INBERITA.COM, Kasus dugaan keracunan yang menimpa peserta Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi di Kabupaten Jember, Jawa Timur.
Kali ini, sejumlah anak usia dini hingga siswa sekolah dasar di Kecamatan Bangsalsari mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap makanan yang dibagikan melalui program tersebut.
Peristiwa ini langsung memicu respons cepat dari pemerintah daerah yang memprioritaskan penanganan medis terhadap para korban sekaligus melakukan penelusuran terhadap penyebab kejadian.
Laporan awal yang diterima pemerintah setempat menunjukkan para siswa mulai mengalami keluhan pada Rabu (15/7/2026) malam. Gejala yang muncul di antaranya mual, muntah, pusing, hingga diare.
Sebagian anak kemudian dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat, baik puskesmas maupun klinik, untuk mendapatkan penanganan medis.
Pelaksana Tugas Camat Bangsalsari, Deni Hadiatullah, mengatakan pihak kecamatan langsung bergerak setelah menerima laporan mengenai kondisi para siswa.
Bersama unsur Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika), ia mendatangi fasilitas kesehatan guna memastikan korban memperoleh layanan secepat mungkin.
“Anak-anak mengalami mual, muntah, pusing, dan diare,” kata Deni.
Menurutnya, fokus utama pemerintah saat ini adalah memastikan seluruh korban mendapatkan penanganan kesehatan tanpa hambatan.
Di saat yang sama, pendataan terus dilakukan karena masih ada kemungkinan jumlah korban bertambah seiring masuknya laporan dari sekolah-sekolah lain di wilayah Bangsalsari.
Berdasarkan informasi sementara, sedikitnya sepuluh orang dilaporkan mengalami gejala serupa. Mayoritas merupakan anak-anak yang menerima makanan dari program MBG. Namun, terdapat pula seorang ibu yang ikut mengalami keluhan setelah mencicipi makanan milik anaknya.
“Kami masih menyisir dan mencari informasi kemungkinan adanya korban lain di sejumlah sekolah,” ujar Deni.
Selain mendata korban, pemerintah kecamatan juga bergerak untuk mengamankan barang bukti yang diduga berkaitan dengan insiden tersebut.
Deni bersama tim mendatangi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jember Bangsalsari Karangsono yang bertugas memproduksi sekaligus mendistribusikan makanan dalam program MBG di wilayah tersebut.
Langkah pengamanan sampel makanan dilakukan sebagai bagian dari proses investigasi. Sampel tersebut nantinya dapat diperiksa lebih lanjut guna mengetahui apakah terdapat kontaminasi atau faktor lain yang menjadi penyebab munculnya gejala pada para siswa.
“Kami mengambil sampel menunya,” kata Deni.
Ia menegaskan bahwa arahan dari pimpinan daerah saat ini sangat jelas, yakni mengutamakan keselamatan para siswa yang terdampak.
Pemerintah daerah juga menjalin koordinasi intensif dengan rumah sakit, puskesmas, serta klinik yang menerima pasien agar seluruh korban memperoleh pelayanan kesehatan secara optimal.
“Sesuai arahan pimpinan, kami berfokus menyelamatkan siswa terdampak. Kami berkomunikasi dengan rumah sakit, puskesmas, dan klinik-klinik. Saya memantau untuk memastikan layanan dan pemberian fasilitas kesehatan bagi korban-korban ini,” ujarnya.
Di sisi lain, pemerintah kabupaten turut memberikan perhatian serius terhadap insiden tersebut.
Ketua Satuan Tugas Makan Bergizi Gratis Jember, Achmad Imam Fauzi, menyampaikan bahwa Bupati Jember menyayangkan kembali munculnya dugaan keracunan yang berkaitan dengan program pemenuhan gizi bagi pelajar itu.
Menurut Fauzi, kepala daerah telah menginstruksikan seluruh jajaran terkait untuk memastikan korban memperoleh layanan kesehatan terbaik tanpa dipungut biaya. Penanganan medis diprioritaskan sembari menunggu hasil penyelidikan terhadap penyebab pasti kejadian tersebut.
“Bupati sangat menyesalkan kejadian tersebut dan menginstruksikan agar melakukan penyelamatan korban serta memberikan pelayanan kesehatan terbaik secara gratis kepada korban,” kata Fauzi.
Selain fokus pada penanganan korban, pemerintah juga meminta seluruh unsur di lapangan memperkuat proses pengumpulan bukti. Camat diminta memastikan seluruh sampel makanan yang diduga berkaitan dengan insiden ini diamankan agar dapat dianalisis oleh pihak berwenang.
“Amankan sampel makanan yang diduga menjadi penyebab keracunan,” ujar Fauzi.
Insiden ini kembali mengingatkan pentingnya pengawasan ketat terhadap seluruh rantai penyediaan makanan dalam Program Makan Bergizi Gratis.
Mulai dari proses pemilihan bahan baku, pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi, seluruh tahapan memerlukan standar keamanan pangan yang konsisten agar makanan tetap layak dikonsumsi ketika diterima siswa.
Dalam penanganan dugaan keracunan makanan, pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan biasanya menjadi langkah penting untuk memastikan penyebab sebenarnya.
Hasil uji tersebut akan membantu menentukan apakah gangguan kesehatan dipicu oleh kontaminasi bakteri, kualitas bahan makanan, proses pengolahan, atau faktor lain yang memerlukan evaluasi lebih lanjut.
Selain pemeriksaan terhadap makanan, petugas kesehatan juga umumnya melakukan pemantauan kondisi pasien untuk memastikan proses pemulihan berjalan baik.
Pendataan korban menjadi bagian penting agar tidak ada siswa yang mengalami gejala tetapi belum mendapatkan penanganan medis.
Program Makan Bergizi Gratis sendiri dirancang untuk meningkatkan asupan gizi peserta didik sebagai bagian dari upaya mendukung kesehatan dan kualitas pendidikan.
Karena menyasar kelompok usia anak-anak, aspek keamanan pangan menjadi elemen yang tidak dapat dipisahkan dari keberhasilan pelaksanaan program.
Hingga kini, pemerintah masih melakukan penelusuran terhadap kemungkinan adanya korban tambahan sekaligus menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut terhadap sampel makanan yang telah diamankan.
Sementara itu, seluruh siswa yang mengalami keluhan terus dipantau oleh tenaga kesehatan agar kondisi mereka segera membaik dan dapat kembali beraktivitas seperti biasa setelah dinyatakan pulih.