Karhutla Berulang di Ketapang Picu Krisis Habitat, Orangutan Terpaksa Mendekati Permukiman Warga

INBERITA.COM, Kebakaran hutan dan lahan di Ketapang, Kalimantan Barat, meninggalkan persoalan yang jauh lebih panjang daripada asap dan lahan yang hangus. Ketika hutan kehilangan tutupannya, satwa yang bergantung pada ekosistem tersebut ikut kehilangan ruang untuk bertahan hidup.

Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) menilai kondisi itu semakin mengkhawatirkan bagi orangutan.

Habitat yang rusak membuat satwa tersebut kesulitan memperoleh makanan dan tempat tinggal. Dalam kondisi tertentu, orangutan akhirnya terdorong keluar dari kawasan hutan dan mendekati kebun atau permukiman warga.

Ketua Umum YIARI Silverius Oscar Unggul menyebut karhutla di Ketapang sudah masuk kategori serius. Menurutnya, persoalan tersebut tidak lagi sebatas kerusakan lingkungan karena dampaknya merembet pada keselamatan manusia dan satwa liar.

“Ketika hutan terbakar dan terfragmentasi, orangutan kehilangan makanan, kehilangan tempat tinggal, dan akhirnya terdorong ke kebun warga,” kata Silverius, Sabtu (8/8/2026).

Pernyataan itu menggambarkan mata rantai persoalan yang kerap luput ketika kebakaran hutan hanya dihitung berdasarkan luas lahan yang terbakar.

Kerusakan habitat tidak berhenti ketika api padam. Hilangnya vegetasi dan sumber pakan dapat membuat satwa kehilangan kemampuan untuk bertahan di wilayah asalnya.

Orangutan yang keluar dari habitatnya kemudian berhadapan dengan persoalan baru. Kehadirannya di perkebunan warga dapat menimbulkan kerusakan tanaman sekaligus memunculkan kekhawatiran masyarakat terhadap keselamatan dan keamanan lingkungan sekitar.

Dengan kata lain, warga dan satwa sama-sama berada dalam posisi rentan. Warga dapat kehilangan hasil perkebunan, sementara orangutan kehilangan habitat yang seharusnya menjadi tempat hidupnya.

YIARI mencatat kebakaran serupa pernah terjadi di Ketapang pada 2015 dan 2019, antara lain di kawasan Desa Kuala Tolak dan sekitarnya. Saat kebakaran hebat terjadi, sejumlah orangutan harus dievakuasi untuk mencegah konflik dengan masyarakat.

Upaya penyelamatan tersebut dilakukan bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat. Setelah dievakuasi, orangutan kemudian dilepasliarkan kembali ke kawasan yang dinilai memiliki kondisi habitat memadai.

Salah satu lokasi pelepasliaran berada di areal konsesi PT Mohairson Pawan Khawatulistiwa (Mopakha). General Manager PT Mopakha Wendi Tamariska mengatakan lokasi tersebut dipilih karena memiliki tutupan tajuk serta ketersediaan pakan yang cukup.

Namun, evakuasi dan pelepasliaran tidak bisa menjadi satu-satunya jawaban. Jika sumber persoalannya adalah habitat yang terus rusak akibat kebakaran dan pembukaan lahan, satwa berpotensi kembali menghadapi masalah yang sama.

Kepala BKSDA Kalimantan Barat Murlan Dameria Pane menegaskan bahwa penanganan konflik manusia dan satwa liar harus dilakukan secara terpadu.

Pengendalian kebakaran, perlindungan habitat, dan penegakan hukum terhadap pembukaan lahan dengan cara membakar merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan.

Masalahnya, setiap kebakaran berulang berpotensi mempersempit ruang hidup satwa secara perlahan. Hutan yang terfragmentasi membuat wilayah jelajah semakin terbatas, sementara sumber makanan semakin sulit ditemukan.

Karena itu, dampak karhutla seharusnya tidak hanya dilihat dari jumlah hektare yang terbakar atau biaya pemadaman. Ada ekosistem yang membutuhkan waktu panjang untuk pulih dan ada satwa yang mungkin tidak mampu bertahan jika kehilangan habitatnya secara terus-menerus.

Bagi masyarakat, kerusakan habitat juga berarti meningkatnya kemungkinan perjumpaan dengan satwa liar. Konflik yang muncul kemudian dapat menimbulkan kerugian ekonomi, menambah beban penanganan pemerintah, sekaligus membahayakan satwa dan manusia.

Silverius menilai dampak tersebut juga membebani negara, mulai dari pemadaman kebakaran, pemantauan lapangan, penanganan konflik satwa, translokasi, hingga pemulihan habitat.

Rangkaian persoalan itu menunjukkan bahwa mencegah kebakaran sejak awal jauh lebih penting daripada sekadar memadamkan api setelah meluas.

Perlindungan hutan bukan hanya upaya menjaga pepohonan, tetapi juga menjaga rantai kehidupan yang bergantung pada ekosistem tersebut.

Ketapang dengan demikian menghadapi tantangan ganda: menghentikan kebakaran yang berulang sekaligus memastikan habitat orangutan tidak terus menyusut. Jika dua persoalan itu ditangani secara terpisah, konflik antara manusia dan satwa akan berisiko terus berulang.

Pada akhirnya, menjaga habitat orangutan juga berarti mengurangi risiko konflik bagi warga. Hutan yang tetap berfungsi memberi ruang bagi satwa untuk hidup tanpa harus mencari makan di kebun atau mendekati permukiman manusia.