Lima Penerbangan Bandara Komodo Batal, Terdampak Erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki

INBERITA.COM, Aktivitas erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), berdampak langsung terhadap operasional penerbangan di wilayah sekitarnya.

Kepala Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Komodo, Labuan Bajo, Ceppy Triono, mengonfirmasi bahwa lima jadwal penerbangan Wings Air ke beberapa daerah di NTT terdampak akibat situasi tersebut.

“Ada lima jadwal penerbangan terdampak yaitu ke Kabupaten Ende dan Bajawa yang diterbangi maskapai penerbangan Wings Air,” ujar Ceppy saat dihubungi dari Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Sabtu (21/9/2025).

Dari total penerbangan tersebut, tiga di antaranya telah dipastikan batal, sementara dua lainnya dijadwalkan akan diterbangkan pada Minggu (22/9/2025).

Penyesuaian jadwal ini dilakukan dengan mempertimbangkan faktor keselamatan penerbangan menyusul potensi sebaran abu vulkanik yang dapat membahayakan operasional pesawat di udara.

Meski sejumlah penerbangan mengalami gangguan, Ceppy menegaskan bahwa Bandara Internasional Komodo di Labuan Bajo masih beroperasi secara normal.

Ia menjelaskan bahwa hingga Sabtu sore, pihak bandara belum menemukan indikasi adanya sebaran abu vulkanik yang mencapai wilayah Labuan Bajo.

“Kami telah melakukan pemeriksaan paper test dan masih negatif, tapi tidak tahu untuk besok karena Gunung Lewotobi Laki-Laki masih terus erupsi,” katanya.

Paper test merupakan prosedur standar yang digunakan untuk mendeteksi keberadaan abu vulkanik di lingkungan bandara.

Pemeriksaan ini dilakukan dengan menempatkan kertas khusus di beberapa titik area landasan untuk mendeteksi partikel abu yang mungkin terbawa angin dari lokasi erupsi.

Hasil pemeriksaan ini menjadi salah satu indikator utama untuk memutuskan apakah operasional penerbangan bisa dilanjutkan atau perlu dihentikan sementara.

Situasi yang terjadi akibat erupsi ini menambah daftar panjang tantangan operasional penerbangan domestik di wilayah kepulauan seperti NTT.

Akses udara menjadi salah satu jalur transportasi utama yang menghubungkan kota-kota kecil dan daerah terpencil di provinsi tersebut.

Oleh karena itu, gangguan seperti ini sangat memengaruhi mobilitas masyarakat, distribusi logistik, dan aktivitas ekonomi lokal.

Maskapai Wings Air yang menjadi salah satu operator utama rute-rute pendek di kawasan NTT, menjadi pihak yang paling terdampak dalam insiden ini.

Penyesuaian jadwal dan pembatalan penerbangan dipastikan menimbulkan ketidaknyamanan bagi para penumpang.

Meski demikian, langkah tersebut merupakan bentuk mitigasi risiko yang diperlukan untuk menjamin keselamatan seluruh pihak yang terlibat dalam operasional penerbangan.

Ceppy mengimbau masyarakat dan calon penumpang untuk terus memantau perkembangan informasi melalui kanal resmi bandara maupun maskapai.

Ia juga mengingatkan bahwa status erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki masih aktif sejak erupsi terakhir kemarin, sehingga kondisi dapat berubah sewaktu-waktu.

“Kami tetap akan melakukan pemantauan secara berkala dan terus berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk memastikan bahwa setiap keputusan yang diambil berlandaskan pada aspek keselamatan penerbangan,” jelasnya.

Erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki sendiri masih terus berlangsung hingga Sabtu malam. Aktivitas vulkanik yang cukup intens sejak beberapa hari terakhir membuat sebagian wilayah di sekitarnya waspada terhadap potensi sebaran abu vulkanik.

Jika arah angin berubah ke arah barat, tidak menutup kemungkinan abu vulkanik dapat menyebar ke Labuan Bajo dan mengganggu aktivitas penerbangan lebih luas.

Dalam situasi seperti ini, langkah cepat dan koordinasi lintas instansi menjadi kunci. Pihak Bandara Komodo, otoritas penerbangan, BMKG, dan maskapai penerbangan terus berkomunikasi untuk memastikan semua keputusan operasional berdasarkan informasi terkini dan akurat.

Masyarakat diimbau untuk tidak panik, namun tetap waspada. Bagi penumpang yang penerbangannya dibatalkan, pihak maskapai akan memberikan opsi pengalihan jadwal atau pengembalian dana sesuai kebijakan masing-masing perusahaan.

Situasi ini menjadi pengingat bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan yang berada di kawasan cincin api memang rentan terhadap bencana geologis seperti letusan gunung berapi.

Namun, dengan sistem peringatan dini yang lebih baik dan koordinasi yang solid, risiko terhadap keselamatan publik dapat diminimalkan. (xpr)