Jerman Tumbang vs Paraguay Lewat Adu Penalti, Kimmich Ambil Tanggung Jawab: Kami Layak Tersingkir dari Piala Dunia 2026

Kimmich usai jerman tersingkirKimmich usai jerman tersingkir
Joshua Kimmich mengakui Jerman layak tersingkir setelah penampilan yang dinilai jauh dari harapan. Paraguay memastikan langkah ke babak 16 besar usai mengalahkan Jerman melalui adu penalti.

INBERITA.COM, Perjalanan Timnas Jerman di Piala Dunia 2026 berakhir lebih cepat dari yang diperkirakan. Kekalahan dramatis dari Paraguay pada babak 32 besar tak hanya menghentikan langkah Der Panzer, tetapi juga memunculkan evaluasi keras dari dalam tim sendiri.

Kapten Jerman, Joshua Kimmich, menilai hasil tersebut bukan sekadar nasib buruk. Menurutnya, performa tim sepanjang turnamen memang tidak cukup baik untuk membawa mereka melangkah lebih jauh.

Dalam pertandingan yang berlangsung di Stadion Boston, Amerika Serikat, Selasa (30/6/2026) dini hari WIB, Jerman bermain imbang 1-1 selama 120 menit sebelum akhirnya kalah 3-4 melalui adu penalti.

Hasil itu memastikan Paraguay melaju ke babak 16 besar dan akan menghadapi pemenang duel Prancis melawan Swedia.

Bagi Jerman, kegagalan ini memperpanjang periode sulit mereka di ajang sepak bola paling bergengsi dunia. Setelah dua kali tersingkir pada fase grup di edisi 2018 dan 2022, harapan untuk bangkit pada Piala Dunia 2026 kembali pupus lebih awal.

Padahal, langkah Der Panzer sempat terlihat menjanjikan saat fase grup dimulai. Mereka membuka turnamen dengan kemenangan telak 7-1 atas Curaçao, kemudian mengamankan tiga poin saat mengalahkan Pantai Gading dengan skor 2-1.

Namun, performa mereka mulai menurun setelah takluk 1-2 dari Ekuador pada laga terakhir penyisihan grup. Tren tersebut berlanjut di fase gugur ketika Paraguay mampu meredam permainan Jerman hingga akhirnya memenangkan adu penalti.

Seusai pertandingan, Kimmich tidak mencari kambing hitam. Ia justru menyampaikan kritik tajam terhadap performa timnya sendiri.

“Ini perasaan yang mengerikan. Kami tidak bermain dengan baik melawan lawan mana pun,” ujar Kimmich kepada awak media setelah pertandingan.

Ia menilai Jerman sudah beberapa kali mengalami kesulitan menghadapi lawan yang secara tradisional tidak termasuk kekuatan utama sepak bola dunia.

“Dalam tiga pertandingan kami menghadapi masalah besar melawan tim-tim yang bukan kelas dunia. Itu adalah kenyataannya,” katanya.

Menurut gelandang senior tersebut, hasil akhir turnamen mencerminkan kualitas permainan yang ditampilkan tim sepanjang kompetisi.

“Ya, kami memang pantas tersingkir dari Piala Dunia,” tegasnya.

Pernyataan itu menjadi gambaran bagaimana para pemain Jerman melihat kegagalan mereka secara objektif.

Alih-alih menyalahkan faktor eksternal, Kimmich menilai seluruh skuad harus berani menerima kenyataan bahwa performa mereka belum memenuhi standar yang selama ini melekat pada sepak bola Jerman.

Dalam wawancara lain yang dikutip jaringan Sky Deutschland, Kimmich mengungkapkan rasa kecewanya karena generasi saat ini belum mampu menghadirkan kebanggaan yang dulu selalu dirasakan publik Jerman setiap kali Piala Dunia digelar.

“Saya ingat ketika masih kecil menonton Jerman di televisi. Saat itu kami hampir selalu bermain di semifinal atau final,” ujarnya.

Ia mengatakan generasi sekarang seharusnya mampu memberikan pengalaman serupa kepada para pendukung, terutama anak-anak yang baru mengenal sepak bola melalui tim nasional.

“Tentu saja kami ingin memberikan perasaan itu kepada anak-anak, masyarakat, dan semua orang di rumah. Namun kenyataannya kami tidak mampu melakukannya,” ucap Kimmich.

Lebih jauh, pemain berusia 31 tahun itu menegaskan seluruh pemain wajib bertanggung jawab atas hasil buruk tersebut.

“Ini sangat disayangkan. Kami semua bertanggung jawab atas apa yang terjadi.”

Kimmich bahkan secara tegas menolak menyalahkan pelatih, perangkat pertandingan, media, maupun lawan. Menurutnya, penyebab utama kegagalan berasal dari penampilan para pemain sendiri di atas lapangan.

“Kami harus bertanggung jawab. Tidak ada yang bisa menghindarinya. Kami para pemain yang berada di lapangan telah merusak segalanya. Bukan pelatih, bukan media, bukan wasit, dan bukan lawan. Hanya kami sendiri,” katanya.

Sikap terbuka Kimmich mendapat perhatian karena mencerminkan budaya evaluasi yang selama ini identik dengan sepak bola Jerman.

Meski hasil di Piala Dunia 2026 mengecewakan, pengakuan tersebut sekaligus menjadi sinyal bahwa pembenahan akan menjadi agenda utama menjelang kompetisi internasional berikutnya.

Sementara itu, Paraguay menjadi salah satu tim yang paling mencuri perhatian di fase gugur. Berhasil menyingkirkan salah satu raksasa sepak bola dunia memberikan suntikan kepercayaan diri besar bagi mereka sebelum menghadapi lawan berikutnya di babak 16 besar.

Bagi Jerman, kegagalan kali ini menjadi pengingat bahwa reputasi besar dan sejarah panjang tidak selalu menjamin kesuksesan di panggung dunia.

Konsistensi permainan, efektivitas di momen-momen krusial, serta kemampuan menghadapi tekanan tetap menjadi faktor penentu yang harus segera diperbaiki jika ingin kembali bersaing memperebutkan gelar pada turnamen mendatang.