INBERITA.COM, Sorotan publik terhadap pengadaan motor listrik oleh Badan Gizi Nasional (BGN) terus bergulir.
Kali ini, perhatian tertuju pada kantor perusahaan pemenang tender, PT Yasa Artha Trimanunggal, yang terpantau mendapat penjagaan ketat dari aparat kepolisian di kawasan Grogol, Jakarta Barat.
Kantor perusahaan tersebut berlokasi di Jalan Indraloka II, Kecamatan Grogol Petamburan, sebuah area pemukiman padat penduduk.
Situasi di lokasi terlihat tidak biasa pada Jumat siang, ketika sejumlah aparat kepolisian, baik berseragam maupun berpakaian sipil, berkumpul dan melakukan apel di jalan sempit sekitar kantor perusahaan.
Apel tersebut dipimpin oleh seorang perwira berpangkat Ajun Komisaris Polisi (AKP).
Setelah apel selesai, para personel tampak menyebar dan berjaga di beberapa titik di sekitar lokasi, termasuk di dekat sebuah warung kelontong yang berada tidak jauh dari kantor PT Yasa Artha Trimanunggal.
Kehadiran aparat dalam jumlah cukup banyak ini memicu perhatian warga sekitar dan publik luas, terlebih di tengah ramainya perbincangan mengenai proyek pengadaan motor listrik oleh BGN.
Saat dikonfirmasi terkait alasan pengamanan tersebut, AKP Madi hanya memberikan jawaban singkat. “Ada pengamanan,” ujarnya di lokasi, Jumat siang.
Hingga pukul 15.42 WIB, aparat kepolisian masih terlihat berjaga di depan gedung perusahaan. Setelah itu, mereka mulai meninggalkan lokasi secara bertahap.
Meski demikian, belum ada penjelasan resmi dari pihak kepolisian mengenai alasan detail di balik pengamanan tersebut. Kapolres Metro Jakarta Barat Kombes Twedi Aditya dan Kapolsek Grogol Petamburan AKP Reza Aditya juga belum memberikan keterangan hingga berita ini diturunkan.
Nama PT Yasa Artha Trimanunggal mencuat setelah diketahui sebagai pemenang tender pengadaan puluhan ribu motor listrik untuk kebutuhan kepala SPPG di bawah BGN.
Berdasarkan informasi yang beredar, total pengadaan mencapai 21.800 unit motor listrik dengan nilai fantastis sekitar Rp 1,2 triliun. Setiap unit motor listrik disebut dibeli dengan harga Rp 42 juta.
Nilai anggaran yang besar tersebut memicu gelombang kritik dari masyarakat, khususnya di media sosial.
Banyak warganet mempertanyakan urgensi dan transparansi pengadaan tersebut, bahkan menuding BGN tidak bijak dalam menggunakan uang negara.
Di tengah derasnya kritik, kondisi kantor PT Yasa Artha Trimanunggal sendiri tampak tertutup.
Aktivitas di dalam gedung terpantau terbatas, dengan hanya sesekali terlihat sejumlah orang keluar masuk dari area tersebut.
Tidak ada aktivitas mencolok yang menunjukkan operasional perusahaan dalam skala besar, meski perusahaan ini memenangkan proyek bernilai triliunan rupiah.
Kontras antara nilai proyek yang sangat besar dengan kondisi kantor yang berada di kawasan pemukiman padat semakin menambah tanda tanya publik.
Situasi ini turut memperkuat sorotan terhadap proses pengadaan, termasuk kredibilitas perusahaan yang terlibat.
Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi dari pihak BGN maupun PT Yasa Artha Trimanunggal terkait polemik yang berkembang.
Publik pun masih menunggu klarifikasi menyeluruh mengenai proyek pengadaan motor listrik tersebut, termasuk alasan penunjukan perusahaan dan rincian penggunaan anggaran negara.
Kasus ini menjadi perhatian luas karena menyangkut penggunaan dana publik dalam jumlah besar.
Transparansi dan akuntabilitas dinilai menjadi kunci untuk meredam polemik sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat terhadap lembaga negara.