Krisis di Kapal Induk USS Abraham Lincoln: Para Prajurit AS di Ambang Kehancuran Mental akibat Perang Iran yang Tak Berujung

INBERITA.COM, Ribuan awak kapal induk USS Abraham Lincoln kini terperangkap dalam lingkaran setan kelelahan, kelaparan, dan tekanan psikologis akibat pengerahan militer AS di Timur Tengah yang tak kunjung usai.

Laporan dari awak dan keluarga mereka mengungkap kondisi memprihatinkan di atas kapal, mulai dari pasokan makanan yang menipis hingga fasilitas dasar yang rusak, sementara Angkatan Laut AS bersikukuh bahwa operasional kapal masih berjalan normal.

Kondisi ini semakin memanas setelah seorang pelaut dikabarkan mencoba bunuh diri dengan melompat ke laut, sebuah insiden yang memicu kecaman keras dari keluarga dan anggota Kongres.

Kekurangan pasokan yang dialami USS Abraham Lincoln bukan sekadar persoalan logistik biasa, melainkan cerminan dari ketidaksiapan Angkatan Laut AS menghadapi perang atrisi yang berkepanjangan melawan Iran.

Menurut laporan wartawan, kapal yang meninggalkan San Diego pada November tahun lalu itu kini telah menghabiskan lebih dari 260 hari di laut, dengan lebih dari 200 hari berturut-turut tanpa singgah di pelabuhan.

Padahal, dalam kondisi normal, pengerahan kapal induk kelas Nimitz tidak boleh melebihi 220 hari tanpa istirahat.

Para awak mengeluhkan ketiadaan pasta gigi, deodoran, dan sabun, serta toilet yang rusak dan sistem perpipaan yang bocor, sementara makanan yang tersedia hanya berupa nasi dan tortilla dalam porsi minim.

Tekanan psikologis yang melanda awak kapal semakin nyata setelah insiden bunuh diri yang hampir terjadi pada Agustus lalu.

Seorang pelaut dilaporkan melompat ke laut dan berhasil diselamatkan setelah satu jam, namun keluarga korban mengungkap bahwa pria tersebut tengah mengalami kelelahan emosional dan takut akan dipecat secara tidak terhormat.

Laporan wartawan menyebutkan bahwa beberapa anggota keluarga awak lainnya juga mengaku menerima pesan dari suami atau ayah mereka yang menyatakan keinginan untuk tidak bangun keesokan harinya.

Meskipun Angkatan Laut AS membantihal tersebut, keluarga awak tetap waspada karena dokter kapal sendiri diduga telah memperingatkan bahwa moral awak sudah berada di titik nadir.

Kondisi ini diperparah oleh serangan-serangan yang diklaim Iran terhadap USS Abraham Lincoln, meskipun Washington membantahnya.

Iran mengeklaim telah menembakkan rudal balistik, drone, dan melancarkan serangan siber yang membuat kapal induk tersebut tidak dapat beroperasi.

Pada Maret lalu, Teheran bahkan menyatakan telah menyerang pusat-pusat logistik Angkatan Laut AS di Oman, termasuk fasilitas pengisian bahan bakar dan gudang persenjataan.

Meskipun klaim tersebut dibantah Pentagon, tidak dapat dipungkiri bahwa kapal induk tersebut kini beroperasi dalam lingkungan yang tidak aman, dengan lebih dari 10.000 penerbangan pesawat dan penggunaan 1,5 juta pon amunisi selama misi.

Ketegangan di dalam kapal pun memuncak setelah laporan Iran menyebutkan terjadinya bentrokan kekerasan yang mengakibatkan tujuh personel Angkatan Laut AS tewas.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa seorang penasihat CENTCOM bahkan dilempari botol air sebelum situasi berubah menjadi perkelahian menggunakan pisau.

Meskipun CENTCOM membantah tuduhan tersebut, tidak dapat dipungkiri bahwa tekanan psikologis akibat pengerahan yang terlalu lama telah menciptakan lingkungan yang tidak stabil di atas kapal.

Kondisi USS Abraham Lincoln kini menjadi sorotan anggota Kongres AS, yang menuntut penjelasan dari Pentagon mengenai keberlanjutan operasional kapal.

Senator Demokrat Richard Blumenthal bahkan menyebut pengerahan yang terlalu lama sebagai “bukan pengecualian, melainkan ciri” dari model pembentukan kekuatan Angkatan Laut saat ini.

Sementara itu, Senator Ruben Gallego menyerukan kunjungan pengawasan bipartisan ke kapal induk tersebut, sementara pemimpin Demokrat di Senat, Chuck Schumer, mendesak agar Pentagon memberikan jaminan bahwa awak kapal tidak akan dirugikan akibat kondisi yang semakin memburuk.

Krisis di USS Abraham Lincoln bukan sekadar persoalan logistik atau operasional, melainkan sebuah kegagalan sistemik dalam menghadapi perang yang tak berujung.

Para awak kapal, yang seharusnya menjadi tulang punggung kekuatan militer AS, kini justru terperangkap dalam lingkaran kelelahan dan ketidakpastian.

Jika tidak segera ditangani, kondisi ini tidak hanya akan mengancam keselamatan mereka, tetapi juga kredibilitas Angkatan Laut AS di mata dunia.