuasi tersebut.

Ia mengatakan bahwa seluruh pekerjaan dilakukan dengan peralatan sederhana tetapi membutuhkan koordinasi dan tenaga ekstra karena kondisi lahan yang tidak mendukung.

“Proses evakuasi ini dilakukan secara manual oleh kelompok aparat desa dengan ditarik menggunakan tambang dan bambu. Kami berhasil mengevakuasi pesawat selama tiga hari,” ujarnya pada Sabtu (29/11).

Kini setelah pesawat berhasil dipindahkan ke halaman kantor desa, rangkaian proses selanjutnya menunggu pihak perusahaan pemilik pesawat, PT Wise Air.

Perusahaan dijadwalkan mengirim kendaraan khusus yang dapat mengangkut badan pesawat untuk kemudian dibawa ke lokasi perawatan atau pemeriksaan teknis lebih lanjut.

Pemindahan menggunakan kendaraan besar baru bisa dilakukan setelah pesawat berada di area dengan akses jalan memadai, sehingga evakuasi manual dari sawah ke kantor desa menjadi langkah paling krusial.

Insiden ini juga menjadi perhatian karena menunjukkan pentingnya kesiapan darurat dan kerja sama antarwarga dalam menangani situasi tak terduga. Pendaratan darurat pesawat komersial ringan seperti ini jarang terjadi di wilayah Karawang, terutama di kawasan persawahan yang minim akses alat berat.

Karena itu, proses evakuasi yang berlangsung hingga tiga hari ini menjadi catatan tersendiri bagi aparat desa maupun masyarakat.

Meskipun demikian, keberhasilan evakuasi tanpa kerusakan tambahan pada pesawat dan tanpa menimbulkan korban dalam prosesnya menjadi hal yang patut diapresiasi.

Upaya kolektif ini sekaligus menjadi bukti bahwa penanganan insiden penerbangan tidak hanya bergantung pada teknologi modern, tetapi juga pada kerja sama, ketelitian, dan tenaga manusia ketika kondisi lapangan tidak memungkinkan penggunaan peralatan berat.

Dengan pesawat yang sudah berhasil dievakuasi ke kantor desa, warga setempat kini menunggu tindak lanjut pihak perusahaan dan proses investigasi lebih lengkap terkait gangguan mesin yang menyebabkan pendaratan darurat tersebut.

Pendingan pesawat oleh perusahaan diharapkan dapat segera dilakukan untuk memastikan tidak ada gangguan bagi aktivitas warga dan agar area persawahan bisa kembali dimanfaatkan untuk kegiatan tanam seperti semula.