Langit Borobudur Bermandikan Cahaya, 2.570 Lampion Waisak 2026 Diterbangkan dalam Dua Sesi

INBERITA.COM, Malam perayaan Waisak 2570 Buddhist Era (BE) atau 2026 Masehi di kawasan Candi Borobudur kembali menghadirkan pemandangan yang memukau.

Ribuan lampion yang dilepaskan ke langit menciptakan lautan cahaya di atas salah satu situs warisan dunia paling terkenal di Indonesia, sekaligus menjadi simbol harapan, kedamaian, dan refleksi spiritual bagi para peserta yang hadir.

Sejak sore hari, kawasan Marga Utama Candi Borobudur telah dipenuhi ribuan peserta dan pengunjung yang ingin menyaksikan langsung tradisi pelepasan lampion yang menjadi salah satu agenda paling dinantikan dalam rangkaian perayaan Waisak.

Suasana khidmat terasa ketika para peserta mengikuti sesi meditasi sebelum memasuki prosesi utama.

Mayoritas peserta mengenakan pakaian berwarna putih, mencerminkan nilai kesucian dan ketenangan yang menjadi bagian penting dalam ajaran Buddha.

Mereka datang tidak hanya dari wilayah sekitar Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, tetapi juga dari berbagai kota besar seperti Jakarta, Bandung, Semarang, hingga sejumlah daerah lain di Indonesia.

Tradisi pelepasan lampion tahun ini digelar dalam dua sesi. Sesi pertama dimulai pukul 19.00 WIB, sementara sesi kedua berlangsung pada pukul 22.00 WIB.

Total sebanyak 2.570 lampion diterbangkan ke angkasa, menyesuaikan angka peringatan Hari Raya Waisak 2570 BE.

Ketika lampion-lampion mulai mengudara secara serentak, langit malam Borobudur berubah menjadi pemandangan spektakuler yang mengundang decak kagum.

Cahaya lampion yang perlahan naik ke udara menciptakan panorama yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga sarat makna spiritual.

Tradisi ini selama bertahun-tahun telah menjadi simbol pelepasan harapan, doa, dan niat baik menuju kehidupan yang lebih damai.

Karena itu, pelepasan lampion tidak hanya menarik umat Buddha, tetapi juga wisatawan dan masyarakat umum yang ingin merasakan atmosfer spiritual khas Borobudur.

Antusiasme masyarakat terlihat dari banyaknya pengunjung yang rela datang dari luar kota demi menyaksikan momen tersebut.

Bahkan, sebagian warga memilih menonton dari area luar pagar kompleks Taman Wisata Candi Borobudur karena tingginya minat terhadap acara tersebut.

Salah satu pengunjung, Budi Setiawan (38), mengaku sengaja datang dari Tegal untuk menyaksikan langsung pelepasan lampion. Baginya, pengalaman tersebut menjadi momen yang tidak ingin dilewatkan setelah tahun sebelumnya gagal hadir.

“Tahun lalu nggak nonton. Ini dari Tegal sampai Borobudur jam 12.00 WIB,” ujar Budi.

Ia mengaku langsung membeli tiket ketika penjualan dibuka karena khawatir kehabisan. Bersama keluarganya, Budi datang untuk mengikuti sesi pertama pelepasan lampion.

“Penasaran ini. Dulu begitu diumumkan tiket nonton langsung membeli tiket nonton Rp 65 ribu. Saya beli dua,” katanya.

Pengunjung lainnya, Chafid Abdullah (31), yang datang dari Wonosobo, mengaku terkesan dengan suasana yang tercipta selama acara berlangsung.

Menurutnya, selain menghadirkan pengalaman yang berkesan, kegiatan tersebut juga menjadi simbol kuat toleransi antarumat beragama di Indonesia.

“Ada experience dan toleransi beragama. Begitu ada tiket langsung membelinya,” ujarnya.

Pelepasan lampion di Borobudur memang telah berkembang menjadi salah satu atraksi budaya dan spiritual terbesar di Indonesia.

Setiap tahun, kegiatan ini tidak hanya menarik perhatian wisatawan domestik, tetapi juga wisatawan mancanegara yang ingin menyaksikan secara langsung perayaan Waisak di candi Buddha terbesar di dunia tersebut.

Selain memiliki nilai religius yang mendalam, tradisi ini juga memberikan dampak positif bagi sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat sekitar.

Tingginya jumlah pengunjung selama perayaan Waisak mendorong peningkatan aktivitas usaha lokal, mulai dari penginapan, kuliner, transportasi, hingga sektor ekonomi kreatif.

Borobudur sendiri selama beberapa tahun terakhir semakin dikenal sebagai destinasi wisata spiritual kelas dunia. Berbagai kegiatan keagamaan dan budaya yang digelar di kawasan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat citra Indonesia sebagai negara yang menjunjung tinggi keberagaman, toleransi, dan harmoni sosial.

Di tengah suasana malam yang tenang, ribuan lampion yang perlahan menghilang di balik langit Borobudur meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta.

Bukan sekadar pertunjukan cahaya, momen tersebut menjadi pengingat tentang pentingnya kedamaian, harapan, dan semangat kebersamaan yang melampaui perbedaan.

Bagi banyak orang yang hadir, malam Waisak di Borobudur bukan hanya sebuah acara tahunan, melainkan pengalaman spiritual yang sulit dilupakan.

Cahaya lampion yang menerangi langit seolah menjadi simbol bahwa harapan dan kebaikan akan selalu menemukan jalannya untuk bersinar.