INBERITA.COM, Kisah dr Rosa, seorang dokter RSUD dr. Doris Sylvanus Palangka Raya yang tengah menempuh pendidikan spesialis Penyakit Dalam di Universitas Airlangga Surabaya (Unair), menyita perhatian publik setelah aksinya menolong persalinan darurat seorang ibu di dalam mobil Grab viral di media sosial.
Peristiwa yang terjadi di tengah hujan malam itu menghadirkan potret nyata dedikasi dan kemanusiaan seorang tenaga medis yang menjalankan panggilan profesinya di luar ruang praktik dan fasilitas kesehatan.
Malam itu, hujan turun perlahan membasahi Surabaya. Pantulan lampu jalan di aspal basah dan suara wiper yang bergerak ritmis mengiringi laju sebuah mobil Grab menembus gerimis.
Di balik kemudi, dr Rosa tidak menyangka perjalanan tersebut akan berubah menjadi salah satu momen paling menentukan dalam hidupnya.
Seorang ibu penumpang mobil itu mengalami persalinan darurat, dan dr Rosa menjadi saksi sekaligus penolong lahirnya seorang bayi di kursi belakang kendaraan.
Persalinan tersebut tidak berlangsung di ruang operasi atau ruang bersalin yang steril dengan peralatan medis lengkap.
Proses kelahiran itu terjadi di ruang sempit mobil, di tengah malam, dengan keterbatasan alat dan waktu. Namun dalam kondisi darurat tersebut, naluri dan tanggung jawab profesi dr Rosa sebagai dokter mengambil alih.
Ia melakukan pertolongan semampunya demi keselamatan ibu dan bayi.
Peristiwa itu kemudian menyebar luas di media sosial dan menjadi viral. Banyak warganet menilai kisah dr Rosa sebagai contoh keteladanan dan pengabdian seorang dokter.
Namun bagi dr Rosa, kejadian tersebut bukanlah aksi heroik semata. Peristiwa itu mencerminkan nilai kemanusiaan dan dedikasi yang melekat dalam profesi dokter, yang tetap berlaku di mana pun dan kapan pun.
Rosa bukan sosok baru dalam dunia pelayanan kesehatan. Ia mulai mengabdi di RSUD dr. Doris Sylvanus Palangka Raya sejak 2015 sebagai tenaga honorer.
Selama bertahun-tahun, ia melayani masyarakat dengan berbagai latar belakang dan kondisi kesehatan. Pengabdiannya berlanjut ketika pada 2019 ia resmi diangkat sebagai dokter PNS.
Sebagai dokter umum, dr Rosa telah menangani beragam kasus medis, mulai dari keluhan ringan hingga kondisi gawat darurat yang membutuhkan penanganan cepat dan tepat.
Pengalaman tersebut membentuk kepekaan dan ketangguhannya dalam menghadapi situasi krisis. Pada 2021, ia mendapat tugas belajar untuk melanjutkan pendidikan spesialis Penyakit Dalam di Surabaya.
Kesempatan itu diperolehnya melalui beasiswa dari Kementerian Kesehatan.
Perjalanan akademik tersebut menjadi langkah penting dalam pengembangan karier dan kompetensinya sebagai dokter. Namun, proses itu tidak selalu berjalan lancar.
Dr Rosa mengakui bahwa ia menghadapi berbagai kendala personal dan tekanan yang membuat masa studinya tertunda.
Hingga kini, ia telah menempuh pendidikan hingga semester ke-11, sebuah fase yang ia sebut sebagai titik rapuh dalam hidupnya.
“Studi saya molor. Itu bukan sesuatu yang patut dicontoh,” katanya jujur.
Kejujuran tersebut menunjukkan sisi manusiawi seorang dokter yang juga menghadapi tantangan hidup seperti kebanyakan orang.
Di tengah tuntutan akademik, tekanan mental, dan berkurangnya jadwal jaga klinis, dr Rosa berusaha mencari cara untuk tetap produktif dan menjaga keseimbangan hidup.
Sejak Oktober 2025, ia memutuskan untuk menjadi pengemudi Grab Car. Keputusan itu diambil bukan semata untuk mencari penghasilan tambahan, melainkan sebagai upaya menjaga kesehatan mental dan tetap terhubung dengan aktivitas sosial.
Mengemudi menjadi ruang baginya untuk terus bergerak dan berinteraksi dengan banyak orang dari berbagai latar belakang.
Bagi dr Rosa, pekerjaan sebagai pengemudi Grab bukanlah hal yang bertentangan dengan identitasnya sebagai dokter.
Justru dari aktivitas tersebut, ia merasa tetap bisa memberi manfaat dan mempertahankan rasa empati terhadap sesama.
Interaksi dengan penumpang memberinya perspektif baru tentang kehidupan dan perjuangan banyak orang.
“Saya daftar Grab untuk mengisi waktu, dan ternyata juga membantu secara mental dan finansial,” ujarnya.
Pengalaman menolong persalinan darurat di dalam mobil Grab menjadi pertemuan antara dua peran yang dijalaninya saat ini, sebagai dokter dan sebagai pengemudi.
Dalam situasi tersebut, identitas profesinya sebagai dokter kembali menjadi yang utama. Tanpa ragu, ia melakukan apa yang bisa dilakukan demi keselamatan ibu dan bayi, meski berada di luar lingkungan medis yang ideal.
Kisah dr Rosa menjadi pengingat bahwa profesi dokter bukan sekadar pekerjaan yang dibatasi ruang dan waktu.
Dedikasi, kepekaan, dan komitmen terhadap kemanusiaan dapat muncul dalam situasi tak terduga, bahkan di tengah perjalanan malam dalam sebuah mobil.
Viral atau tidak, tindakan tersebut mencerminkan nilai dasar profesi medis yang berorientasi pada keselamatan dan kehidupan manusia.
Di tengah sorotan publik atas kisahnya, dr Rosa tetap menjalani hari-harinya sebagai mahasiswa spesialis dan pengemudi Grab dengan rendah hati.
Baginya, pengalaman tersebut adalah bagian dari perjalanan hidup dan pengabdiannya sebagai dokter, yang terus belajar, berjuang, dan hadir untuk sesama dalam kondisi apa pun.