INBERITA.COM, Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memasuki fase berbahaya setelah kedua negara terlibat dalam aksi saling serang yang memperluas risiko konflik di kawasan Timur Tengah.
Dalam perkembangan terbaru, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan telah melancarkan operasi militer terhadap puluhan target yang terkait dengan militer Amerika Serikat di sejumlah negara Teluk.
Serangan tersebut disebut sebagai respons langsung atas operasi militer Washington yang sebelumnya menghantam beberapa lokasi strategis Iran di sekitar Selat Hormuz.
Kawasan itu selama ini dikenal sebagai salah satu jalur energi terpenting dunia yang menjadi titik sensitif dalam dinamika geopolitik global.
Menurut pernyataan IRGC, total 22 target militer Amerika Serikat menjadi sasaran dalam operasi balasan yang dilakukan pada Rabu (10/6/2026).
Target tersebut tersebar di Yordania, Bahrain, dan Kuwait, termasuk sejumlah fasilitas yang disebut memiliki peran penting dalam aktivitas militer AS di kawasan.
Fokus utama serangan berada di wilayah Azraq, Yordania. Iran mengklaim rudal jarak jauh yang ditembakkan berhasil mengenai empat fasilitas penting milik Amerika Serikat, termasuk hanggar yang digunakan untuk menempatkan jet tempur siluman F-35 serta pusat komando dan pengendalian operasi militer.
Selain serangan rudal, IRGC juga menyebut menggunakan drone untuk menyerang markas Armada Kelima Amerika Serikat yang berada di Bahrain dan pangkalan udara Ali Al Salem di Kuwait.
Kedua fasilitas tersebut selama bertahun-tahun menjadi elemen penting kehadiran militer Washington di kawasan Teluk.
Pihak Teheran mengklaim operasi tersebut merupakan pesan tegas bahwa setiap serangan terhadap wilayah Iran akan mendapatkan respons yang setimpal.
Bahkan, Garda Revolusi memperingatkan bahwa mereka siap meningkatkan skala serangan apabila Amerika Serikat melanjutkan operasi militernya.
Konfrontasi terbaru ini dipicu oleh serangan Amerika Serikat yang menyasar Pulau Qeshm serta sejumlah fasilitas pelabuhan di sepanjang pesisir Selat Hormuz.
Washington sebelumnya menuding Iran bertanggung jawab atas jatuhnya helikopter tempur AH-64 Apache milik militer AS yang sedang menjalankan patroli di kawasan tersebut.
Presiden AS Donald Trump disebut menjanjikan tindakan balasan setelah insiden jatuhnya helikopter tersebut. Langkah itu kemudian berujung pada serangan ke beberapa titik di wilayah Iran yang menurut laporan media setempat juga berdampak pada infrastruktur sipil.
Garda Revolusi menuduh serangan Amerika Serikat menyebabkan kerusakan pada fasilitas nonmiliter, termasuk menara telekomunikasi dan tangki penyimpanan air bersih di kota Sirik yang berada di pesisir selatan Iran. Klaim tersebut hingga kini belum mendapat tanggapan resmi dari pihak Washington.
Di tengah eskalasi yang terus meningkat, IRGC juga mengumumkan keberhasilan sistem pertahanan udaranya menembak jatuh drone pengintai MQ-9 milik Amerika Serikat. Pesawat tanpa awak tersebut diklaim jatuh saat melintasi wilayah udara di atas kota Jam, Iran.
Namun, sejumlah klaim yang disampaikan Teheran mengenai tingkat kerusakan maupun keberhasilan operasi masih belum dapat diverifikasi secara independen.
Hingga saat ini, otoritas pertahanan Amerika Serikat belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait laporan mengenai kerusakan hanggar F-35 maupun jatuhnya drone MQ-9.
Sementara itu, dampak konflik mulai dirasakan negara-negara yang berada di sekitar lokasi serangan.
Militer Yordania melaporkan berhasil mencegat sebagian rudal yang mengarah ke wilayah Azraq. Sedikitnya lima rudal disebut berhasil dihancurkan oleh sistem pertahanan udara sebelum mencapai sasaran.
Pemerintah Yordania menegaskan tidak ada korban jiwa maupun kerusakan besar akibat serpihan rudal yang jatuh setelah proses intersepsi.
Pernyataan serupa juga datang dari Kuwait yang mengonfirmasi adanya upaya pengamanan terhadap objek udara yang memasuki wilayah mereka.
Di Bahrain dan Kuwait, sirene peringatan serangan udara sempat dibunyikan sebagai langkah antisipasi. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran publik akan kemungkinan meluasnya konflik ke negara-negara Teluk lainnya.
Pengamat hubungan internasional menilai langkah Iran merupakan upaya mempertahankan efek pencegahan terhadap lawan-lawannya. Teheran dinilai ingin menunjukkan bahwa serangan terhadap wilayahnya tidak akan dibiarkan tanpa balasan.
Wakil Presiden Eksekutif Quincy Institute for Responsible Statecraft, Trita Parsi, mengatakan respons Iran bertujuan mengirim pesan bahwa setiap bentuk agresi akan dibalas, terlepas dari besar atau kecilnya serangan yang diterima.
“Karena jika tidak, sebuah kenormalan baru akan terbentuk, di mana Amerika Serikat dapat menyerang Iran dengan sedikit banyak kebal dari hukum,” kata Parsi kepada awak media.
Menurutnya, strategi tersebut juga bertujuan menjaga kredibilitas militer dan posisi tawar Iran di tengah meningkatnya tekanan geopolitik di kawasan.
Ketegangan terbaru ini menjadi bentrokan bersenjata terbesar kedua antara kedua negara sejak gencatan senjata yang disepakati pada April lalu.
Situasi tersebut kembali menempatkan Selat Hormuz sebagai salah satu titik paling rawan di dunia, mengingat jalur itu dilalui sebagian besar perdagangan minyak global.
Dengan kedua pihak sama-sama menunjukkan kesiapan militer dan belum adanya tanda-tanda deeskalasi, perhatian dunia kini tertuju pada langkah berikutnya dari Washington maupun Teheran.
Setiap keputusan yang diambil berpotensi menentukan apakah konflik akan mereda melalui jalur diplomasi atau justru berkembang menjadi konfrontasi yang lebih luas di Timur Tengah.







